Repelita Jakarta - Utang Luar Negeri Indonesia pada triwulan keempat tahun dua ribu dua puluh lima mencapai empat ratus tiga puluh satu koma tujuh miliar dolar Amerika Serikat atau meningkat dari posisi triwulan ketiga yang sebesar empat ratus dua puluh tujuh koma enam miliar dolar Amerika Serikat.
Peningkatan tersebut terutama dipicu oleh bertambahnya utang luar negeri sektor publik khususnya pemerintah pusat.
Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi Bank Indonesia Ramdan Denny Prakoso menyatakan bahwa meskipun nominalnya naik komposisi utang luar negeri tetap terkendali dengan baik.
Rasio utang luar negeri terhadap Produk Domestik Bruto tercatat sebesar dua puluh sembilan koma sembilan persen dan mayoritas merupakan utang jangka panjang.
Menurut Ramdan kondisi ini menunjukkan penerapan prinsip kehati-hatian yang konsisten dalam pengelolaan utang luar negeri.
Utang luar negeri pemerintah pada triwulan keempat dua ribu dua puluh lima tercatat dua ratus empat belas koma tiga miliar dolar Amerika Serikat lebih tinggi dibandingkan dua ratus sepuluh koma satu miliar dolar Amerika Serikat pada triwulan sebelumnya.
Pemerintah menegaskan bahwa penarikan utang dilakukan secara bertahap dan terukur guna mendukung program prioritas nasional.
Pemanfaatan utang luar negeri diarahkan untuk membiayai kegiatan strategis yang menjaga keberlanjutan fiskal sekaligus memperkuat perekonomian nasional secara keseluruhan.
Sementara itu utang luar negeri sektor swasta justru mengalami penurunan menjadi seratus sembilan puluh dua koma delapan miliar dolar Amerika Serikat dari sebelumnya seratus sembilan puluh empat koma lima miliar dolar Amerika Serikat.
Penurunan ini terutama disebabkan oleh berkurangnya pinjaman perusahaan non-keuangan di periode tersebut.
Bank Indonesia bersama pemerintah berkomitmen memperkuat koordinasi pemantauan utang luar negeri agar tetap berfungsi sebagai pendukung pembangunan tanpa mengganggu stabilitas ekonomi nasional.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok

