Repelita Tel Aviv - Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dalam konferensi pers pada Kamis malam 12 Maret 2026 mengungkap bahwa serangan Israel yang dilancarkan ke Iran telah menewaskan seorang ilmuwan nuklir senior negara itu dan melukai beberapa ilmuwan lainnya.
Selain mengumumkan tentang kematian seorang ilmuwan nuklir senior dalam konferensi pers semalam Netanyahu juga mengecam pemimpin tertinggi Iran yang baru Mojtaba Khamenei dengan menyebutnya sebagai boneka Garda Revolusi Iran yang bahkan tidak bisa muncul di depan publik.
Ia juga menyampaikan pesan kepada rakyat Iran dengan mengatakan bahwa momen untuk menempuh jalan baru menuju kebebasan semakin dekat dan Israel berdiri bersama mereka dalam upaya tersebut.
"Namun pada akhirnya, semuanya bergantung pada kalian. Itu ada di tangan kalian," ujarnya dikutip dari laman NDTV pada Jumat 13 Maret 2026.
Sementara itu pemimpin tertinggi Iran yang baru dan dikenal sangat tertutup pada Kamis berjanji akan terus melancarkan serangan terhadap negara-negara Arab di Teluk dan menegaskan akan memanfaatkan penutupan efektif jalur strategis Selat Hormuz sebagai alat tekanan terhadap Amerika Serikat dan Israel.
Pernyataan ini merupakan komentar publik pertamanya sejak ditunjuk menggantikan ayahnya yang tewas dalam serangan Israel pada 28 Februari 2026.
Dalam pernyataan yang dibacakan oleh pembawa berita televisi pemerintah ia bersumpah akan membalas kematian para korban perang termasuk korban dalam serangan terhadap sebuah sekolah yang menewaskan lebih dari 165 orang.
Pernyataan tersebut menunjukkan keinginan Iran untuk melanjutkan perang yang telah mengganggu pasokan energi global perjalanan internasional serta stabilitas relatif yang selama ini dinikmati negara-negara Arab di kawasan Teluk.
Serangan Iran yang terus-menerus terhadap jalur pelayaran dan infrastruktur energi di Teluk Persia sebelumnya juga telah mendorong harga minyak kembali melampaui 100 dolar per barel.
Serangan Amerika Serikat dan Israel memang telah memberikan pukulan berat terhadap kepemimpinan Iran kekuatan militernya serta program rudal balistiknya namun serangan tersebut belum berhasil menggulingkan pemerintahan Iran.
Hal ini beberapa kali disebut oleh Presiden AS Donald Trump sebagai salah satu tujuannya dalam melancarkan agresi terhadap Iran.
Iran kini berusaha menimbulkan tekanan ekonomi global yang cukup besar agar Amerika Serikat dan Israel menghentikan pemboman yang dimulai pada 28 Februari.
Serangan tersebut menewaskan pemimpin tertinggi Iran saat itu Ayatollah Ali Khamenei ayah dari Mojtaba serta istri Mojtaba dalam satu serangan terkoordinasi.
Di sisi lain Trump berjanji akan menyelesaikan tugas itu meskipun ia juga menyatakan bahwa Iran hampir hancur akibat serangan bertubi-tubi.
Dalam sebuah unggahan di media sosial pada Kamis ia mengatakan bahwa memastikan Iran tidak mengembangkan senjata nuklir merupakan prioritas yang lebih penting dibandingkan melonjaknya harga minyak dunia.
Konflik yang telah memasuki pekan ketiga ini terus berlanjut dengan intensitas tinggi tanpa tanda-tanda akan segera mereda dalam waktu dekat.
Dunia internasional terus memantau perkembangan situasi yang semakin kompleks dan berpotensi memicu krisis energi global yang lebih luas.
Masyarakat internasional berharap agar semua pihak dapat menahan diri untuk tidak melakukan eskalasi lebih lanjut yang dapat memicu bencana kemanusiaan yang lebih besar.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok

