Repelita [Jakarta] - Sorotan publik atas penggunaan anggaran operasional pejabat negara kembali mencuat setelah penulis ternama Tere Liye memberikan pemaparannya.
Edukasi mengenai alokasi dana operasional pejabat tersebut disampaikan oleh Tere Liye melalui akun media sosial pribadinya.
ADVERTISEMENT
"Edukasi deh… Pejabat itu punya dana operasional. Diatur oleh UU." tulis Tere Liye mengawali unggahannya.
Dalam penjelasannya disebutkan bahwa Presiden mengantongi alokasi anggaran operasional hingga ratusan miliar rupiah per tahun.
"Berapa operasional Presiden? 140 miliar anggaran 2026. Wapres? Sekitar 50 miliar. Per tahun. Buanyak sekali loh ini duitnya. Dan bisa dihabiskan!" papar Tere Liye merinci.
Penggunaan dana jumbo tersebut dijelaskannya mencakup pelbagai kegiatan formal hingga bantuan langsung kepada masyarakat.
"Buat apa saja? Makan-makan boleh, gala dinner, resepsi, jamuan, suvenir, jalan-jalan juga boleh, nyebutnya perdin, bantuan sosial boleh. Ngasih sepeda, buku-buku, kaos, dll. Bisa dipakai. Presiden sebulan bisa 10 miliar lebih dana operasionalnya." jelasnya.
Tidak hanya di tingkat pusat, anggaran operasional kepala daerah seperti gubernur juga diatur berdasarkan Pendapatan Asli Daerah.
"Gubernur? Tergantung PAD-nya. Jawa Barat, Gubernur dapat 21 miliar per tahun. Alias nyaris 2 miliar per bulan. Sama, bisa dipakai buat perdin, ngasih hadiah, bansos, dan semua kegiatan apapun, termasuk pencitraan, boleh saja. Itu duit jelas bukan duit gubernur, melainkan duit rakyat. Tapi UU mengizinkan dia pakai." terang Tere Liye.
Fasilitas serupa juga melekat pada anggota dewan melalui alokasi dana aspirasi maupun dana reses di dapil masing-masing.
"Anggota DPR, dkk, punya dana aspirasi, dana reses, dkk. Juga bisa dipakai buat pencitraan, dll. UU memberikan ruang tsb. Tapi sekali lagi dicatat baik-baik: itu tuh bukan duit pribadi. Kamu nggak pencitraan? Alhamdulillah dong." pesannya.
Masyarakat diharapkan dapat menyikapi informasi tersebut secara bijak tanpa perlu bereaksi berlebihan.
"Jangan ngamuk-ngamuk dulu kamu. Ini tuh buat edukasi saja. Biar kalian tahu sih." imbau Tere Liye.
Penyampaian pemikiran tersebut turut dilengkapi penjelasan mengenai pemilihan ilustrasi visual yang digunakan dalam unggahannya.
"Nah, jika ngamuk gara-gara gambar postingan, well, saya comot saja yg muncul di layar HP saya. Pemanis saja. Tidak usah baper." lanjutnya.
Rangkaian pandangan tersebut ditutup dengan catatan kritis mengenai rekam jejak kepemimpinan figur publik di kawasan Jawa Barat.
"Tapi, jika kamu mau tetap baper, juga boleh kok. Saya itu Sejak 2007 tinggal di Bandung, kemudian Depok. Jika ada yg nanya ke saya soal kinerja walikota, gubernur, maka saya akan jawab: “Lihatlah Ridwan Kamil. Saat berkuasa, duuh, dikritik dikit saja pemujanya ngamuk sampai ke Mars. Saat Ridwan Kamil kalah, lantas masalah bermunculan, entahlah, pemujanya sdh asyik memuja2 yg lain. Nggak kapok2nya.” Wassalam." pungkas Tere Liye mengakhiri ulasannya.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok