Repelita [Jakarta] - Pengamat ekonomi Muhammad Said Didu melalui akun X @msaid_didu pada 11 Mei 2026 memberikan peringatan keras terkait kondisi finansial negara yang diibaratkannya sebagai sebuah bisul yang siap meledak.
Ia mengungkapkan bahwa capaian angka pertumbuhan ekonomi pada kuartal pertama tahun ini sebesar 5,61 persen sebenarnya ditopang oleh faktor-faktor yang sangat berisiko bagi stabilitas jangka panjang.
ADVERTISEMENT
Said Didu merinci dalam cuitannya bahwa pemicu utama angka tersebut adalah 1) pertumbuhan belanja pemerintah sebesar 21,81 %. Sumber belanja tersebut berasal dari peningkatan utang sebesar Rp 282 trilyun dengan bunga sekitar 6 % per tahun.
Selain sektor belanja negara, ia juga menyoroti pola konsumsi masyarakat yang meningkat namun disinyalir bersumber dari beban pinjaman yang mencekik melalui platform digital atau pinjaman online.
Beliau memaparkan data bahwa 2) pertumbuhan konsumsi rumah tangga 5,52 % (kontribusi thdp pertumbuhan ekonomi 54,36 %). Sepertinya pertumbuhan ini bersumber dari pinjaman online. Selama triwulan I 2026, Pinjol meningkat sebesar 26,25 % menjadi Rp 101 trilyun dengan bunga yang sangat tinggi.
Mantan Sekretaris Kementerian BUMN tersebut menegaskan kekhawatirannya akan dampak akumulasi pinjaman ini terhadap kesehatan ekonomi nasional secara menyeluruh di masa mendatang.
Secara gamblang ia menuliskan sebuah peringatan serius yakni UTANG adalah bisul pertumbuhan ekonomi. Semoga bisul tersebut tidak makin membesar dan jangan sampai meledak.
Indikasi kerapuhan ekonomi ini menurutnya sudah terlihat jelas dari tren negatif di pasar keuangan seperti pelemahan nilai tukar mata uang serta penurunan harga saham secara kolektif.
Menanggapi hal tersebut, seorang netizen dengan akun @RkytJlata pada hari yang sama menyuarakan pandangan senada mengenai ketidakstabilan ekonomi yang dipaksakan melalui instrumen utang.
Akun @RkytJlata menyatakan bahwa perhitungan pertumbuhan ekonomi berdasarkan belanja pemerintah yg pembiayaannya sebahagian besar dari utang negara & pajak yg dipaksakan tidak bisa dijadikan sbg dasar utk mengatakan bahwa ekonomi Indonesia baik-baik saja.
Kritik dari berbagai pihak ini diharapkan menjadi bahan evaluasi bagi pemerintah agar lebih realistis dalam merumuskan solusi atas tantangan ekonomi yang sedang dihadapi bangsa saat ini.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok
Bisul Pertumbuhan Ekonomi 2026 :
— Muhammad Said Didu (@msaid_didu) May 11, 2026
Pertumbuhan ekonom triwulan I 2026 sebesar 5,61 % dipicu oleh :
1) pertumbuhan belanja pemerintah sebesar 21,81 %. Sumber belanja tersebut berasal dari peningkatan utang sebesar Rp 282 trilyun dengan bunga sekitar 6 % per tahun.
2) pertumbuhan… pic.twitter.com/DTyBCALDWA