Repelita Tel Aviv - Sempat ditutup-tutupi dari publik, kini media Israel mulai mengakui kondisi sebenarnya yang selama ini mungkin coba disembunyikan terkait dampak perang melawan Iran.
Tel Aviv yang merupakan jantung kota Israel dilaporkan mengalami banjir air limbah akibat serangan rudal Iran pada Senin (6/4/2026).
ADVERTISEMENT
Data yang berhasil dihimpun menyebutkan bahwa serangan tersebut menghantam infrastruktur vital di Tel Aviv, mengakibatkan luapan air kotor membanjiri jalanan kota.
Kondisi memprihatinkan ini persis seperti yang pernah dialami rakyat Gaza akibat serangan Israel beberapa tahun lalu.
Serangan Teheran dilaporkan menghantam sistem pembuangan air limbah (sewerage system) dan instalasi infrastruktur air lainnya, menyebabkan kerusakan pada jaringan pipa hingga air limbah meluap tak terkendali.
Situasi ini menciptakan fenomena yang disebut sebagai banjir limbah di beberapa area ibu kota Israel tersebut.
Selain banjir limbah, serangan Iran juga memicu kekhawatiran serius akan ketersediaan air bersih bagi penduduk setempat.
Selain Tel Aviv, kerusakan infrastruktur air juga dilaporkan terjadi di wilayah Bnei Brak yang tidak jauh dari pusat kota.
Tak hanya itu, saluran televisi terkemuka Israel, Channel 13, mengungkap bahwa Negeri Zionis tersebut mengalami keruntuhan di berbagai sektor sejak perang melawan Iran dan sekutunya pecah pada 28 Februari 2026.
Laporan yang menghebohkan publik Israel itu menyebut bahwa kondisi negara kini jauh dari kata baik, dengan semua lini dari medan perang hingga dapur ekonomi berada dalam tekanan yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Channel 13 dengan tegas menyatakan bahwa 'Rencana 6 bulan' yang digembar-gemborkan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu tidak lebih dari sekadar fiksi belaka.
Korban jiwa terus berjatuhan di pihak Israel, dengan data militer yang dirilis pada Senin (6/4) menunjukkan 11 tentara tewas dan 375 lainnya terluka sejak perang dimulai.
Militer Israel menyatakan bahwa 27 dari korban luka berada dalam kondisi serius, sementara 56 lainnya mengalami luka sedang.
Angka ini mengindikasikan bahwa intensitas pertempuran di berbagai front melawan Iran, Hizbullah di Lebanon, dan Houthi di Yaman sangatlah tinggi.
Laporan Channel 13 mengindikasikan bahwa militer Israel mulai menguras sumber daya secara ekstrem, dengan persediaan amunisi dan rudal pencegat yang mulai menipis.
"Kami tidak bisa terus seperti ini," ujar seorang sumber militer senior Israel yang enggan disebutkan namanya kepada Channel 13.
Salah satu sektor yang paling parah terdampak adalah penerbangan, di mana Channel 13 melaporkan penurunan hingga 80 persen.
Bandara Internasional Ben Gurion yang biasanya menjadi gerbang utama bagi wisatawan dan pebisnis internasional kini nyaris sepi.
Sebagian besar maskapai asing telah menghentikan sementara penerbangan ke Tel Aviv karena risiko keamanan yang tinggi.
Sistem layanan kesehatan Israel yang selama ini diakui sebagai salah satu yang terbaik di dunia kini berada di bawah tekanan luar biasa.
Rumah sakit-rumah sakit di wilayah utara dan pusat kewalahan menangani korban luka dari serangan roket dan rudal.
"Kami beroperasi di ruang bawah tanah dan tempat parkir yang dialihfungsikan menjadi ruang gawat darurat," kata seorang dokter di rumah sakit Rambam, Haifa.
Sektor energi Israel mulai goyah karena serangan rudal dari Iran dan Hizbullah yang menargetkan kilang minyak dan pembangkit listrik.
Laporan Channel 13 menyebut bahwa pemadaman listrik bergilir mulai diberlakukan di beberapa wilayah untuk menghemat energi.
Dampak perang juga telah memicu krisis sosial, dengan para guru di sejumlah kota besar Israel mulai melakukan mogok kerja.
Mereka menuntut jaminan keselamatan bagi siswa dan staf pengajar, sehingga banyak sekolah terpaksa ditutup atau beroperasi dengan kapasitas terbatas.
Layanan kereta ringan di sejumlah kota seperti Yerusalem dan Tel Aviv juga dihentikan operasinya karena kekurangan awak dan infrastruktur rel yang rawan serangan.
Kondisi paling mengkhawatirkan datang dari sektor fiskal, di mana Channel 13 menyebut bahwa ekonomi Israel kini menjadi "cangkang kosong" yang mengindikasikan aktivitas ekonomi riil hampir lumpuh total.
"Bantuan keuangan tidak mungkin diberikan," tulis Channel 13 merujuk pada ketidakmampuan pemerintah menyalurkan stimulus di tengah kondisi ini.
Anggaran negara untuk tahun 2026 dikabarkan gagal disahkan oleh Knesset, dengan perselisihan politik antara koalisi Netanyahu dan oposisi mencapai puncaknya.
Tanpa anggaran yang disahkan, berbagai program pemerintah terhenti dan pembayaran gaji pegawai negeri termasuk tentara dan polisi terancam terganggu.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok