Breaking Posts

-->
6/trending/recent

Hot Widget

-->
Type Here to Get Search Results !

Hujan Rudal Iran Guncang Israel dan Pangkalan AS, Operasi True Promise 4 Masuki Gelombang ke-55

 

Repelita Teheran - Perang di Timur Tengah memasuki babak baru yang semakin mengerikan dengan diluncurkannya serangan rudal balistik dalam jumlah besar oleh Korps Garda Revolusi Islam.

IRGC kembali melancarkan rentetan rudal balistik dalam jumlah besar ke jantung wilayah Israel dan pangkalan-pangkalan militer Amerika Serikat di kawasan Teluk.

Dalam laporan yang ditulis media Yaman, Saba.ey, serangan gelombang ke-55 ini merupakan bagian dari Operasi Janji Sejati 4, sebuah pembalasan atas agresi besar-besaran yang dilancarkan AS dan Israel terhadap Iran sejak 28 Februari 2026 lalu.

IRGC mengumumkan pada hari Senin, 16 Maret 2026 bahwa mereka telah memulai gelombang serangan rudal ke-55 selama Operasi True Promise 4 sebagai bentuk pembalasan atas agresi musuh.

Serangan ini membawa nama sandi Ya Musa bin Ja'far dan menargetkan titik-titik strategis musuh di wilayah pendudukan dan pangkalan militer AS.

Tak tanggung-tanggung, Iran mengerahkan rudal tercanggihnya, termasuk rudal hipersonik Fattah yang disebut-sebut sulit dihadang sistem pertahanan udara lawan.

Sebuah pernyataan resmi menyebut target di jantung wilayah pendudukan di Tel Aviv dan Bandara Ben Gurion diserang dengan rudal presisi tinggi.

Serangan tersebut menyasar pusat produksi senjata militer kedirgantaraan serta fasilitas logistik pengisian bahan bakar udara yang menjadi tulang punggung operasi musuh.

Pasukan melancarkan serangan presisi menggunakan rudal Fattah superberat dan hipersonik yang mampu menembus pertahanan udara lawan.

Mereka juga mengerahkan rudal Qadr, Emad, serta drone bunuh diri dalam operasi gelombang ke-55 yang berlangsung selama beberapa jam.

Rudal Fattah menjadi sorotan utama dalam gelombang serangan kali ini karena kemampuannya yang sulit dihadang sistem pertahanan udara lawan.

Rudal hipersonik ini pertama kali diperkenalkan Iran pada Juni 2023 dan memiliki kecepatan hingga 15 Mach atau sekitar 18.500 km per jam.

Dengan jangkauan 1.400 kilometer, Fattah mampu mencapai target di seluruh Israel dan pangkalan AS di kawasan Teluk hanya dalam hitungan menit.

Yang lebih mengkhawatirkan bagi militer AS dan Israel adalah kehadiran Fattah-2, versi terbaru dari rudal hipersonik tersebut.

Fattah-2 dilengkapi dengan Hypersonic Glide Vehicle yang mampu bermanuver di atmosfer, membuatnya hampir mustahil dicegat oleh sistem pertahanan rudal konvensional.

Sebuah video yang viral pada awal Maret 2026 menunjukkan rudal Fattah diduga berhasil menghindari lebih dari 10 rudal pencegat sebelum akhirnya menghantam targetnya.

Selain Fattah, Republik Islam juga menggunakan rudal Sejjil berbahan bakar padat yang baru pertama kali dikerahkan dalam konflik ini.

Rudal Sejjil disebut lebih sulit terdeteksi radar karena menggunakan bahan bakar padat yang memungkinkan peluncuran lebih cepat dan manuver yang lebih lincah di udara.

IRGC mencatat telah menyerang pusat-pusat teroris tentara AS di sejumlah pangkalan militer yang tersebar di beberapa negara Teluk.

Serangan tersebut menargetkan pangkalan udara Al Dhafra di Uni Emirat Arab serta pangkalan angkatan laut Jufair dan pangkalan udara Sheikh Issa di Bahrain.

IRGC menggunakan rudal Fateh jarak menengah berbahan bakar padat dalam operasi itu untuk menghancurkan fasilitas musuh.

Mereka turut mengerahkan rudal Zolfaqar dan Dezful serta UAV pintar dan penghancur untuk memastikan target hancur total.

Pangkalan Udara Al Dhafra di Uni Emirat Arab menjadi salah satu target utama karena merupakan markas penting bagi angkatan udara AS di kawasan Teluk.

Menurut laporan media Rusia, Tass, serangan Republik Islam menghantam radar Patriot, menara kendali, dan instalasi pertahanan udara di pangkalan tersebut.

