Breaking Posts

-->
6/trending/recent

Hot Widget

-->
Type Here to Get Search Results !

Gelombang ke-53 "True Promise 4": Rudal Hipersonik Iran Hantam Pusat Komando Israel

Repelita Teheran - Dua pekan sudah konflik terbuka antara Iran dan koalisi Amerika Serikat-Israel berkecamuk dan memasuki hari ke-17 Korps Garda Revolusi Islam kembali melancarkan pukulan telak melalui gelombang serangan ke-53.

Sebagaimana dilaporkan Daily News Egypt pada Ahad 16 Maret 2026 IRGC mengumumkan keberhasilan gelombang serangan ke-53 dalam Operasi Janji Sejati 4 yang menargetkan sejumlah fasilitas militer strategis musuh.

IRGC menyatakan bahwa operasi tersebut menargetkan sejumlah fasilitas militer strategis yang menjadi pusat kekuatan Amerika Serikat dan Israel di kawasan.

Serangan itu secara khusus diarahkan ke pusat komando dan kendali regional rezim Zionis yang menjadi otak operasi militer Israel serta pusat manajemen front domestik Israel.

Target ini dipercaya mencakup fasilitas-fasilitas kunci yang selama ini menjadi otak operasi militer Israel di kawasan dan pusat pengambilan keputusan perang.

IRGC juga menargetkan pangkalan militer Amerika Serikat di kawasan Teluk yang digunakan sebagai basis serangan terhadap Iran.

Operasi pada Minggu itu melibatkan serangan gabungan yang menggunakan 10 rudal hipersonik Fattah dan Qadr serta sejumlah drone penghancur dalam serangan tersebut.

Penggunaan rudal hipersonik Fattah dalam gelombang ke-53 ini menegaskan lompatan teknologi militer Iran yang sangat signifikan.

Fattah adalah rudal berbahan bakar padat dengan kecepatan mencapai Mach 13-15 yang mampu bermanuver di luar atmosfer dan menghindari sistem pertahanan udara tercanggih sekalipun.

Kombinasinya dengan rudal Qadr yang dikenal memiliki jangkauan hingga 2.000 km dan akurasi tinggi menciptakan tantangan luar biasa bagi sistem pertahanan seperti Iron Dome Patriot atau David's Sling.

Iran telah mengembangkan rudal Kheibar Shekan dengan teknologi Maneuverable Reentry Vehicle yang memungkinkan perubahan jalur penerbangan di fase akhir.

Fattah membawa teknologi ini ke level yang lebih tinggi dengan kecepatan hipersonik yang membuat waktu reaksi pertahanan udara hampir nol.

Operasi ini menjadi bagian dari rangkaian serangan balasan Teheran dalam konflik yang terus meningkat tanpa henti.

Serangan ini bukan sekadar aksi militer biasa karena ia sarat muatan simbolis dan strategis dilakukan untuk mengenang para syuhada.

IRGC menyatakan bahwa gelombang serangan terbaru ini digelar untuk mengenang 84 martir dari kapal perusak Dena milik Angkatan Laut Republik Islam.

Kapal tersebut diserang torpedo oleh Angkatan Laut AS di lepas pantai Sri Lanka pada 4 Maret 2026 yang menewaskan puluhan awak kapal Iran.

IRGC kemudian menjadikan peristiwa itu sebagai simbol pengorbanan dalam operasi militernya untuk membalas darah para syuhada.

Insiden berdarah di Samudra Hindia itu menjadi salah satu pemicu eskalasi terbesar dalam konflik ini.

Sebuah kapal selam AS menenggelamkan kapal perang IRIS Dena yang baru saja selesai mengikuti latihan multilateral Milan Peace 2026 di India.

Korban jiwa mencapai 104 pelaut dengan 84 jenazah ditemukan terapung di perairan internasional dan dievakuasi oleh otoritas Sri Lanka.

Jenazah para pelaut ini baru saja dipulangkan ke Iran pada 12 Maret lalu dan serangan gelombang ke-53 menjadi bagian dari pembalasan atas tragedi tersebut.

Target utama operasi ini juga mencakup pasukan AS yang ditempatkan di pangkalan Al-Dhafra di Uni Emirat Arab yang menjadi sarang vital operasi militer AS.

Dalam serangan gelombang ke-53 IRGC mengklaim berhasil menghantam radar Patriot menara kendali dan instalasi pertahanan udara di pangkalan tersebut.

Sebelumnya pada gelombang ke-48 IRGC juga menghantam Galilea Golan dan Haifa di wilayah utara serta pangkalan udara Al-Udeid di Qatar.

IRGC menegaskan bahwa serangan-serangan yang berkelanjutan dan dahsyat terhadap target pusat dan kepentingan AS dan Israel akan terus berlanjut tanpa henti.

Serangan ini akan terus dilancarkan sampai para agresor dipaksa untuk menyerah dan menghadapi hukuman atas kejahatan mereka.

Pernyataan tegas ini memperkuat narasi bahwa Iran tidak akan mundur selangkah pun dalam membela kedaulatan negaranya.

Dalam pesan psikologis yang dikirimkan ke warga Israel IRGC bahkan menyertakan teks berbahasa Ibrani yang menakutkan.

"Atas izin Tuhan, kami akan mendatangkan hari-hari kegelapan di mana kalian akan menginginkan kematian, tetapi kalian tidak akan menemukannya," demikian dikutip Ani News.

Serangan balasan gelombang ke-53 ini tidak bisa dilepaskan dari peristiwa traumatis yang terjadi pada 28 Februari 2026.

Amerika Serikat dan rezim Zionis melancarkan kampanye militer skala besar tanpa provokasi terhadap Iran menyusul pembunuhan Pemimpin Revolusi Islam Ayatollah Sayyid Ali Khamenei.

Serangan tersebut juga menewaskan beberapa komandan militer senior dan warga sipil pada tanggal 28 Februari 2026 lalu.

Sebagai tanggapan Angkatan Bersenjata Iran telah melakukan operasi pembalasan menargetkan posisi Amerika dan Israel di wilayah pendudukan.

Mereka juga menyerang pangkalan-pangkalan regional dengan gelombang rudal dan drone yang terus berlanjut hingga hari ke-17.

Serangan gelombang ke-53 ini menunjukkan bahwa Iran mengadopsi strategi perang attrisi atau perang gesekan untuk menguras musuh.

Dengan meluncurkan puluhan gelombang serangan secara terus-menerus Teheran ingin menguras stok rudal pencegat lawan yang semakin menipis.

Seperti dilaporkan sebelumnya stok rudal pencegat Patriot AS dan Arrow milik Israel berada di titik kritis akibat intensitas serangan.

Untuk menembak jatuh satu rudal balistik Iran sering dibutuhkan dua hingga tiga rudal pencegat yang sangat mahal.

Dengan Iran yang diperkirakan masih memiliki ribuan rudal sementara produksi rudal Patriot hanya 600 unit per tahun keunggulan mulai bergeser.

Di sisi lain tekanan psikologis terhadap warga sipil Israel dan AS semakin meningkat dengan laporan kepanikan massal di Tel Aviv.

IRGC dengan cerdik memanfaatkan situasi ini dengan mengirimkan pesan-pesan teror langsung ke ponsel warga Israel.

Mereka menciptakan hari-hari kegelapan yang mereka janjikan melalui pesan psikologis yang menakutkan.

Pertanyaannya kini berapa lama lagi AS dan Israel mampu bertahan menghadapi gempuran tanpa henti ini.

Jika serangan gelombang ke-53 ke-54 dan seterusnya terus dilancarkan dengan intensitas yang sama dan stok pencegat benar-benar habis maka skenario rudal Iran menghantam jantung kota-kota Israel bukan lagi sekadar ancaman melainkan keniscayaan.

Dunia internasional terus memantau perkembangan konflik yang semakin kompleks dan berpotensi memicu krisis kemanusiaan yang lebih luas.(*)

Editor: 91224 R-ID Elok

Baca Juga

Posting Komentar

0 Komentar
* Please Don't Spam Here. All the Comments are Reviewed by Admin.

Top Post Ad

-->

Below Post Ad

-->

Ads Bottom

-->
Copyright © 2023 - Repelita.net | All Right Reserved