Repelita Pyongyang - Di tengah eskalasi konflik yang memanas di Timur Tengah, Pemimpin Tertinggi Korea Utara, Kim Jong Un, secara mendadak mengeluarkan pernyataan keras yang dinilai sebagai tamparan telak terhadap strategi diplomasi yang selama ini dijalankan Amerika Serikat.
Dalam pernyataannya, Kim Jong Un dengan tegas menyatakan bahwa negaranya tidak akan pernah terpengaruh atau tertipu oleh rayuan manis dari Washington yang bertujuan untuk melucuti senjata nuklir Korea Utara.
ADVERTISEMENT
Bagi Kim, situasi konflik yang dialami Iran saat ini, dengan segala kehancuran dan ketegangan yang terjadi, merupakan bukti nyata dan paling valid bahwa tanpa senjata nuklir, sebuah negara akan terus menjadi bulan-bulanan bagi kekuatan militer Barat, terutama Amerika Serikat.
Pernyataan mengejutkan ini disampaikan dalam pidato penting di hadapan Majelis Rakyat Tertinggi Korea Utara, di mana Kim Jong Un secara terbuka menyebut bahwa situasi dunia saat ini, terutama perang yang melibatkan Iran, menjadi pembenaran mutlak atas kebijakan nuklir yang diambil Pyongyang selama ini.
Dalam pidatonya, Kim Jong Un menyatakan dengan lugas bahwa situasi terkini secara jelas membuktikan kebenaran sikap Korea Utara yang selama ini menolak tekanan serta berbagai bujukan manis dari Amerika Serikat.
Ia menilai bahwa negara-negara yang tidak memiliki tameng nuklir akan selalu berada dalam posisi yang sangat rentan terhadap potensi agresi militer yang dilancarkan oleh Amerika Serikat.
Sebaliknya, menurut Kim, senjata nuklir bagi Korea Utara kini bukan lagi sekadar alat pertahanan, melainkan telah menjadi identitas nasional yang tidak bisa diubah dan bersifat final.
Pernyataan keras dari pemimpin Korut ini muncul tepat pada saat adanya sinyal dari Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, yang ingin menghidupkan kembali dialog diplomasi yang telah mati suri sejak tahun 2019.
Namun, Kim Jong Un tampaknya telah kehilangan kepercayaan sepenuhnya terhadap berbagai janji ekonomi yang pernah ditawarkan oleh Washington, karena ia menganggap semua tawaran damai Amerika hanyalah sebuah skenario untuk melucuti kekuatan lawan.
Ia melihat skenario tersebut sebagai taktik yang pada akhirnya akan berujung pada kehancuran seperti yang ia saksikan terjadi di peta konflik Timur Tengah saat ini.
Kim menegaskan bahwa jika Amerika Serikat benar-benar ingin melakukan pembicaraan, maka Washington harus terlebih dahulu mengakui status Korea Utara sebagai kekuatan nuklir dunia dan menghentikan semua kebijakan yang dinilai bermusuhan terhadap Pyongyang.
Pernyataan yang disebut sebagai tamparan bagi diplomasi AS ini mengirimkan pesan dingin ke seluruh dunia bahwa Korea Utara tidak lagi melihat senjata nuklir sebagai alat tawar-menawar untuk mendapatkan bantuan pangan atau penghapusan sanksi ekonomi.
Bagi rezim Pyongyang, nuklir kini telah menjadi harga mati yang menjadi fondasi utama untuk memastikan kelangsungan hidup negara.
Dengan kata lain, selama ancaman dari Amerika Serikat masih terasa nyata, Pyongyang akan terus menambah koleksi hulu ledak nuklirnya tanpa memedulikan seberapa keras tekanan internasional yang datang.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok