Berita, Timur Tengah

Strategi Gagal Israel dan AS Picu Pemberontakan di Iran, Pemerintah Teheran Masih Utuh

Repelita.net

06 April 2026 19:02 WIB • 1,025 view

Strategi Gagal Israel dan AS Picu Pemberontakan di Iran, Pemerintah Teheran Masih Utuh
Foto: Istimewa

Repelita Jakarta - Kantor berita The New York Times melaporkan bagaimana Israel dan Amerika Serikat memulai perang terhadap Republik Islam Iran pada akhir Februari 2026 lalu meskipun saat itu masih berlangsung negosiasi antara AS dan Iran.

Ternyata rencana aksi negara zionis tersebut telah matang jauh hari sebelum pertempuran benar-benar pecah di kawasan Timur Tengah.

ADVERTISEMENT

Kepala dinas intelijen luar negeri Israel, Mossad, David Barnea, menemui Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dengan sebuah rencana untuk menggalang oposisi Iran.

Barnea mengatakan dinasnya kemungkinan besar akan mampu memicu kerusuhan dan tindakan pemberontakan lainnya yang dapat menyebabkan runtuhnya pemerintahan Iran.

Netanyahu pun menyetujui rencana tersebut dan Barnea kemudian menyampaikan proposal serupa kepada para pejabat senior pemerintahan Presiden AS Donald Trump saat kunjungan ke Washington pada pertengahan Januari 2026.

Meskipun ada keraguan di antara para pejabat senior Amerika dan beberapa pejabat di badan intelijen Israel lainnya, Netanyahu dan Trump tampak optimis dengan skenario tersebut.

Membunuh para pemimpin Iran di awal konflik yang diikuti oleh serangkaian operasi intelijen bertujuan mendorong perubahan rezim.

Menurut mereka, strategi itu dapat menyebabkan pemberontakan massal yang mungkin akan mengakhiri perang dengan cepat.

Hal tersebut kemudian tercermin dari pidato Trump saat awal perang ketika ia mengatakan kepada warga Iran untuk mengambil alih pemerintahan mereka.

Namun tiga pekan setelah perang dimulai, pemberontakan di Iran belum juga terwujud sebagaimana yang diharapkan.

Penilaian intelijen Amerika dan Israel menyimpulkan bahwa pemerintah Iran memang melemah, tetapi masih utuh dan tetap berkuasa.

Ketakutan yang meluas terhadap militer dan kepolisian Iran juga telah meredam prospek pemberontakan dari dalam negeri.

Keyakinan bahwa Israel dan AS dapat membantu memicu pemberontakan yang meluas dinilai sebagai kesalahan mendasar dalam persiapan perang.

Alih-alih runtuh dari dalam, pemerintah Iran justru memperkuat posisinya dan meningkatkan konflik di berbagai front.

The New York Times menulis bahwa laporan ini didasarkan pada wawancara dengan lebih dari sepuluh pejabat Amerika, Israel, dan pejabat asing lainnya yang sebagian besar berbicara secara anonim.

Sejak pidato pertama Trump, para pejabat Amerika sebagian besar telah berhenti berbicara secara terbuka tentang prospek pemberontakan di dalam Iran.

Netanyahu masih mengatakan kampanye udara Amerika dan Israel akan dibantu oleh pasukan di darat.

"Anda tidak bisa melakukan revolusi dari udara," kata Netanyahu dalam konferensi pers pada hari Kamis.

Ia menambahkan bahwa harus ada komponen darat juga karena ada banyak kemungkinan untuk komponen darat ini.

Netanyahu juga mengatakan masih terlalu dini untuk menyatakan apakah rakyat Iran akan memanfaatkan kondisi yang ada untuk turun ke jalan.

"Saya harap itu akan terjadi. Kita sedang berupaya ke arah itu, tetapi pada akhirnya, itu hanya akan bergantung pada mereka," ujarnya.

Namun di balik layar, Netanyahu mengungkapkan kekecewaannya karena janji-janji Mossad untuk memicu pemberontakan di Iran belum terwujud.

