Berita, Viral Sosmed

Petarung MMA Yudi Cahyadi Dilaporkan ke Polisi Buntut Dugaan Penganiayaan Konten Kreator Herri Pras

Repelita.net

03 November 2026 13:42 WIB • 112 view

Petarung MMA Yudi Cahyadi Dilaporkan ke Polisi Buntut Dugaan Penganiayaan Konten Kreator Herri Pras
Foto: Istimewa


Repelita Jakarta - Gelombang perselisihan di jagat maya kini merembet ke ranah hukum setelah adanya aksi pendatangan rumah yang berujung pada dugaan tindakan kekerasan fisik.

ADVERTISEMENT

Nama atlet tarung bebas nasional Yudi Cahyadi mendadak menjadi pusat perbincangan publik setelah dirinya terlibat perseteruan sengit dengan pembuat konten Herri Pras.

Sang jawara bela diri bersama kelompoknya dilaporkan mendatangi kediaman Herri Pras yang berlokasi di wilayah Gunung Putri, Kabupaten Bogor pada hari Senin tanggal 2 November 2026 malam.

Tindakan penyerbuan tersebut dilakukan sebagai bentuk jawaban langsung atas tantangan adu fisik ekstrem yang sebelumnya disebarkan oleh sang konten kreator di media sosial.

Ketegangan di area perumahan tersebut dipicu oleh pernyataan sang pembuat konten yang dinilai telah menjatuhkan kehormatan pemuka agama serta menantang duel terbuka.

Perselisihan bersenjata kata tersebut kini resmi bergulir di ranah kepolisian menyusul adanya berkas laporan yang diajukan oleh pihak korban ke Kepolisian Resor Bogor.

Yudi Cahyadi sendiri merupakan seorang petarung profesional yang dilahirkan di wilayah Sumedang, Jawa Barat pada tanggal 1 April 1992.

Olahragawan yang berasal dari Desa Trunamanggala, Kecamatan Cimalaka ini akrab dikenal di atas ring dengan sebutan Prabu Gagak Lumayung.

Sebelum meniti karier profesional di dunia tarung bebas, dirinya merupakan seorang atlet andalan pada cabang olahraga bela diri wushu sanda.

Potensi besarnya membuat sang atlet berhasil menembus jajaran pemusatan latihan nasional dan sempat dikirim untuk menimba ilmu olahraga tarung langsung di negara China.

Program latihan intensif di luar negeri tersebut merupakan bagian dari persiapan resmi kontingen negara dalam menyongsong perhelatan akbar Asian Games 2018 silam.

Selain disiplin wushu sanda, sang gladiator juga memiliki penguasaan mendalam atas berbagai rumpun seni mempertahankan diri tradisional hingga modern.

Ia tercatat mendalami pencak silat aliran maenpo, bokator muaythai, kickboxing, sambo, pertarungan bawah grappling, jiu-jitsu, hingga cabang olahraga gulat.

Di panggung olahraga internasional, dirinya sempat mengibarkan bendera merah putih dengan meraih medali perak pada ajang olahraga SEA Games Kamboja 2023.

Kiprahnya di dunia profesional semakin mentereng setelah bergabung dengan Bandung Fighting Club dan menjelma menjadi sosok dominan di panggung One Pride MMA.

Pada ajang One Pride 71 yang digelar awal tahun 2024, dirinya sukses mempertahankan takhta juara kelas bulu dengan menumbangkan rivalnya hanya dalam waktu 26 detik.

Ketangguhannya kembali terbukti pada tanggal 14 Juni 2025 di C-Tra Arena Bandung saat merebut sabuk interim kelas bulu setelah menang TKO atas Lamhot Tambunan.

Dalam perjalanan karier tarungnya, atlet asal Jawa Barat ini juga sempat mencicipi kekuatan dari petarung papan atas UFC asal Selandia Baru yakni Kai Kara-France.

Torehan tinta emas juga berhasil diukir oleh sang atlet pada pertengahan tahun 2026 sebagai perwakilan pertama dari tanah air yang menembus panggung Road to UFC.

Dalam ajang seleksi elit yang berlangsung pada tanggal 28 Mei 2026 di Galaxy Arena Makau tersebut, dirinya bertarung menghadapi perwakilan China yakni Xie Bin.

Walaupun harus menerima kekalahan TKO di ronde awal, kesempatan emas mencicipi arena internasional tersebut tetap menjadi kebanggaan besar bagi dunia bela diri domestik.

Namun kini sang atlet harus berhadapan dengan masalah hukum setelah aksi pelabrakan terhadap sang pembuat konten berujung pada laporan dugaan penganiayaan.

Pihak korban mengklaim bahwa dirinya diserang secara kolektif oleh kelompok rombongan yang datang menggunakan kendaraan beroda empat ke area rumahnya.

"Yang terjadi malah mereka menantang saya untuk duel, setelah saya memberikan jawaban bahwa saya tidak akan duel tanpa alasan yang kuat, terlebih saya memiliki alasan yang harus mereka penuhi untuk saya ladeni, dan akhirnya seseorang melakukan kekerasan menendang perut saya sampai terjatuh," kata Herri pada hari Selasa tanggal 3 November 2026.

Korban mengaku sempat berupaya menyelamatkan diri ke dalam bangunan rumah namun kelompok pendatang tersebut terus melakukan tindakan intimidasi di luar.

"Ketika saya bangun, kemudian dilakukan juga hal yang sama oleh YC memukul area perut hingga ulu hati saya, lalu saya mengunci pintu dan menelpon pihak kepolisian, tetapi mereka tetap menggedor-gedor pintu," ujarnya pada hari Selasa tanggal 3 November 2026.

Kasus yang awalnya ditangani oleh Kepolisian Sektor Gunung Putri ini akhirnya ditarik ke markas Kepolisian Resor Bogor demi penanganan yang lebih komprehensif.(*)

Editor: 91224 R-ID Elok









TAGS: #

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Advertisement

Top Articles

Statistik Pengunjung