Repelita Jakarta - Kritik mendalam diarahkan kepada kerangka berpikir perumusan kebijakan publik yang dinilai tidak memiliki basis riset ilmiah yang kokoh.
Pandangan kritis tersebut disiarkan secara luas lewat unggahan video dari kanal YouTube Trijaya pada hari Rabu, 23 September 2026.
ADVERTISEMENT
Direktur Eksekutif Lokataru, Ubedillah Badrun, memberikan sentilan tajam kepada Rocky Gerung yang belakangan dinilai publik condong memberikan pembelaan terhadap argumen penguasa.
"Saya sampai hari ini melihat yang ada itu adalah gado-gado kerangka berpikir bukan paradigma yang kokoh untuk mengagendakan kerja-kerja yang Bung Rocky disebut sebagai sosialisme misalnya," ujar Ubedillah Badrun.
Menurut Ubedillah Badrun, formulasi kebijakan strategis nasional saat ini condong tidak menggunakan paradigma melainkan murni atas dasar pemenuhan kepentingan aktor tertentu saja.
Ubedillah Badrun menilai ada kontradiksi nyata ketika pemerintah di satu sisi membuka keran kapitalisme pasar bebas namun di sisi lain memberikan bumbu program berbau kerakyatan.
"Bisa jadi sesungguhnya mereka enggak pakai paradigma untuk membuat kebijakan begitu karena basisnya bukan paradigma tapi dia berbasis pada interest pada kepentingan. Ada kepentingan apa di balik kebijakan MBG kan itu," kata Ubedillah Badrun menambahkan.
Dirinya kemudian mempertanyakan keabsahan metodologi ilmiah dari perumusan program Makan Bergizi Gratis atau MBG yang diusung oleh kabinet pemerintahan saat ini.
Berdasarkan data riset empiris dari Celios, pilihan utama masyarakat ketika diberikan stimulus bantuan oleh negara adalah dalam bentuk uang tunai langsung ke rekening.
Ubedillah Badrun memaparkan bahwa model penyaluran berbentuk makanan siap saji justru memiliki potensi kerugian anggaran yang masif akibat salah sasaran atau mubazir.
"Bahkan diakui oleh Menko Pangan Zulkifli Hasan ya kerugian negara itu per bulan 1 triliun MBG. Kejaksaan Agung menilai dalam 1 tahun tuh bisa 10 triliun korupsi dari MBG," tutur Ubedillah Badrun membeberkan data.
Dirinya menyebut bahwa besarnya celah kebocoran tersebut merupakan akibat nyata dari sebuah produk hukum yang lahir tanpa melalui proses kajian universitas yang matang.
Ubedillah Badrun juga tidak menyalahkan masyarakat apabila saat ini muncul anggapan bahwa posisi rekan akademisnya telah bergeser menjadi perpanjangan tangan istana.
"Sikapnya menimbulkan interpretasi publik kepada sikap Bung Rocky itu bahwa Bung Rocky berubah yang kemudian dikesankan ya wajah lain dari juru bicara presiden misalnya kan itu kesan di publik," ucap Ubedillah Badrun untuk menutup analisisnya.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok