Berita, Nasional

Sebut Spanduk Mahasiswa Sampah, Wakil Rektor UNY Tuai Kecaman Saat Aksi Penolakan Program Gizi di Kampus

Repelita.net

27 June 2026 19:37 WIB • 713 view

Sebut Spanduk Mahasiswa Sampah, Wakil Rektor UNY Tuai Kecaman Saat Aksi Penolakan Program Gizi di Kampus
Foto: Istimewa

Repelita [Jakarta] - Aksi unjuk rasa yang digelar Aliansi Mahasiswa Universitas Negeri Yogyakarta di gedung rektorat pada Rabu (24/6/2026) berakhir dengan adu argumen sengit antara mahasiswa dan Wakil Rektor Bidang Sumber Daya Manusia dan Hukum, Siswanto.

Ketegangan bermula saat sang pejabat universitas memperingatkan keras atribut spanduk yang membawa peserta aksi yang dianggap mengganggu kebersihan serta estetika lingkungan kampus.

ADVERTISEMENT

Spanduk tersebut memuat pesan penolakan mahasiswa terhadap rencana keberadaan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi di lingkungan perguruan tinggi.

Siswanto secara terbuka melabeli atribut aksi tersebut sebagai barang tidak berharga.

Sampah itu, Mas. Sampah, ujar Siswanto sambil menunjuk ke arah spanduk.

Pernyataan tersebut memicu reaksi balik dari mahasiswa yang merasa presisi dengan cara komunikasi pimpinan universitas tersebut.

Siswanto tetap pada pendiriannya dan kembali memberikan tanggapan yang cukup tajam.

Tanya aja sama teman-teman, itu bersih atau kotor. Kotor. Hanya orang yang mengatakan bersih itu tidak waras menurut saya, tegasnya.

Saat mahasiswa mendesakkan klarifikasi, ia kembali berargumen bahwa keberadaan spanduk itu memang tidak pantas diletakkan di area tersebut.

Kotor. Lihat, mengotori lantai, mengotori pemandangan. Enggak pantas untuk ditaruh di sini, ucapnya.

Di sisi lain, perwakilan Aliansi Mahasiswa, Andri, mengaku syok dengan sikap yang ditunjukkan oleh petinggi kampus tersebut.

Kami pikir itu ketika wisuda ada lebih banyak orang sehingga ketika kami melakukan aksi, pesan yang kami sampaikan bisa tersampaikan ke lebih banyak orang, ungkap Andri saat dihubungi pada Jumat (26/6/2026).

Para mahasiswa secara tegas menolak keterlibatan kampus dalam program gizi karena menganggap kebijakan perencanaan tersebut memiliki risiko tinggi.

Kampus seharusnya sebagai kekuatan moral, sebagai kontrol sosial dari kebijakan publik karena kampus itu dapat memuat para intelektual.

Ketika kampus tidak menjadi ruang kritik atau penghasil gagasan untuk menjaga kepentingan publik, yang ada kampus hanya menjadi batang penguasa untuk mendukung program-programnya, tambah Andri.

Menangapi tudingan tersebut, Siswanto menyatakan bahwa aksi tersebut dilakukan tanpa izin resmi dan mengganggu penayangan kegiatan wisuda yang sedang berlangsung.

Kemarin ada beberapa mahasiswa yang mau melakukan teatrikal di aula Rektorat tanpa izin, padahal aula Rektorat sedang banyak mahasiswa dan orang tua setelah wisuda.

Bahan teatrikal mengotori lantai dan ada tulisan tidak pantas, jelas Siswanto.

Ia juga menegaskan bahwa hingga saat ini UNY belum mengelola program tersebut dan menganggap para mahasiswa telah salah mengenai data lapangan.

Mereka menuduh UNY punya SPPG padahal sampai saat ini belum ada.

Foto mobil SPPG itu sedang mengantarkan MBG ke TPA UNY yang memang diberi MBG, tutupnya. (*)

Editor: 91224 R-ID Elok


TAGS: #

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Advertisement

Top Articles

Statistik Pengunjung