Berita, Nasional

Skandal Asusila Kepala Sekolah Dan Guru Di Pekalongan Terbongkar Lewat Rekaman CCTV

Repelita.net

10 September 2026 15:23 WIB • 619 view

Skandal Asusila Kepala Sekolah Dan Guru Di Pekalongan Terbongkar Lewat Rekaman CCTV
Foto: Istimewa

Repelita Jakarta - Skandal asusila melibatkan oknum kepala sekolah dan seorang tenaga pendidik di sebuah institusi pendidikan dasar wilayah Kabupaten Pekalongan terbongkar.

Perilaku tidak senonoh sejoli tersebut terkuak berkat inisiatif warga serta komite sekolah yang sudah lama menaruh kecurigaan mendalam.

ADVERTISEMENT

Tokoh masyarakat setempat bernama Saim mengungkapkan bahwa gelagat menyimpang tersebut diduga telah berlangsung secara rutin pada hari-hari tertentu.

Aksi bejat itu disebut sudah menjadi kebiasaan terjadwal yang dilakukan setiap pertengahan dan menjelang akhir pekan secara berulang.

“Itu dilakukan bukan hanya sekali. Bahkan itu sudah menjadi kegiatan rutinitas yang dilakukan setiap hari Rabu dan hari Sabtu,” kata Saim pada hari Selasa tanggal 8 bulan September tahun 2026.

Sebelum bukti rekaman berhasil dikantongi, warga dan orang tua murid sempat berulang kali memergoki keduanya namun selalu disangkal.

“Nah, sempat... Iya, sempat kepergok dengan guru, sempat kepergok dengan wali murid, ketika ditegur itu mengelak,” ungkapnya.

Guna mematahkan bantahan tersebut, komite bersama warga sepakat memasang kamera pengawas secara sembunyi-sembunyi di area dalam ruangan.

Perangkat pengintai berharga murah itu dibeli dari hasil iuran swadaya guna mengumpulkan bukti otentik tindakan asusila mereka.

“Makanya dari komite sekolah ada inisiatif memasang CCTV itu untuk bisa mengambil bukti apa yang dilakukan keduanya,” ujarnya.

“Kalau inisiasi ya, warga kami,” lanjutnya.

Pemasangan alat pemantau dilakukan pada bulan Juli tahun 2026 sebelum masa pengenalan lingkungan satuan pendidikan dimulai.

Posisi kamera diletakkan pada bagian atap ruangan yang mengalami kerusakan agar keberadaannya luput dari pengamatan kedua pelaku.

“Di ruang guru itu ada atap yang jebol. Itu dimanfaatkan untuk menyisipkan CCTV di atasnya. Jadi yang di ruangan itu juga tidak mengetahui bahwa di atas itu ada CCTV,” jelasnya.

“CCTV tersebut, dibeli secara patungan dengan biaya sekitar Rp200 ribu,” ungkapnya.

Hasil pemantauan perangkat digital itu akhirnya berhasil merekam dua momen perbuatan tercela yang dilakukan oleh kedua oknum tersebut.

“Ya, dari hasil CCTV itu ditemukan dua rekaman berdasarkan kecurigaan komite sekolah. Akhirnya kan memantau setiap hari yang dicurigai. Nah, terjadilah saat itu. Ada kecurigaan, akhirnya dimonitor, ternyata terjadi,” ujar Saim.

Satu dari dua rekaman tersebut sempat beredar luas di dunia maya, sementara rekaman lain disimpan rapat sebagai barang bukti tambahan.

“Rekaman lebih vulgar telah diamankan, agar tidak tersebar,” imbuhnya.

Menindaklanjuti temuan memalukan ini, aliansi warga berencana mendatangi kantor pemerintahan daerah untuk menuntut pemberian sanksi berat.

“Tujuannya mendesak dinas terkait memberikan sanksi tegas terhadap pelaku, terhadap oknum kepala sekolah yang melakukan tindakan asusila di lingkungan sekolah,” ujar Saim.

Kecurigaan penduduk sekitar sejatinya telah bermula sejak bulan puasa ketika mendapati kendaraan roda dua masih terparkir hingga petang.

“Awal mula munculnya kecurigaan berawal dari kebiasaan sekolah yang seharusnya telah selesai pada siang atau sore hari, namun dalam beberapa kesempatan masih terlihat dua sepeda motor berada di lingkungan sekolah,” ucap salah seorang warga anonim.

“Pulang sore terus. Terus ada motor dua. Awalnya tidak curiga. Curiga-curiganya kok sering seperti itu dan pintu tertutup,” imbuhnya.

Bahkan anak-anak didik yang sedang bermain di halaman sekolah sempat merasa keheranan mendapati ruangan terkunci rapat pada waktu tidak biasa.

“Ada siswa tanya ke saya soal kepala sekolah dan guru tersebut sering berdua di sekolah sampai sore,” katanya.

“Pintunya tutupan. Saya penasaran, tak gedor-gedor,” tambahnya menirukan suara siswa.

Langkah pemasangan alat pengintai dinilai sangat penting demi menjaga marwah pendidikan serta melindungi kenyamanan para peserta didik.

“Warga juga menyekolahkan anak-anaknya di sini. Apalagi ada desas-desusnya seperti itu,” ujarnya.(*)

Editor: 91224 R-ID Elok

TAGS: #

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Advertisement

Top Articles

Statistik Pengunjung