Breaking Posts

-->
6/trending/recent

Hot Widget

-->
Type Here to Get Search Results !

Gelombang ke-57: Iran Hantam Pangkalan Al Udeid dan Jantung Israel, AS Mulai Putus Asa

Repelita Teheran - Perlawanan Iran terhadap agresi Amerika Serikat dan Israel tak menunjukkan tanda-tanda melunak meskipun perang telah memasuki hari ke-18.

Pada Senin malam, 16 Maret 2026, Korps Garda Revolusi Islam meluncurkan gelombang serangan ke-57 Operasi True Promise 4.

Kali ini, targetnya adalah jantung wilayah pendudukan Israel dan Pangkalan Udara Al Udeid di Qatar, markas militer terbesar AS di Timur Tengah.

Serangan ini dilakukan hanya beberapa jam setelah IRGC berhasil menghancurkan gudang amunisi Pangkalan Udara Al Dhafra di UEA dan hangar pesawat tempur di Pangkalan Udara Sheikh Isa, Bahrain.

Eskalasi ini membuktikan bahwa Iran tidak hanya mampu bertahan, tetapi juga terus menekan musuh di berbagai front secara simultan.

Disitat dari Tasnim News, pembalasan ini juga menargetkan aset-aset militer Amerika di wilayah pendudukan dan kawasan Teluk Persia sebagai bagian dari Operasi True Promise 4.

Menurut laporan, jantung wilayah pendudukan, termasuk infrastruktur komando, kendali, dan komunikasi Israel serta sistem pertahanan, telah menjadi sasaran rudal serang presisi.

Rudal yang digunakan antara lain Khaybar Shekan atau penghancur Khaybar dan juga rudal Emad dan Qadr yang memiliki akurasi tinggi.

Selain itu, IRGC menyatakan telah meluncurkan Zolfaqar, rudal jarak menengah presisi yang menggunakan bahan bakar padat dan cair.

Kemudian, rudal Qiam, serta menerbangkan drone bunuh diri pintar yang menargetkan pangkalan militer Al-Udeid, tempat pasukan Amerika ditempatkan.

Pangkalan Udara Al Udeid di Qatar bukanlah target sembarangan dalam serangan gelombang ke-57 ini.

Pangkalan ini berfungsi sebagai pusat komando utama Komando Pusat AS dan digunakan untuk mengoordinasikan serangan terhadap Iran dan sekutunya sepanjang perang.

Lebih dari 10.000 personel militer AS ditempatkan di pangkalan seluas 52 kilometer persegi ini, menjadikannya salah satu instalasi militer terpenting Amerika di kawasan Teluk.

Ini bukan kali pertama Al Udeid menjadi sasaran serangan Iran.

Pada 3 Maret 2026, dua rudal balistik Iran pernah ditembakkan ke pangkalan ini dengan hasil yang bervariasi.

Satu rudal berhasil diintersepsi, namun satu lainnya lolos dan menghantam area pangkalan.

Serangan kali ini dipastikan lebih masif, dengan kombinasi rudal Zolfaqar dan Qiam serta drone bunuh diri pintar yang dirancang untuk melumpuhkan sistem pertahanan udara.

Juru bicara IRGC dalam pernyataan resminya menegaskan bahwa serangan ini adalah bagian dari hak membela diri yang sah sesuai hukum internasional.

Serangan hanya menargetkan aset militer AS serta Israel, bukan infrastruktur sipil yang tidak berkaitan.

Dalam gelombang ke-57 ini, Iran kembali mengerahkan rudal-rudal andalannya yang telah terbukti ampuh menembus pertahanan musuh.

Kheibar Shekan, rudal balistik jarak menengah generasi terbaru Iran, memiliki jangkauan hingga 1.450 km dan mampu menghindari sistem pertahanan udara modern seperti Iron Dome milik Israel.

Rudal ini menggunakan material komposit ringan yang memungkinkan mobilitas tinggi dan kecepatan luar biasa saat meluncur.

Emad adalah rudal balistik jarak menengah berbahan bakar cair dengan jangkauan 1.700 km yang sangat mematikan.

Keunggulan utamanya adalah akurasi tinggi berkat sistem pemandu di fase terminal penerbangan.

Qadr, varian dari keluarga rudal Shahab, memiliki jangkauan hingga 1.950 km dan mampu membawa hulu ledak seberat 750 kilogram.

Zolfaqar, rudal jarak menengah berbahan bakar padat dengan jangkauan 700 hingga 750 km, dirancang untuk ditembakkan dari peluncur mobile.

Rudal ini efektif menghancurkan pangkalan udara musuh dan instalasi militer penting.

Qiam, rudal balistik jarak pendek dengan jangkauan 700 hingga 800 km yang terkenal karena kecepatan luncur dan ketepatan hantamannya.

Iran diketahui memiliki lebih dari 3.000 rudal balistik, menjadikannya kekuatan rudal terbesar dan paling beragam di Timur Tengah.

Sejak perang dimulai, IRGC melaporkan telah menembakkan sekitar 700 rudal dan 3.600 drone ke target Amerika dan Zionis Israel.

Pemerintah Iran dengan tegas membantah klaim Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang menyebut Teheran ingin bernegosiasi untuk mengakhiri perang.

Pernyataan itu disampaikan Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi dengan nada tegas.

Ia juga menepis laporan yang mengklaim bahwa pihaknya telah berupaya berkomunikasi dengan AS dalam beberapa hari terakhir.

Araghchi memastikan itu semua sebagai kebohongan belaka yang dibuat oleh pihak Amerika.

Ia menegaskan bahwa Iran tidak mempercayai janji-janji Trump berdasarkan pengalaman pahit sebelumnya.

Itu karena Trump telah memainkan permainan yang sama dan menyerang Teheran setidaknya dua kali di tengah negosiasi yang sedang berlangsung.

Dalam wawancara dengan CBS News pada 15 Maret 2026, Araghchi dengan tegas menyatakan sikap negaranya.

"Kami tidak pernah meminta gencatan senjata, dan kami bahkan tidak pernah meminta perundingan. Kami siap mempertahankan diri selama diperlukan," tandasnya.

Pejabat senior itu juga menolak penilaian bahwa konflik tersebut merupakan perang untuk bertahan hidup bagi Republik Islam.

Ia menegaskan bahwa negaranya masih dalam kondisi stabil dan cukup kuat untuk menghadapi serangan dari pihak luar.

"Kami bangga dengan perlawanan kami, dan kami akan terus membela tanah air kami dengan segenap kekuatan kami," katanya.

Araghchi juga membantah klaim sepihak AS yang menyebut Teheran telah berulang kali berupaya untuk menghubungi Washington.

"Seperti yang telah berulang kali kami nyatakan baru-baru ini dalam wawancara dengan CBS kemarin, kami belum menghubungi pemerintah AS atau meminta mereka untuk menghentikan perang," tuturnya.

Menurutnya, perang ini harus dikelola sedemikian rupa sehingga mencegah musuh untuk mempertimbangkan mengulangi perbuatannya.

"Penolakan kami untuk tidak menerima gencatan senjata bukan berarti kami menginginkan perang. Sebaliknya, itu karena perang ini harus berakhir dengan cara yang memastikan musuh kami tidak akan pernah lagi mempertimbangkan serangan dan agresi semacam itu," jelasnya.

"Saya percaya, mereka telah belajar dari kesalahan mereka sekarang. Mereka menyadari jenis negara yang mereka hadapi. Negara yang tidak ragu untuk membela diri dan siap untuk melanjutkan perang di manapun diperlukan," sambungnya.

Tak hanya itu, Araghchi justru menilai Amerika Serikat lah yang mulai tampak putus asa terhadap Selat Hormuz.

Terlebih setelah sejumlah negara telah menolak ketika Presiden AS Donald Trump meminta bantuan kapal perang mereka di Selat Hormuz.

"15 hari setelah perang dimulai mereka beralih ke negara-negara yang sebelumnya mereka anggap sebagai musuh. Meminta mereka untuk menjadi mediator agar Selat Hormuz dapat dibuka untuk kapal-kapal mereka," ujarnya.

Selat Hormuz memang menjadi senjata strategis Iran dalam konflik kali ini.

Jalur air sempit ini dilalui sekitar 20 persen pasokan minyak dunia atau setara 20 juta barel per hari, serta 20 persen pasokan gas alam cair global.

Sejak perang dimulai, Iran secara efektif menutup selat tersebut bagi kapal-kapal AS, Israel, dan sekutunya.

Dampaknya, harga minyak mentah Brent melonjak drastis hingga melampaui angka 150 dolar AS per barel.

International Monetary Fund memperingatkan bahwa blokade berkepanjangan dapat memangkas pertumbuhan produk domestik bruto global secara signifikan.

Meski Iran mengklaim membuka jalur bagi kapal-kapal negara yang meminta jaminan keamanan, kendali penuh tetap berada di tangan militer Iran.

Trump dilaporkan meminta bantuan koalisi internasional untuk membuka kembali jalur pelayaran tersebut, namun respons dari negara-negara sekutu disebut kurang memuaskan.

Disitat dari kanal YouTube Kompas, Presiden AS Donald Trump mengatakan dirinya telah menolak tawaran kesepakatan dari Teheran untuk melakukan negosiasi.

Penolakan itu disebabkan karena persyaratan dianggap tidak cukup baik untuk Amerika Serikat.

Menurutnya, persyaratan yang diberikan harus solid tanpa mengungkapkan secara detail persyaratan yang diajukan Republik Islam tersebut.

Pernyataan Trump ini kontras dengan klaim Araghchi yang menegaskan Iran sama sekali tidak menghubungi AS.

Yang jelas, hingga hari ke-18 perang, tidak ada kontak diplomatik resmi antara kedua negara.

Satu-satunya komunikasi yang terjadi adalah melalui saluran tidak resmi, seperti Swiss yang mewakili kepentingan AS di Teheran.

Di pihak lawan, Israel justru menunjukkan persiapan perang jangka panjang.

Juru bicara militer Israel Nadav Shoshani menyatakan bahwa pihaknya telah menyiapkan rencana operasional rinci untuk tiga minggu ke depan.

Rencana tersebut termasuk skenario lanjutan jika perang terus berlanjut.

"Kami ingin memastikan bahwa rezim ini selemah mungkin, dan bahwa kami melemahkan semua kemampuan mereka, semua bagian dan semua sayap lembaga keamanan mereka," kata Shoshani.

Israel disebut telah memobilisasi lebih dari 110.000 pasukan cadangan dan masih memiliki ribuan target yang akan diserang di dalam wilayah Iran.

Target operasi Israel mencakup infrastruktur rudal balistik, fasilitas nuklir, serta aparat keamanan Iran.

Sebagaimana diketahui, AS dan rezim Israel melancarkan serangan skala besar ke wilayah Kota Teheran pada 28 Februari 2026.

Serangan tersebut melibatkan serangan udara yang luas terhadap lokasi militer dan sipil, menyebabkan banyak korban jiwa dan kerusakan infrastruktur yang meluas.

Sebagai tanggapan, Angkatan Bersenjata Iran telah melakukan operasi pembalasan, menargetkan posisi Amerika dan Israel di wilayah pendudukan.

Serangan juga dilancarkan ke pangkalan-pangkalan regional dengan gelombang rudal dan drone yang terus menerus.

Dengan diluncurkannya gelombang ke-57 dan pernyataan-pernyataan keras dari kedua belah pihak, konflik ini masih jauh dari kata usai.

Iran menunjukkan ketahanan yang tak terduga, sementara AS dan Israel terus mengintensifkan serangan.

Yang jelas, Timur Tengah kini berada dalam pusaran perang total yang dampaknya meluas.

Dampaknya sudah terasa di seluruh dunia, dari lonjakan harga energi hingga kekhawatiran resesi global.

Sementara itu, Selat Hormuz tetap tertutup, rudal terus meluncur, dan perdamaian masih menjadi kata asing di kawasan yang dilanda konflik ini.(*)

Editor: 91224 R-ID Elok

Baca Juga

Posting Komentar

0 Komentar
* Please Don't Spam Here. All the Comments are Reviewed by Admin.

Top Post Ad

-->

Below Post Ad

-->

Ads Bottom

-->
Copyright © 2023 - Repelita.net | All Right Reserved