Berita, Nasional

Yuddy Chrisnandi Ungkap Mutasi 88 Perwira Polri Terkait Pemetaan Loyalitas di Bawah Kapolri Baru

Repelita.net

05 October 2026 16:34 WIB • 149 view

Yuddy Chrisnandi Ungkap Mutasi 88 Perwira Polri Terkait Pemetaan Loyalitas di Bawah Kapolri Baru
Foto: Istimewa

Repelita Jakarta - Regenerasi kepemimpinan di dalam struktur Kepolisian Republik Indonesia belakangan ini menguak sejumlah informasi mendalam mengenai proses penunjukan pimpinan korps bhayangkara yang baru.

Langkah strategis kepala negara dalam memilih figur nomor satu di kepolisian tersebut melibatkan pencermatan yang matang dan memakan waktu cukup panjang.

ADVERTISEMENT

Perbincangan kritis mengenai peta transisi jabatan struktural tersebut ditayangkan melalui kanal YouTube forumkeadilanTV dalam program siniar Madilog Forum Keadilan.

Dalam tayangan digital tersebut sejarawan Indra J Piliang bertindak sebagai pemandu diskusi bersama narasumber mantan Menpan RB periode 2014-2016 Yuddy Chrisnandi.

Yuddy Chrisnandi memaparkan fakta mengenai proses pengusulan perwira tinggi berkat adanya pelimpahan berkas usulan dari kepemimpinan jenderal sebelumnya.

Dirinya menerangkan bahwa pada awalnya nama Komjen Suyudi Ario Seto memang sudah tercantum ke dalam daftar usulan jabatan resmi.

Akan tetapi sang perwira tinggi tersebut pada mulanya tidak ditempatkan sebagai pilihan utama di dalam jajaran kandidat pengganti.

Yuddy Chrisnandi membeberkan dinamika internal pengusulan nama trunojoyo dengan menyatakan "ada l nama bintang tiga lainnya yang diajukan oleh kapori sebelumnya memang ada nama Pak Suyudi tetapi bukan prioritas bagi" pada sesi dialog.

Proses pengolahan data rekam jejak para calon pemimpin kepolisian tersebut dilakukan secara intensif oleh lingkaran terdekat kepala negara.

Penilaian personel dibantu oleh pimpinan lembaga legislatif, menteri koordinator, menteri pertahanan, hingga jajaran sekretaris kabinet dan sekretaris negara.

Rangkaian penyaringan informasi administrasi tersebut ditujukan agar proses alih generasi kepemimpinan sipil dapat melahirkan figur terbaik.

Prosedur Constitusional yang berjalan sangat cepat pada tanggal 30 September malam dilaporkan sempat mengejutkan sang perwira terpilih.

Yuddy Chrisnandi menguraikan kronologi waktu dikeluarkannya surat presiden dengan memaparkan "jam .00 malam komjen Suyudi juga surprise itu baru dia ketahui kurang lebih jam malam pergantian 88 dan Pati" di hadapan pemirsa.

Kebijakan perombakan massal terhadap delapan puluh delapan posisi perwira menengah serta perwira tinggi merupakan arahan langsung presiden.

Kepala negara dilaporkan telah merekam dengan baik rekam jejak loyalitas serta profesionalisme dari para pembantunya di lapangan.

Kriteria utama pemilihan personel bertumpu pada integritas individu serta kebersihan diri dari rekam jejak pelanggaran kedinasan.

Yuddy Chrisnandi menjabarkan sistem pemetaan personel berbasis kesetiaan dengan berujar "ini itu aran presiden dia kan sudah merekam siapa teman-teman yang memberikan dukungan kepada dia yang setia pada dia yang" saat berdiskusi.

Apabila kuantitas personel terbaik dalam satu angkatan dirasa belum mencukupi pemetaan akan dialihkan ke angkatan atas maupun bawah.

Langkah presiden mengganti posisi menteri pertahanan sipil bukan didasari atas keinginan mempertahankan pimpinan lama sebagai warisan masa lalu.

Kebijakan tersebut murni diambil karena kepala negara ingin mencari figur pemimpin korps kepolisian yang jauh lebih berkualitas.

Yuddy Chrisnandi menegaskan alasan substantif di balik pergantian pucuk pimpinan dengan mengutarakan "rekam jejaknya baik siapa yang profesional di antara 200 temannya itu kalau masih kurang dari 200 ini ada angkatan di" pada lembar wawancara.

Masyarakat luas menganggap penunjukan kilat ini sebagai bentuk komitmen pembersihan total terhadap segala bentuk mafia birokrasi.

Yuddy Chrisnandi menambahkan argumentasi mengenai persepsi publik atas legasi kepemimpinan lama dengan menyatakan "atasnya atau di bawahnya bukannya Pak Prabowo mempertahankan sigit ya yang ee dianggap oleh sebagian besar masyarakat Indonesia merupakan legasi" untuk memperjelas situasi.

Proses penataan ulang organisasi bersenjata sipil ini diharapkan mampu memulihkan tingkat kepercayaan masyarakat terhadap penegakan hukum nasional.

Yuddy Chrisnandi menutup pemaparannya mengenai visi pembenahan internal korps bhayangkara dengan menegaskan "Pak Jokowi tapi Pak Prabowo ingin mencari seorang sosok kepala keposan Republik Indonesia yang lebih baik dari yang ada sekarang" di akhir tayangan.

Hingga kini proses evaluasi struktural terhadap jajaran kepemimpinan polda di seluruh wilayah tanah air dilaporkan masih terus berjalan.(*)

Editor: 91224 R-ID Elok


TAGS: #

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Advertisement

Top Articles

Statistik Pengunjung