Repelita [Jakarta] - Koordinator Lapangan BEM UI bidang Sospol, Muhammad Hafizh Hernanda, merespons keras tudingan yang menyebut aksi unjuk rasa mahasiswa pada Jumat, 12 Juni 2026, telah disusupi kepentingan pihak tertentu.
Pernyataan tersebut tercantum dalam diskusi Kompas Petang, Sabtu, 13 Juni 2026, menyikapi klaim Ketua Umum Gerakan Cinta Prabowo, H. Kurniawan.
ADVERTISEMENT
Kurniawan sebelumnya melontarkan dugaan adanya intervensi dari negara lain, seperti Singapura, yang merasa terganggunya kebijakan ekonomi pemerintahan Prabowo Subianto.
“Kalau memperbaiki sesuatu, itu bukan juga bim salabim, untuk menata negara yang sudah benar-benar hancur, lumpuh ya, secara ekonomi ini, kan ini terjadi bukan hanya sekarang?” ujar Kurniawan.
Kurniawan beralasan bahwa kebijakan satu pintu dalam impor serta langkah tegas terhadap mafia migas telah berdampak pada kepentingan asing.
Ia juga sempat meminta siswa memberikan ruang bagi pemerintah untuk bekerja sebelum melontarkan kritik keras.
“Justru saat ini Bapak Prabowo Subianto ini tengah memperbaiki, masih fokus memperbaiki kerusakan-kerusakan yang ada di negeri ini," tambahnya.
Menanganggapi narasi tersebut, Hafizh menilai tuduhan bahwa gerakan mahasiswa merupakan tunggangan pihak luar adalah hal yang sangat ofensif dan tidak berdasar.
Ia menegaskan bahwa seluruh tuntutan mahasiswa disusun secara akademis melalui proses yang panjang, mulai dari diskusi dengan ekonom hingga melibatkan pelaku usaha kecil.
"Itu sama sekali sebuah tuduhan yang sangat ofensif sebenarnya bila didengar," tutur Hafizh.
"Terutama tuntutan-tuntutan ini tuh semuanya berdasarkan apa yang diaspirasikan oleh rakyat. Perlu publik tahu bahwa kami menyusun tuntutan tersebut berdasarkan beberapa metode."
Ia memaparkan bahwa penjelajahannya telah melakukan Focus Group Discussion (FGD) dengan melibatkan berbagai elemen untuk menjamin objektivitas gerakan.
"Pertama, kami mengadakan FGD. Kami mengundang banyak sekali ekonom dari CELIOS, dari LPM, dan semuanya. Bahkan, kami juga mengundang aspek-aspek masyarakat seperti pelaku UMKM dan bisnis kecil."
Hafizh menantang pihak penuding untuk membuktikan klaim mereka dengan menunjukkan individu yang bukan-alih menyebarkan narasi samar.
“Ketika ada lontaran tuduhan seperti itu, itu sepertinya sebuah tuduhan yang tidak bisa ditanggungjawabkan,” jelasnya.
"Saya yakin, karena saya akan bertanya kembali kepada Bapak, coba sebutkan saja, jangan negaranya, tetapi individu yang quote-unquote sedang menunggangi gerakan kami."
Menurutnya, tudingan disusupi merupakan pola lama yang digunakan untuk mendelegitimasi perjuangan mahasiswa dalam menyuarakan aspirasi masyarakat luas.
"Sejujurnya saya lihat ini sebuah pola gitu, pola untuk mereduksi pergerakan kami. Karena saya lihat sendiri di berita Kompas bahwa polisi-polisi pun mengatakan bahwa aksi kemarin merupakan aksi yang dikooptasi, aksi yang ditunggangi, dan itu merupakan hal-hal yang sangat ofensif," tutup Hafizh.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok