Berita, Nasional

Yusril Bela Prabowo Soal Orang Kampung Tak Pakai Dolar Herwin Sudikta Sebut Warga Desa Tidak Bodoh

Repelita.net

24 May 2026 16:09 WIB • 676 view

Yusril Bela Prabowo Soal Orang Kampung Tak Pakai Dolar Herwin Sudikta Sebut Warga Desa Tidak Bodoh
Foto: Istimewa

Repelita Jakarta - Pembelaan resmi disampaikan oleh pihak jajaran kementerian guna meluruskan polemik digital yang tengah bergulir terkait dengan analogi keuangan pedesaan yang dilontarkan oleh kepala negara.

Menko Yusril Ihza Mahendra memberikan argumentasi normatif demi menjernihkan kesalahpahaman publik setelah pidato Presiden Prabowo Subianto di wilayah Jawa Timur menuai beragam komentar miring di jejaring sosial.

ADVERTISEMENT

Pihak pemerintah menilai adanya indikasi penggalan muatan pesan yang sengaja dieksploitasi secara keliru oleh oknum tertentu sehingga memicu sentimen negatif yang tidak sesuai dengan esensi forum tersebut.

“Kita harus paham apa yang dikatakan Pak Presiden kemarin waktu di Nganjuk. Wah, macam-macam pelintirannya di media sosial,” ujar Yusril, Minggu 24 Mei 2026.

Mantan akademisi hukum tata negara ini membantah keras anggapan miring yang menilai sang kepala negara tidak memiliki pemahaman yang komprehensif mengenai peta gejolak makroekonomi serta pergerakan kurs mata uang.

“Orang kampung kan gak pakai dolar, kata Pak Presiden. Terus diledekin di mana-mana,” katanya.

“Seolah-olah Pak Presiden tidak paham tentang soal. Beliau sangat paham. Sangat-sangat paham,” lanjut Yusril.

Dirinya meyakinkan bahwa kapasitas literasi serta rekam jejak intelektual yang dimiliki oleh mantan dan pimpinan militer tersebut sudah terbukti nyata melalui berbagai instrumen karya literatur ilmiah.

“Menulis buku ekonomi tebal-tebal begini. Masa tidak paham hal ini?," bebernya.

Langkah penggunaan diksi yang sederhana dalam peresmian lembaga ekonomi daerah itu murni merupakan bentuk penyesuaian gaya komunikasi personal agar pesan penguatan sektor kerakyatan dapat diserap secara inklusif.

"Tapi seorang Presiden harus bicara kepada rakyatnya. Di Nganjuk bicara sama orang kampung. Dan meresmikan kooperasi di Nganjuk itu,” jelasnya.

Dalam narasinya, ia turut merefleksikan tingginya ketergantungan struktur perdagangan domestik terhadap berbagai jenis barang fabrikasi luar negeri yang berpotensi melemahkan kedaulatan industri nasional.

“Semua kita tahu. Begitu banyak barang kita impor. Sampai peniti pun kita impor. Pacul kita impor,” Yusril menuturkan.

“Apa kita gak bisa bikin peniti, gak bisa bikin pacul yang benar aja? Ya kan?," tambahnya.

Kondisi ekosistem logistik yang didominasi oleh komoditas pengadaan eksternal tersebut dinilai menjadi faktor utama yang memicu kerentanan stabilitas pasar dalam negeri terhadap guncangan finansial global.

"Dan dibalik semua itu, barang impor. Dan barang impor ini, bisa menyusahkan kita juga,” imbuhnya.

Ia menambahkan bahwa dalam era keterbukaan jaringan niaga berbasis internet modern saat ini, dominasi sirkulasi perdagangan digital memang masih sangat terikat dengan instrumen moneter asing yang dominan.

“Dengan sistem perdagangan online, digital ekonomi, seperti sekarang. Dan segalanya itu ditentukan oleh mata uang yang paling kuat,” bebernya.

Meski demikian, dirinya memproyeksikan bahwa peta kekuatan finansial konvensional yang sempat menguasai ekosistem perdagangan pasca-perang besar masa lalu kini mulai bertransformasi seiring pergeseran poros geopolitik baru.

"Makanya, pelan-pelan sudah bergeser dari Amerika. Dolar menguat pada waktu Perang Dunia Kedua,” tukasnya.

Ia menegaskan pentingnya perubahan posisi strategis bagi segenap komponen bangsa agar tidak melulu terjebak dalam pusaran konsumsi melainkan mampu melompat menjadi pengendali utama ekosistem pasar global.

“Persoalannya, kapan kita akan menjadi pengendali. Bukan hanya menjadi konsumen dalam hal itu,” tandasnya.

Di lain sisi, narasi klarifikasi dan pembelaan yang disampaikan oleh pejabat kementerian tersebut langsung menuai respons kritis serta tanggapan bernada satire dari seorang aktivis media sosial.

Melalui saluran komunikasi daring, pegiat digital Herwin Sudikta melayangkan ekspresi keberatan terbuka karena menilai penuturan tersebut seolah menempatkan kapasitas berpikir masyarakat daerah pada level yang rendah.

"Kasian banget orang Ngajuk dianggep gak ngerti apa-apa sama Yusril,” ucap Herwin.

Dirinya menegaskan bahwa warga pedesaan di era keterbukaan informasi saat ini sudah memiliki tingkat kesadaran intelektual yang cukup matang dalam merespons dinamika perkembangan ekonomi modern.

"Kami memang orang kampung Yus, tapi gak sebodoh itu lah,” kuncinya.(*)

Editor: 91224 R-ID Elok

TAGS: #

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Advertisement

Top Articles

Statistik Pengunjung