Breaking Posts

-->
6/trending/recent

Hot Widget

-->
Type Here to Get Search Results !

Menlu Iran Ledek Payung Keamanan AS Penuh Lubang: Amerika Sekarang Mengemis Bantuan China Jaga Selat Hormuz

 

Repelita Teheran - Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi menyoroti kekurangan strategi keamanan AS di Timur Tengah dengan mengatakan bahwa strategi tersebut gagal menciptakan stabilitas dan malah mendorong ketegangan regional yang semakin memanas.

Dalam unggahan di akun X-nya pada hari Sabtu 14 Maret 2026 Araqchi mengecam apa yang disebut payung keamanan AS dengan menyatakan bahwa payung tersebut tidak efektif dan penuh dengan kerentanan yang membahayakan kawasan.

Ia juga menyerukan kepada negara-negara tetangga untuk memprioritaskan persatuan regional dan menyingkirkan agresor asing yang menimbulkan ancaman terhadap kedaulatan mereka.

“Payung keamanan AS yang digembar-gomborkan telah terbukti penuh dengan lubang dan malah mengundang masalah daripada mencegahnya. AS sekarang memohon kepada negara lain, bahkan China, untuk membantunya mengamankan Selat Hormuz,” kata menteri luar negeri Iran.

“Iran menyerukan kepada negara-negara tetangga yang bersaudara untuk mengusir agresor asing, terutama karena satu-satunya perhatian mereka adalah Israel,” tambah Araqchi menegaskan sikap Teheran.

Ketegangan yang sedang berlangsung di Timur Tengah telah meningkat secara dramatis menyusul perang agresi baru-baru ini yang dilakukan oleh Amerika Serikat dan rezim Israel terhadap Iran.

Situasi semakin genting di sekitar koridor maritim vital Selat Hormuz yang menjadi jalur transit utama minyak dunia.

Jalur air strategis ini yang berfungsi sebagai jalur vital untuk sebagian besar pasokan minyak dunia telah menjadi titik fokus dalam krisis yang meningkat di kawasan tersebut.

Dalam tulisannya di Truth Social pada hari Sabtu Presiden AS Donald Trump mengatakan bahwa negara-negara terutama yang terkena dampak upaya Iran untuk menutup Selat Hormuz akan mengirimkan kapal perang.

Trump menyebut China, Prancis, Jepang, Korea Selatan, dan Inggris sebagai negara-negara yang diharapkan akan berkontribusi bersama Amerika Serikat untuk menjaga Selat tetap terbuka dan aman.

Beberapa jam kemudian juru bicara Kedutaan Besar Tiongkok di Washington D.C. mengatakan kepada CNN bahwa Tiongkok menginginkan penghentian permusuhan segera.

Tiongkok juga menegaskan bahwa semua pihak memiliki tanggung jawab untuk memastikan pasokan energi yang stabil dan tidak terhambat di tengah konflik.

Dalam sebuah pernyataan Kedutaan Besar Tiongkok mengatakan bahwa sebagai teman yang tulus dan mitra strategis negara-negara Timur Tengah, Tiongkok akan terus memperkuat komunikasi dengan pihak-pihak terkait.

Termasuk pihak-pihak yang terlibat dalam konflik Tiongkok akan memainkan peran konstruktif untuk de-eskalasi dan pemulihan perdamaian di kawasan.

AS dan rezim Zionis melancarkan kampanye militer skala besar tanpa provokasi terhadap Iran setelah pembunuhan Pemimpin Revolusi Islam Ayatollah Seyed Ali Khamenei.

Pembunuhan tersebut juga menewaskan beberapa komandan militer senior dan warga sipil pada 28 Februari 2026 dalam serangan yang mengejutkan dunia.

Serangan tersebut melibatkan serangan udara yang luas di lokasi militer dan sipil di seluruh Iran menyebabkan banyak korban dan kerusakan infrastruktur yang meluas.

Sebagai tanggapan Angkatan Bersenjata Iran telah melakukan operasi pembalasan menargetkan posisi Amerika dan Israel di wilayah pendudukan.

Iran juga melancarkan serangan ke pangkalan regional dengan gelombang rudal dan drone yang terus berlanjut hingga hari ke-16 konflik.

Serangan balasan Iran telah menimbulkan kerusakan signifikan pada aset-aset militer AS di kawasan Teluk dan memicu kekhawatiran akan meluasnya konflik.

Dunia internasional terus memantau perkembangan situasi yang semakin kompleks dan berpotensi memicu krisis energi global yang lebih luas.

Para analis memperingatkan bahwa konflik ini dapat berlangsung lama dan menguras sumber daya kedua belah pihak.

Iran dengan strategi perang attrition terus menguras kekuatan militer AS dan Israel dengan biaya yang sangat mahal.

Sementara AS dan Israel harus mengeluarkan miliaran dolar untuk rudal pencegat setiap kali Iran meluncurkan serangan.

Ketidakseimbangan biaya ini menjadi faktor penting dalam konflik berkepanjangan yang tidak menguntungkan pihak penyerang.

Masyarakat internasional berharap agar semua pihak dapat menahan diri untuk tidak melakukan eskalasi lebih lanjut.

Namun dengan adanya saling serang yang terus berlanjut situasi semakin mengkhawatirkan dan sulit dikendalikan.(*)

Editor: 91224 R-ID Elok

Baca Juga

Posting Komentar

0 Komentar
* Please Don't Spam Here. All the Comments are Reviewed by Admin.

Top Post Ad

-->

Below Post Ad

-->

Ads Bottom

-->
Copyright © 2023 - Repelita.net | All Right Reserved