Berita, Nasional

Teddy Terlalu Kuat!? Mahasiswa Mulai Bergerak, Connie Bakrie: Suara Rakyat Tak Didengar???

Repelita.net

08 November 2026 15:23 WIB • 156 view

Teddy Terlalu Kuat!? Mahasiswa Mulai Bergerak, Connie Bakrie: Suara Rakyat Tak Didengar???
Foto: Istimewa


Repelita Jakarta - Sorotan tajam mengenai besarnya pengaruh lingkar dalam kekuasaan Presiden Prabowo Subianto serta bangkitnya gelombang aksi mahasiswa menjadi topik utama yang dibedah pengamat pertahanan dan hubungan internasional Connie Rahakundini Bakrie.

ADVERTISEMENT

Pandangan blak-blakan tersebut disampaikan langsung oleh Connie Rahakundini Bakrie dalam tayangan podcast di kanal YouTube yang mengangkat judul Teddy Terlalu Kuat, Mahasiswa Mulai Bergerak, Connie Bakrie: Suara Rakyat Tak Didengar.

Dalam perbincangan yang mengulas dinamika politik nasional pada November 2026 itu, Connie membedah tiga persoalan krusial sebagaimana tergambar dalam sorotan utama diskusi tersebut.

Pertama, Connie menyoroti posisi Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya yang dinilainya terlalu kuat dan dominan di lingkungan terdalam kepresidenan hingga kerap dikeluhkan berbagai kalangan, termasuk ring satu istana.

Ia mengibaratkan sosok Teddy sebagai katup atau tutup botol yang menyumbat masuknya berbagai informasi penting dan aspirasi dari luar kepada kepala negara.

Connie bahkan menyebut pengaruh Teddy saat ini jauh melampaui lingkaran keluarga presiden sendiri dan menilai hal itu berisiko menjauhkan presiden dari realitas lapangan.

"Memang enggak ada lagi yang bisa mendekat kepada presiden seperti Teddy gitu," ungkap Connie Rahakundini Bakrie saat membandingkan besarnya akses terhadap presiden.

Ia pun menyarankan agar Teddy diberikan waktu libur untuk fokus menempuh pendidikan doktoralnya di Bandung sehingga ruang komunikasi presiden kembali terbuka bagi tokoh-tokoh berpengalaman seperti Sufmi Dasco Ahmad maupun Sjafrie Sjamsoeddin.

Kedua, Connie mengulas kebangkitan gerakan mahasiswa yang mulai kembali turun ke jalan menyuarakan keresahan setelah sekian lama dianggap bersikap apatis.

Menurutnya, pergerakan kalangan kampus tersebut merupakan gerakan organik yang lahir dari akumulasi kekecewaan terhadap tekanan ekonomi, pelemahan nilai tukar rupiah, keluarnya modal asing, serta pemborosan anggaran negara.

Ia menyinggung ketimpangan antara besarnya anggaran program Makan Bergizi Gratis (MBG) dengan nasib guru honorer bergaji minim sebagai salah satu pemicu meledaknya kemarahan publik.

Connie mengingatkan bahwa sejarah Indonesia pada tahun 1966, 1974, hingga 1998 membuktikan bahwa suara mahasiswa merupakan cerminan suara rakyat yang tidak boleh diremehkan maupun dilabeli ditunggangi pihak tertentu.

Ketiga, Connie mempertanyakan apakah pemerintah selama ini benar-benar mendengarkan suara rakyat dan kalangan akademisi atau justru lebih sibuk bersikap defensif serta melontarkan narasi pembantahan.

Ia mengaku pengalamannya sendiri saat menyampaikan masukan resmi secara tertulis kepada presiden pun tidak mendapatkan respons, sehingga ia memaklumi jika mahasiswa merasa aspirasi rakyat tak lagi didengar.

Connie mengingatkan bahwa apabila pemerintah terus menggunakan pendekatan komando satu arah tanpa empati serta menutup telinga dari keluhan masyarakat, eskalasi ketidakpuasan publik dapat memuncak seperti yang pernah terjadi di Nepal.

Menutup perbincangannya, Connie berpesan kepada para mahasiswa untuk terus menjaga kewarasan bernegara, tidak mudah dipecah belah, serta tetap berani menyuarakan kebenaran demi masa depan demokrasi Indonesia.(*)

Editor: 91224 R-ID Elok









TAGS: #

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Advertisement

Top Articles

Statistik Pengunjung