Di Bahrain, Pangkalan Udara Sheikh Isa juga menjadi sasaran rudal dan drone Teheran karena dikenal sebagai markas Armada Kelima AS.

Sementara itu di Kuwait, dua pangkalan utama AS yakni Pangkalan Udara Ali Al Salem dan Kamp Arifjan juga dihantam rudal dalam gelombang serangan kali ini.

Militer Republik Islam mengklaim bahwa lebih dari delapan puluh persen fasilitas penting di pangkalan-pangkalan tersebut berhasil dihancurkan.

Fasilitas yang hancur termasuk radar strategis dan pusat logistik yang menjadi urat nadi operasi militer AS di kawasan.

Klaim ini diperkuat dengan analisis citra satelit yang dirilis oleh berbagai media internasional dalam beberapa jam terakhir.

Foto-foto satelit menunjukkan kerusakan parah di sejumlah fasilitas militer AS di kawasan Teluk akibat serangan presisi Iran.

Di pihak Israel, sirene peringatan serangan udara dilaporkan berbunyi di lebih dari 141 lokasi, termasuk di Tel Aviv, Herzliya, dan wilayah utara.

Masyarakat Israel kembali berhamburan ke tempat perlindungan di tengah malam saat rudal rudal Iran menghujani wilayah mereka.

Namun, di balik klaim keberhasilan intersepsi, Israel menghadapi masalah serius terkait stok rudal pencegat yang menipis.

Seorang pejabat AS mengungkapkan bahwa Israel telah memberi tahu Washington bahwa stok rudal pencegat untuk sistem pertahanan udaranya berada pada level yang sangat kritis.

Pemerintah Israel bahkan telah menyetujui anggaran darurat sebesar sekitar 827 juta dolar untuk pembelian perlengkapan pertahanan tambahan.

Media Israel, CGTN News, melaporkan bahwa dalam beberapa hari terakhir, sejumlah rudal Teheran berhasil menembus pertahanan udara.

Rudal-rudal itu menghantam area pemukiman serta industri yang menyebabkan kerusakan dan korban jiwa.

Sebuah rudal dilaporkan menghantam gedung apartemen di Bnei Brak, dekat Tel Aviv, melukai beberapa warga sipil yang sedang beristirahat.

Yang menarik, klaim pejabat AS dan Israel tentang kehancuran kemampuan rudal Iran justru berbenturan dengan fakta di lapangan.

Gedung Putih pada akhir pekan lalu mengeluarkan pernyataan bahwa kemampuan rudal balistik Iran secara fungsional hancur.

Mereka juga mengklaim AS telah mencapai dominasi udara yang lengkap dan total atas Iran dalam perang ini.

Presiden Donald Trump juga mengatakan bahwa pasukan AS telah menghancurkan kapasitas manufaktur drone Iran dalam serangan beberapa waktu lalu.

Namun, serangan gelombang ke-55 ini membuktikan sebaliknya bahwa Iran masih memiliki kemampuan rudal yang memadai.

Iran masih mampu meluncurkan rudal dalam jumlah besar dengan teknologi yang semakin canggih dan sulit dihadang.

Memang benar, intensitas serangan Teheran mengalami penurunan dibandingkan hari-hari pertama perang yang sangat intensif.

Pentagon mencatat peluncuran rudal Iran turun 90 persen dari hari pertama pertempuran dan serangan drone turun 86 persen.

Tapi penurunan ini lebih disebabkan oleh strategi perang asimetris Iran, bukan karena kehabisan amunisi seperti diklaim AS.

Teheran diketahui memiliki salah satu persenjataan rudal terbesar di kawasan Timur Tengah, dengan ribuan rudal balistik dan jelajah yang siap diluncurkan.

Serangan Iran tidak hanya menyasar target militer, tetapi juga menyasar aset-aset strategis musuh di kawasan.

Pada Senin, 16 Maret 2026 malam, serangan rudal Iran menghantam sebuah mobil di Abu Dhabi, menewaskan satu warga sipil yang tidak bersalah.

Di Dubai, serangan drone Iran untuk sementara waktu menutup Bandara Internasional Dubai, pusat perjalanan udara utama dunia.

Di Irak, gelombang serangan drone dan roket menargetkan Kedutaan Besar AS di Baghdad yang merupakan simbol kehadiran Amerika.

Sebuah laporan Reuters menyebut ini sebagai serangan terbesar sejak perang dimulai, dengan setidaknya lima drone digunakan dalam operasi tersebut.

Sementara itu, Israel terus mengintensifkan serangannya ke wilayah Iran tanpa menunjukkan tanda-tanda akan berhenti.

Militer Israel mengklaim telah menyerang lebih dari 200 target di Iran barat dan tengah dalam 24 jam terakhir.

Target tersebut termasuk pusat komando militer, sistem pertahanan udara, serta lokasi produksi dan penyimpanan senjata strategis Iran.

Beirut juga kembali diguncang ledakan besar setelah Israel melancarkan serangan baru terhadap infrastruktur yang terkait dengan milisi Hizbullah.

Konflik ini juga memicu krisis energi global yang berdampak pada perekonomian dunia secara luas.

Iran terus memblokade Selat Hormuz, jalur air vital yang dilalui sekitar seperlima pasokan minyak dunia setiap harinya.

Akibatnya, harga minyak mentah Brent bertahan di atas 100 dolar per barel dan berpotensi terus naik.

Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi dalam pernyataannya di media sosial menegaskan bahwa Selat Hormuz terbuka bagi semua negara.

Pengecualian diberikan bagi Amerika Serikat, Israel, dan sekutunya yang dianggap sebagai musuh Iran.

Ia juga kembali membantah klaim bahwa Iran mencari negosiasi atau gencatan senjata, menyebutnya sebagai delusi belaka.

"Kami tidak mencari gencatan senjata maupun negosiasi," tegas Araghchi dalam pernyataan resminya.

Sementara itu, Presiden Prancis Emmanuel Macron dilaporkan melakukan percakapan telepon dengan Presiden Iran Masoud Pezeshkian pada Ahad lalu.

Mereka membahas situasi yang berkembang cepat di kawasan Timur Tengah yang semakin tidak terkendali.

Macron kemudian mengatakan bahwa eskalasi ini berisiko menyeret seluruh Timur Tengah ke dalam kekacauan dengan konsekuensi jangka panjang.

Stefan Wolff, profesor keamanan internasional dari University of Birmingham, memperingatkan bahwa pemerintah Eropa harus berhati-hati.

Mereka diminta agar tidak terseret ke dalam perang yang tidak memiliki dasar legal yang jelas menurut hukum internasional.

Menurutnya, perang yang dimulai AS dan Israel ini tidak memiliki dasar legal yang jelas dan cenderung melanggar hukum.

AS dan rezim Israel melancarkan kampanye militer skala besar tanpa provokasi terhadap Iran menyusul pembunuhan Pemimpin Revolusi Islam Ayatollah Sayyid Ali Khamenei.

Para komandan militer senior dan warga sipil juga menjadi korban dalam serangan yang terjadi pada 28 Februari 2026 tersebut.

Serangan-serangan itu melibatkan serangan udara besar-besaran terhadap lokasi militer dan sipil di seluruh Iran.

Akibatnya, banyak korban jiwa berjatuhan dan kerusakan infrastruktur yang meluas di berbagai kota Iran.

Sebagai tanggapan, Angkatan Bersenjata Iran telah melakukan operasi pembalasan secara bertahap namun terus menerus.

Mereka menargetkan posisi Amerika dan Israel di wilayah pendudukan dan di pangkalan-pangkalan regional dengan gelombang rudal dan drone.

Dengan gelombang ke-55 yang baru saja diluncurkan, tidak ada tanda-tanda konflik akan segera berakhir dalam waktu dekat.

Iran menunjukkan tekadnya untuk terus membalas setiap serangan yang dilancarkan Amerika dan Israel ke wilayahnya.

Sementara AS dan Israel berkomitmen untuk melanjutkan operasi militer hingga tujuan mereka tercapai di Timur Tengah.

Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi dalam wawancara dengan NBC News beberapa waktu lalu menyatakan bahwa Iran adalah bangsa besar.

"Kami tahu cara membela diri dan kami akan bertahan," katanya menegaskan komitmen Iran untuk melawan agresi.

Di kubu lawan, Menteri Pertahanan Israel Israel Katz mengatakan operasi akan berlanjut tanpa batas waktu sampai tujuan tercapai.

Dua pernyataan yang sama-sama keras ini menggambarkan situasi yang ada di Timur Tengah saat ini.

Timur Tengah kini berada dalam pusaran perang total yang durasinya tidak bisa diprediksi oleh siapapun.

Dampak dari perang ini akan terasa di seluruh dunia mengingat posisi strategis kawasan sebagai penghasil minyak utama.(*)

Editor: 91224 R-ID Elok


Baca Juga

Posting Komentar

0 Komentar
* Please Don't Spam Here. All the Comments are Reviewed by Admin.

Top Post Ad

-->

Below Post Ad

-->

Ads Bottom

-->
Copyright © 2023 - Repelita.net | All Right Reserved