Repelita Jakarta - Guru Besar FEB Universitas Indonesia Profesor Mohamad Ikhsan menegaskan status ekonomi Indonesia saat ini belum berada di dalam jurang kehancuran.
Namun dirinya memberikan peringatan keras bahwa ruang gerak atau pintu keluar bagi negara untuk menyelamatkan diri dari ancaman krisis finansial global kini terpantau semakin tertutup rapat.
ADVERTISEMENT
Kondisi kritis tersebut dipicu oleh munculnya berbagai indikator pelemahan fundamental ekonomi makro serta adanya pembiaran terhadap tata kelola keuangan negara yang tidak disiplin.
Sang ekonom senior menjelaskan bahwa ketahanan ekonomi nasional masih tertolong oleh ketersediaan cadangan devisa yang relatif aman serta sistem perbankan domestik yang jauh lebih kuat pasca reformasi terdahulu.
Akan tetapi ia mengingatkan jajaran elit pemerintah agar tidak bersikap abai lantaran datangnya sebuah guncangan ekonomi seringkali bersumber dari sudut-sudut sektor keuangan yang selama ini luput dari pengawasan.
Guna menjaga agar posisi keuangan negara tidak terus memburuk, ia mendesak perlunya komitmen nyata untuk melakukan perbaikan performa data fiskal secara transparan dan akuntabel.
Pemerintah juga diminta untuk meniru teladan kepemimpinan dari Presiden BJ Habibie dan Megawati Soekarnoputri dalam hal kepatuhan total pada aturan main demi menjaga martabat institusi penting negara.
Selain itu, keberhasilan transisi kekuasaan secara damai di masa silam dinilai menjadi modal sosial yang sangat besar untuk mempertahankan iklim stabilitas perekonomian dalam jangka panjang.
Profesor Mohamad Ikhsan menggarisbawahi bahwa sebuah bangsa bisa terperosok ke dalam jurang kemerosotan bukan karena ketidaktahuan atas masalah, melainkan akibat keengganan penguasa dalam mengakui kesalahan taktis di lapangan.
Oleh sebab itu, jajaran pengambil kebijakan saat ini ditantang untuk memiliki keberanian moral dalam menjalankan reformasi struktural secara utuh, konsisten, serta berani melakukan pengorbanan fiskal yang nyata.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok