Berita, Timur Tengah

Serangan Iran Kuras Stok Rudal Pencegat AS dan Israel, Jenderal Teheran Ancam Pintu Neraka

Repelita.net

06 April 2026 15:11 WIB • 1,065 view

Serangan Iran Kuras Stok Rudal Pencegat AS dan Israel, Jenderal Teheran Ancam Pintu Neraka
Foto: Istimewa

Repelita Abu Dhabi - Serangan masif yang dilancarkan Republik Islam Iran dikabarkan telah menguras stok senjata pencegat rudal milik Amerika Serikat dan Zionis Israel di kawasan Teluk.

Kementerian Pertahanan Uni Emirat Arab melaporkan bahwa Iran telah meluncurkan 23 rudal jelajah, 498 rudal balistik, dan 2.141 drone sejak perang dimulai pada 28 Februari 2026.

ADVERTISEMENT

Meskipun serangan berlangsung dengan intensitas tinggi, kota-kota besar seperti Abu Dhabi, Dubai, dan Sharjah diklaim tetap dalam kondisi relatif aman.

Tingkat korban jiwa dilaporkan minim karena sistem pertahanan udara berhasil mencegat sebagian besar ancaman yang datang.

UEA mengklaim bahwa sistem pertahanan udara modern mereka mampu mendeteksi dan menghancurkan target berkecepatan tinggi sebelum mencapai sasaran.

Teknologi ini juga menjadi perlindungan utama bagi berbagai kota strategis di Israel, seperti Givatayim, Tel Aviv, dan Eilat.

Pangkalan militer Amerika Serikat di kawasan Teluk juga bergantung pada sistem tersebut untuk menjaga keamanan operasi mereka.

Namun di balik keberhasilan intersepsi, persediaan rudal pencegat Amerika Serikat dan sekutunya dinilai semakin menipis akibat tekanan yang berkepanjangan.

Para ahli menilai rantai pasokan telah tertekan sejak perang di Ukraina, serangan kelompok Houthi, serta ketegangan sebelumnya dengan Republik Islam.

Direktur Proyek Pertahanan Rudal CSIS Tom Karako menyebut bahwa konflik dimulai dengan kekurangan stok yang sudah signifikan sebelumnya.

Menurutnya, kondisi tersebut semakin memburuk karena sistem pertahanan terus digunakan untuk mencegat serangan berulang tanpa jeda yang cukup.

Intensitas serangan Iran turut mempercepat berkurangnya persediaan rudal pencegat, sementara Teheran menyatakan kemampuan produksi rudal dan drone masih berjalan di tengah konflik.

Doktrin militer umumnya menerapkan pola tembak dua rudal untuk satu target sehingga kebutuhan amunisi meningkat lebih cepat dari perkiraan.

Amerika Serikat mengoordinasikan sistem pertahanan bersama Israel, Arab Saudi, dan negara teluk lainnya menggunakan sistem Patriot, THAAD, serta rudal standar berbasis kapal perang.

Analisis menunjukkan negara teluk menggunakan sebagian besar stok Patriot PAC-3, dengan laporan menyebut UEA dan Bahrain telah menggunakan lebih dari tiga perempat persediaan mereka.

Dua rudal balistik Teheran dilaporkan sempat menembus pertahanan dan menghantam area dekat fasilitas nuklir Israel.

Insiden di Abu Dhabi menunjukkan bahwa sisa pencegatan rudal juga berisiko menimbulkan korban jiwa di darat.

Penggunaan drone berbiaya rendah menambah tantangan besar dalam pertahanan udara karena drone dapat diproduksi dengan cepat, sementara rudal pencegat memerlukan biaya dan teknologi tinggi.

Pemerintah Amerika Serikat berupaya meningkatkan produksi melalui kebijakan baru setelah Presiden Donald Trump menandatangani perintah untuk mempercepat produksi industri pertahanan.

Namun peneliti menilai produksi rudal pencegat memerlukan komponen khusus dan teknologi kompleks yang tidak dapat dilakukan secara cepat seperti produksi amunisi konvensional.

Komandan Markas Besar Pusat Khatam-al Anbiya Iran, Jenderal Ali Abdollahi Aliabadi, memberi peringatan keras kepada AS dan sekutunya pada Sabtu malam (4/4/2026).

“Pintu neraka akan terbuka untuk kalian, jika infrastruktur Iran diserang," tegas jenderal tersebut sebagai balasan atas ancaman Trump.

Pejabat keamanan senior Iran itu juga mengatakan bahwa Teheran bergerak maju sesuai dengan rencana operasional yang tepat dan akan memberikan kejutan besar bagi AS dan rezim Zionis Israel.

Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) mengumumkan gelombang serangan skala besar baru yang menargetkan titik-titik berkumpul militer AS, sistem rudal Patriot, dan aset terkait Israel di seluruh Asia Barat pada Sabtu (4/4/2026).

Serangan yang merupakan bagian dari fase ke-95 Operasi True Promise 4 itu menggunakan rudal Haj Qassem, Khaybar-shekan, dan Qadr.

Target yang dihantam meliputi baterai artileri roket HIMARS AS di Pulau Bubiyan Kuwait, sistem rudal Patriot AS di Bahrain utara, serta lokasi komandan senior dan instruktur militer AS di Uni Emirat Arab.(*)

Editor: 91224 R-ID Elok

TAGS: #

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Advertisement

Top Articles

Statistik Pengunjung