
Repelita Moskow - Militer Rusia melancarkan serangan udara dengan skala besar ke sejumlah wilayah Ukraina pada Selasa, 17 Februari 2026, hanya dalam hitungan jam sebelum jadwal perundingan damai dimulai di kota Jenewa, Swiss.
Pasukan Kremlin dilaporkan menembakkan puluhan rudal dan ratusan drone yang secara sistematis menargetkan infrastruktur energi, fasilitas militer, serta jalur transportasi strategis yang tersebar di berbagai titik penjuru Ukraina.
Ledakan-ledakan dahsyat terdengar mengguncang wilayah Ivano-Frankivsk, tepatnya di kawasan Burshtyn yang menjadi lokasi pembangkit listrik tenaga batu bara utama milik negara Ukraina.
Beberapa kota besar turut menjadi sasaran gempuran, termasuk Kryvyi Rih yang merupakan kota kelahiran Presiden Volodymyr Zelensky, serta wilayah pelabuhan Odesa yang selama ini terus berada dalam tekanan bombardir harian pasukan Rusia.
Sebagai langkah antisipasi terhadap eskalasi yang terjadi, pihak North Atlantic Treaty Organization (NATO) bersama sekutunya Polandia langsung mengerahkan sejumlah pesawat tempur untuk memantau pergerakan serangan intensif yang dilancarkan Moskow.
Rusia dilaporkan mengerahkan armada pesawat pembom strategis Tu-95MS yang membawa rudal jelajah untuk menghantam target-target vital yang telah ditentukan sebelumnya dalam perencanaan operasi militer.
Di sisi lain, skuadron pesawat tempur F-16 yang terdiri dari pilot-pilot elit NATO dilaporkan melakukan patroli rahasia di wilayah udara Ukraina dengan menggunakan teknologi canggih Lockheed Martin Sniper untuk pemantauan.
Skala serangan yang berlangsung masif ini dinilai oleh berbagai kalangan pengamat internasional sebagai sinyal tegas bahwa Vladimir Putin belum menunjukkan keinginan untuk segera mengakhiri perang melalui jalur diplomasi.
Masyarakat internasional kini menanti apakah perundingan damai yang dijadwalkan tetap berlangsung di Jenewa akan membahas gencatan senjata di tengah meningkatnya intensitas serangan Rusia.
Belum ada pernyataan resmi dari pemerintah Ukraina maupun Rusia mengenai dampak terkini dari serangan tersebut serta kemungkinan kelanjutan agenda negosiasi perdamaian.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok

