Berita, Nasional

Teddy Gusnaidi Minta Publik Abaikan Peringatan JK: Harga Stabil, Jangan Kebanyakan Nonton Film Horor

Repelita.net

29 March 2026 15:59 WIB • 1,006 view

Teddy Gusnaidi Minta Publik Abaikan Peringatan JK: Harga Stabil, Jangan Kebanyakan Nonton Film Horor
Foto: Istimewa

Repelita Jakarta - Pernyataan Wakil Presiden ke-10 dan 12 RI, Jusuf Kalla, yang mengungkapkan adanya indikasi krisis kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah di tengah tekanan ekonomi dan geopolitik global, mendapat respons tajam dari Partai Garuda.

Wakil Ketua Umum Partai Garuda, Teddy Gusnaidi, dengan tegas menyatakan bahwa pernyataan yang dilontarkan oleh tokoh asal Sulawesi Selatan yang akrab disapa JK tersebut sebaiknya diabaikan begitu saja oleh publik.

ADVERTISEMENT

"Abaikan saja ucapan JK, karena ucapan dan kenyataan tidak sama," ujar Teddy dalam pernyataannya yang dikutip pada Minggu (29/3/2026).

Meskipun berbagai kalangan menyebut Indonesia saat ini sedang dilanda krisis ekonomi yang cukup serius, Teddy justru memiliki pandangan yang berbeda dan cenderung optimistis.

"Saat ini di lapangan harga-harga stabil, keamanan kenyamanan stabil," tukasnya membantah kekhawatiran yang disampaikan oleh mantan wakil presiden dua periode tersebut.

Bahkan dengan nada sindiran, Teddy menuding bahwa JK terlalu berlebihan atau melebih-lebihkan kondisi dengan menyebut adanya krisis kepercayaan sebagai buntut dari ekonomi yang sedang anjlok.

"Mungkin Pak JK Kebanyakan nonton film horor," tudingnya disertai olok-olok terhadap seriusnya peringatan dini yang disampaikan JK.

Sebagai informasi, pernyataan JK mengenai tekanan ekonomi yang dihadapi Indonesia sebenarnya bukan sekadar opini tanpa data, melainkan mencerminkan sejumlah indikator makro yang mulai menunjukkan tanda-tanda mengkhawatirkan.

Mulai dari menurunnya kepercayaan para pelaku usaha hingga ruang fiskal negara yang kian terbatas menjadi dasar kekhawatiran tokoh senior tersebut.

Dalam wawancara yang dimuat oleh sebuah majalah nasional pada 24 Maret 2026, Jusuf Kalla menyampaikan secara blak-blakan bahwa kondisi ekonomi nasional telah memasuki fase yang patut diwaspadai semua pihak.

Ia menyinggung secara spesifik tentang melemahnya kepercayaan dunia usaha serta semakin sempitnya kemampuan fiskal pemerintah dalam merespons berbagai tekanan ekonomi yang datang bertubi-tubi.

Peringatan serupa ternyata bukan pertama kali disampaikan oleh JK, karena pada acara buka puasa bersama di Jakarta Selatan tanggal 6 Maret 2026 ia lebih dulu mengingatkan potensi dampak konflik global.

Ia menilai eskalasi ketegangan di Timur Tengah dapat berdampak langsung pada lonjakan harga energi yang pada akhirnya membebani Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara.

Kondisi tersebut, menurut JK, berpotensi membuat beban subsidi negara membengkak secara signifikan dan menekan ruang fiskal yang sudah terbatas.

Pandangan serupa kembali disampaikan JK dalam sebuah kesempatan lain pada 18 Maret 2026, di mana ia menilai pemerintah saat ini sedang menghadapi dilema fiskal yang tidak mudah.

Penerimaan negara dinilai sulit untuk ditingkatkan di tengah perlambatan ekonomi yang terjadi, sementara kebutuhan belanja negara tetap besar dan tidak bisa dikurangi secara drastis.

Menurut analisis JK, pemerintah saat ini hanya memiliki dua opsi kebijakan yang sama-sama berisiko, yaitu memangkas anggaran belanja atau justru menambah utang baru.

Kedua pilihan tersebut dianggap membawa konsekuensi ekonomi dan politik yang tidak ringan, baik untuk jangka pendek maupun panjang.

JK juga mengingatkan risiko besar ketika belanja negara tetap dipertahankan agresif di tengah tekanan global, sementara efektivitas program-program unggulan belum sepenuhnya teruji.

Dalam kondisi seperti ini, APBN dikhawatirkan berpotensi berubah menjadi sekadar alat distribusi beban semata, bukan sebagai instrumen pemulihan ekonomi yang sesungguhnya.

Selain aspek fiskal, JK juga menyoroti faktor kepercayaan pelaku usaha yang dinilai mulai tergerus oleh ketidakpastian kebijakan.

Baginya, ketika dunia usaha mulai ragu terhadap arah kebijakan pemerintah, dampaknya tidak selalu langsung terlihat pada data statistik ekonomi makro.

Efek keraguan tersebut bisa muncul dalam bentuk perlambatan investasi, penundaan rencana ekspansi bisnis, hingga menurunnya optimisme pasar secara perlahan.

Kondisi ini dinilai JK sebagai fase kritis yang sering luput dari perhatian karena krisis tidak selalu datang secara tiba-tiba, melainkan perlahan menggerus keyakinan dari waktu ke waktu. (*)

Editor: 91224 R-ID Elok

TAGS: #

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Advertisement

Top Articles

Statistik Pengunjung