Dalam sebuah pertemuan keamanan beberapa hari setelah perang dimulai, ia menyesalkan operasi Mossad yang dinilainya belum membuahkan hasil.

Para pemimpin militer AS mengatakan kepada Trump bahwa warga Iran tidak akan turun ke jalan selama AS dan Israel menjatuhkan bom.

Para pejabat intelijen menilai kemungkinan pemberontakan massal sangat rendah dan meragukan bahwa serangan AS-Israel akan memicu perang saudara.

Gedung Putih tidak menanggapi permintaan komentar terkait laporan tersebut.

Mantan pejabat Departemen Luar Negeri dan Gedung Putih, Nate Swanson, mengatakan selama bertahun-tahun bekerja di bidang kebijakan Iran, ia belum pernah melihat rencana serius untuk memprovokasi pemberontakan di Iran.

Menurut dia, banyak demonstran yang tidak turun ke jalan karena takut ditembak aparat keamanan.

Trump tampaknya sampai pada kesimpulan yang sama dua pekan setelah perang dimulai.

Pada 12 Maret, ia mencatat bahwa Iran memiliki pasukan keamanan di jalanan yang menembak orang jika mereka ingin berdemonstrasi.

Meskipun banyak detail rencana Mossad masih dirahasiakan, salah satu elemennya termasuk dukungan invasi oleh kelompok milisi Kurdi Iran yang berbasis di Irak utara.

Mossad memiliki hubungan yang sudah lama dengan kelompok-kelompok Kurdi, dan para pejabat Amerika mengatakan baik CIA maupun Mossad telah memberikan senjata dan dukungan lain kepada pasukan Kurdi dalam beberapa tahun terakhir.

Selama hari-hari pertama perang, jet dan pesawat pengebom Israel membombardir target militer dan polisi Iran di barat laut Iran untuk membantu membuka jalan bagi pasukan Kurdi.

Namun para pejabat Amerika tidak lagi antusias dengan gagasan menggunakan Kurdi sebagai kekuatan proksi sejak jauh sebelum perang.

Seminggu setelah perang dimulai pada 7 Maret, Trump mengatakan ia telah secara eksplisit memerintahkan para pemimpin Kurdi untuk tidak mengirim milisi ke negara itu.

"Saya tidak ingin Kurdi masuk," katanya kepada wartawan.

Para pejabat Amerika yang diberi pengarahan tentang penilaian intelijen sebelum perang mengatakan bahwa CIA mengevaluasi berbagai kemungkinan perkembangan di dalam Iran.

Badan-badan intelijen menganggap keruntuhan total pemerintah Iran sebagai hasil yang relatif tidak mungkin terjadi.

Seorang juru bicara CIA menolak berkomentar, demikian pula Mossad dan IDF.

Pendahulu Barnea di Mossad, Yossi Cohen, memutuskan bahwa upaya untuk memicu pemberontakan di dalam Iran adalah buang-buang waktu.

Cohen memerintahkan agar sumber daya yang dialokasikan untuk masalah tersebut dikurangi seminimal mungkin selama masa jabatannya yang berakhir pada 2021.

Selama tahun lalu, seiring dengan meningkatnya kemungkinan aksi militer Israel terhadap Iran, Barnea membalikkan pendekatan Mossad.

Ia mengalokasikan sumber daya badan tersebut untuk rencana yang dapat mengarah pada penggulingan pemerintah di Teheran jika terjadi perang.

Setelah serangan dan pembunuhan di awal perang, pemberontakan tidak terjadi, namun para pejabat Israel mengatakan mereka belum menyerah.

"Saya pikir kita membutuhkan pasukan darat, tetapi mereka haruslah pasukan Iran," kata Yechiel Leiter, duta besar Israel untuk Amerika Serikat, di CNN pada hari Minggu.(*)

Editor: 91224 R-ID Elok

TAGS: #

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Advertisement

Top Articles

Statistik Pengunjung