
Repelita New Delhi - Parlemen India kembali memanas menyusul kritik tajam dari pihak oposisi terhadap sikap pemerintah terkait konflik di Timur Tengah yang dipicu oleh pidato provokatif anggota parlemen dari Samajwadi Party Anand Bhadauria dan diperkuat oleh pernyataan resmi Partai Kongres.
Pada Rabu 11 Maret 2026 Lok Sabha menyaksikan debat sengit seputar mosi tidak percaya terhadap Ketua Dewan Om Birla yang memicu adu argumen antara blok I.N.D.I.A. dan bangku pemerintah.
Dalam kesempatan itu Anand Bhadauria anggota parlemen dari Dhaurahra menyampaikan pidato yang memuji mendiang Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei dan menuduh pemerintah India tunduk pada tekanan Amerika Serikat dan Israel.
Pidato tersebut memicu adu argumen sengit antara blok I.N.D.I.A. dan bangku pemerintah yang berujung pada beberapa kali penundaan sidang.
Menyusul insiden itu Partai Kongres secara resmi mempertanyakan apa yang mereka sebut sebagai keraguan PM Modi dalam mengkritik pembunuhan Ayatollah Khamenei melalui kritik tajam dari Jairam Ramesh.
Jairam Ramesh Kepala Komunikasi Kongres melalui platform X menyerang sikap pemerintah yang dianggap tidak netral dengan mengatakan bahwa Ayatollah Khamenei kepala negara konstitusional di Iran dibunuh pada 28 Februari 2026 oleh AS dan Israel namun PM bungkam.
"PM bungkam. Menteri Luar Negeri bungkam. Parlemen bahkan belum membuat ucapan resmi bela sungkawa," tulis Jairam Ramesh dalam unggahannya.
Lebih lanjut Ramesh membandingkan sikap pemerintah saat ini dengan respons cepat mereka saat meninggalnya Presiden Iran Ebrahim Raisi pada 2024 dan mempertanyakan mengapa ada keragu-raguan sekarang.
"Seorang PM yang dikompromikan jelas ingin menghindari permusuhan dengan 'teman' Amerika dan Israel-nya," klaim Ramesh menuding keberpihakan Modi.
Ia juga menekankan bahwa India sebagai pemegang presidensi BRICS+ tahun ini seharusnya menunjukkan sikap yang jelas terhadap Iran salah satu anggotanya.
Komentar-komentar kritis ini muncul setelah Dewan Keamanan PBB mengadopsi Resolusi 2817 pada 11 Maret yang mengutuk serangan Iran terhadap negara-negara Teluk di mana India termasuk di antara 13 negara yang mendukung resolusi tersebut.
Sikap inilah yang dianggap oposisi sebagai bukti keberpihakan India sementara tetap diam terhadap aksi AS dan Israel yang memicu krisis.
Dalam sebuah tindakan solidaritas yang langka Majelis Legislatif Negara Bagian Punjab pada tanggal 6 Maret mengheningkan cipta selama beberapa menit untuk mengenang lebih dari 160 siswi yang kehilangan nyawa dalam serangan AS-Israel yang mematikan di Iran.
Majelis juga memberikan penghormatan kepada pemimpin tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei yang tewas dalam serangan AS-Israel pada tanggal 28 Februari.
Penghormatan tersebut diberikan pada awal sesi anggaran Majelis Punjab atas usulan MLA Sukhwinder Kumar Sukhi dari partai Aam Aadmi yang berkuasa.
"Saya mengutuk apa yang dilakukan pemerintah Trump, saya memberi penghormatan. Saya meminta Anda jika memungkinkan untuk memberi penghormatan kepada mereka," kata Sukhi di hadapan sidang.
Sejauh ini Punjab adalah satu-satunya negara bagian di India yang memberikan penghormatan kepada Khamenei dan para siswi Iran di dalam gedung legislatif negara bagian.
Langkah ini mendapat apresiasi luas dari pengguna media sosial di Timur Tengah yang memuji inisiatif tersebut dan komunitas Sikh pada khususnya.
Sementara itu oposisi terus mendesak pemerintah untuk mengadakan debat parlemen mengenai situasi di Asia Barat namun pemerintah dituduh menolak karena takut dengan konsekuensinya.
Partai Kongres menilai bahwa kebijakan luar negeri pemerintah sudah brutal terbuka dan mendorong India menuju kondisi tunduk pada tekanan asing.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok

