Repelita [Jakarta] - Sayembara yang digagas pakar hukum tata negara Denny Indrayana terkait pembuktian ijazah SMA atau sederajat Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka terus menjadi perbincangan publik.
Denny mengungkapkan bahwa nilai hadiah yang terkumpul dalam sayembara tersebut kini telah mendekati angka Rp3,5 miliar.
ADVERTISEMENT
"Hadiah sayembara menunjukkan ijazah SMA/sederajat Mas Gibran sudah mendekati Rp 3,5 miliar," ujar Denny dikutip Minggu (23/8/2026).
Selain mengungkap perkembangan nilai hadiah Denny mengaku telah melakukan upaya pencarian informasi terkait riwayat pendidikan Gibran ke luar negeri.
Ia telah mengirimkan surat elektronik kepada pihak Orchid Park Secondary School serta UTS College yang berlokasi di Sydney Australia.
"Saya juga telah mencari informasi dengan berkirim email ke Orchid Park Secondary School dan UTS College, Sydney. Apa jawaban mereka?," ucapnya.
Di tengah proses tersebut Denny menuturkan adanya gangguan terhadap fasilitas komunikasi yang digunakan untuk menerima komitmen dukungan.
"Nomor WA untuk menerima komitmen sumbangan sayembara Ijazah SMA/sederajat GIBRAN tiba-tiba tidak bisa diakses, dibajak oleh pihak-pihak yang tidak bertanggungjawab," sesalnya.
Ia menilai ada pihak-pihak tertentu yang sengaja mengganggu jalannya pergerakan tersebut.
"Ada pihak-pihak yang menganggu perjuangan ini. Kami sedang siapkan nomor WA baru."
Denny kemudian mengumumkan kontak pengganti guna memastikan saluran komunikasi sayembara tetap berjalan.
"Karena itu, kami mengumumkan nomor WhatsApp baru, 0858 1498 1837," tandasnya.
Di sisi lain konsultan pendidikan Ina Liem memberikan tanggapan kritis terhadap aksi sayembara yang diusung Denny.
Ina mengaku heran isu latar belakang pendidikan Gibran terus diulang padahal telah dibahas secara mendalam dalam karyanya.
"Kok diulang lagi ya, isu yang sama yang sebenarnya sudah saya jelaskan lengkap di buku Gibran Let The Game Begin," ujar Ina Liem.
Ina mempertanyakan pemahaman syarat minimal pendidikan sebagaimana yang tertuang dalam regulasi pemilihan.
"Kan Pak Denny sendiri bilang syarat cawapres menurut undang-undang adalah minimal SMA," ucapnya.
Ia menegaskan kualifikasi pendidikan yang lebih tinggi tentu memenuhi ketentuan syarat minimal.
"Kalau punya ijazah pendidikan yang lebih tinggi, boleh nggak? S1 itu lebih tinggi atau lebih rendah dari SMA," tukasnya.
Ia bahkan menyampaikan kritik terbuka atas status akademis Denny.
"Yang ngakunya dosen di Australia, masa gak paham arti kata minimal," kata Ina.
Sebagai respons lanjutan Ina melontarkan tantangan balik berupa sayembara tandingan berhadiah Rp100 juta.
"Sekalian saya ikut bikin sayemara deh. Siapa yang bisa membuktikan Gibran tidak punya ijazah S1 saya kasih Rp100 juta juga," tegasnya.
Ina turut meluruskan anggapan mengenai status lembaga pendidikan Insearch yang kerap disinggung publik.
"Yang lucu masih diulang lagi narasi bahwa Insearch itu cuma sekolah bahasa, referensinya Roy Suryo karena pernah ke sana," imbuhnya.
Ia menilai pengamatan dari luar gedung tidak dapat mengukur keabsahan institusi secara menyeluruh.
"Tapi hanya sampai di luar gedung kan, sementara saya justru dua kali diundang inset sendiri masuk dan mewawancarai dosen di sana," katanya. (*)
Editor: 91224 R-ID Elok