Repelita Jakarta - Ternyata Indonesia tidak masuk dalam daftar prioritas negara yang mendapatkan izin khusus dari Iran untuk melintasi Selat Hormuz dengan bebas di tengah konflik yang sedang memanas.
Duta Besar Iran untuk Indonesia, Mohammad Boroujerdi, mengungkapkan bahwa hanya negara-negara tertentu yang dinilai sebagai sahabat utama Teheran yang mendapatkan akses istimewa tersebut.
ADVERTISEMENT
Rusia, Tiongkok, India, Pakistan, Irak, Malaysia, Thailand, dan Bangladesh menjadi negara-negara yang secara eksplisit disebutkan oleh pemerintah Iran sebagai pihak yang diizinkan melintas tanpa hambatan berarti.
Lantas, apa alasan utama mengabaikan Indonesia dari daftar prioritas ini?
Pemerintah Iran memiliki beberapa kriteria ketat yang harus dipenuhi oleh negara mana pun yang ingin kapal tankernya melintas dengan aman di Selat Hormuz.
Kriteria pertama adalah tidak bersekutu dengan pihak yang dianggap sebagai musuh Iran, yaitu Amerika Serikat dan Israel yang saat ini tengah berkonflik dengan Teheran.
Kedua, negara pemohon harus mematuhi protokol keamanan yang diberlakukan Iran selama masa konflik berlangsung.
Ketiga, negara tersebut harus menjalin hubungan diplomatik yang stabil dan baik dengan pemerintah Iran.
Keempat, negara pemohon harus aktif melakukan komunikasi serta koordinasi bilateral secara langsung dengan Iran.
Duta Besar Boroujerdi menjelaskan bahwa Indonesia secara geopolitik tidak secara eksplisit dinyatakan sebagai negara sahabat utama dalam konteks krisis Timur Tengah saat ini.
Selain itu, posisi Indonesia yang cenderung netral dan tidak secara terbuka mendukung Iran dalam konflik melawan AS dan Israel menjadi pertimbangan tersendiri bagi Teheran.
Faktor lainnya adalah bahwa akses Indonesia terhadap Selat Hormuz harus melalui jalur diplomasi terlebih dahulu, tidak serta-merta diberikan seperti halnya kepada negara sahabat inti Iran.
Situasi konflik yang dinamis dan terus berubah juga membuat izin lintas diberikan secara kasus per kasus, bukan dalam bentuk daftar tetap.
Hal ini terbukti ketika dua kapal tanker milik Pertamina sempat tertahan di kawasan tersebut, dan baru bisa melintas setelah Pemerintah Indonesia melakukan lobi intensif melalui Kementerian Luar Negeri serta Kedutaan Besar di Teheran.
Meskipun tidak masuk daftar prioritas, Boroujerdi menegaskan bahwa Iran tidak menganggap Indonesia sebagai pihak yang bermusuhan.
Komunikasi intelijen antara kedua negara disebutnya berjalan cukup positif, hanya saja akses Indonesia tidak otomatis seperti yang dinikmati oleh negara-negara sahabat utama Iran.
Dengan kata lain, untuk bisa melintasi Selat Hormuk dengan aman, Indonesia harus terus mengaktifkan jalur diplomasi bilateral dan memastikan kepatuhan terhadap protokol keamanan yang ditetapkan Teheran selama konflik berlangsung.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok