Berita, Internasional

Yield Obligasi AS Menggila, Bank Sentral Dunia Mulai Buang Dolar dan Tinggalkan Treasury di Tengah Ancaman Krisis Global

Repelita.net

25 May 2026 15:25 WIB • 2,300 view

Yield Obligasi AS Menggila, Bank Sentral Dunia Mulai Buang Dolar dan Tinggalkan Treasury di Tengah Ancaman Krisis Global
Foto: Istimewa

Repelita Jakarta - Lonjakan tingkat pengembalian atau keuntungan investasi surat utang federal Amerika Serikat kembali mengguncang stabilitas sektor finansial jagat raya di sepanjang paruh kuartal kedua tahun ini.

Melambungnya angka keuntungan instrumen komoditas keuangan tersebut memicu gelombang pelepasan aset secara massal oleh para pemodal internasional termasuk otoritas perbankan tertinggi di berbagai belahan dunia akibat kecemasan inflasi domestik.

ADVERTISEMENT

Situasi makro ekonomi global kian dipicu ketegangan konflik bersenjata di wilayah Timur Tengah yang melibatkan Iran serta tumpukan utang luar negeri Washington yang terus membengkak secara tidak terkendali dari hari ke hari.

Dinamika fluktuasi pasar modal makro ini menjadi fokus perhatian utama para pelaku industri perbankan internasional karena memberikan dampak rembesan langsung terhadap fluktuasi nilai saham dan pelemahan mata uang negara-negara berkembang.

Berdasarkan kompilasi rilis lembaga keuangan internasional diketahui bahwa tingkat persentase pengembalian untuk instrumen surat utang pemerintah Amerika Serikat jangka waktu sepuluh tahun sempat menyentuh angka di atas level empat koma enam persen.

Sementara itu untuk durasi investasi jangka panjang tiga puluh tahun mencatatkan rekor tertingginya dalam kurun waktu beberapa dekade belakangan dengan menembus level psikologis lima persen bahkan menyentuh angka lima koma nol empat puluh enam persen.

Gejala penguatan tingkat keuntungan komoditas tersebut bertalian erat dengan laporan indeks harga konsumen atau tingkat inflasi Amerika Serikat per April yang melaju lebih cepat dari estimasi para pakar perbankan.

Kondisi struktural ini mematahkan ekspektasi awal para spekulan pasar bahwa otoritas perbankan federal atau Federal Reserve akan melonggarkan kebijakan moneter ketat mereka melalui penurunan suku bunga acuan dalam waktu dekat.

Analis Morgan Stanley Investment Management, Vishal Khanduja mengatakan kecepatan kenaikan yield Treasury saat ini sangat mengkhawatirkan karena memicu aksi jual paksa di pasar obligasi.

Badai pelepasan portofolio investasi diperparah oleh kepanikan korporasi asuransi serta lembaga pengelola real estate yang berbondong-bondong melakukan lindung nilai secara agresif untuk mengamankan modal inti mereka dari ancaman kerugian sistemik.

Tekanan teknis pasar obligasi juga dipicu oleh langkah pengetatan kuantitatif secara berkala yang dijalankan oleh The Fed dengan membiarkan aset sekuritas berbasis hipotek senilai puluhan miliar dolar jatuh tempo tanpa dibeli kembali.

Analis Simplify Asset Management Harley Bassman menyebut kebijakan QT membuat volatilitas pasar obligasi semakin tinggi karena investor kini harus menanggung risiko negative convexity secara langsung.

Dampak domino dari rapuhnya fondasi fiskal Amerika Serikat ini mulai memicu aksi nyata dari sekumpulan bank sentral dunia untuk memangkas porsi kepemilikan mereka atas surat berharga terbitan Washington tersebut.

Sebagai contoh otoritas moneter Beijing terpantau telah mengurangi porsi kepemilikan mereka sebesar enam persen sedangkan Tokyo selaku pemegang porsi sekuritas Amerika Serikat terbesar di bumi melepaskan puluhan miliar dolar aset dolar milik mereka.

Kepala Ekonom Asia HSBC Frederic Neumann mengatakan penurunan kepemilikan Treasury asing tidak mengejutkan mengingat volatilitas pasar meningkat sejak konflik di Timur Tengah memanas.

Menurut Neumann, tekanan terhadap nilai tukar dan risiko geopolitik membuat sejumlah bank sentral memilih mengurangi eksposur terhadap aset berbasis dolar AS.

Krisis kepercayaan global terhadap mata uang fiat terbitan Amerika Serikat ini secara tidak langsung ikut mendorong penguatan kampanye dedolarisasi di mana sejumlah otoritas moneter beralih memperbanyak porsi cadangan logam mulia emas.

Kecemasan para pelaku pasar dinilai sangat beralasan mengingat akumulasi beban utang nasional Washington saat ini tercatat telah menembus angka fantastis yakni berada di atas level tiga puluh sembilan triliun dolar.

Besarnya biaya operasional negara termasuk dana alokasi bantuan militer luar negeri berkonsekuensi pada membengkaknya beban pembayaran bunga pinjaman federal yang harus ditanggung oleh kas negara pada tahun berjalan.

Analis pasar Brien Lundin menilai The Fed kini berada dalam situasi sulit karena harus memilih antara menaikkan suku bunga untuk mengendalikan inflasi atau menopang pasar obligasi agar tidak semakin tertekan.

Menurut Lundin, kenaikan harga minyak akibat perang Iran meningkatkan risiko inflasi global. Namun, jika suku bunga kembali dinaikkan terlalu agresif, pasar obligasi AS justru berpotensi mengalami tekanan lebih besar.(*)

Editor: 91224 R-ID Elok

TAGS: #

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Advertisement

Top Articles

Statistik Pengunjung