Repelita [Jakarta] - Kasus pengamanan pengemudi ambulans yang membawa senjata tajam jenis golok di tengah unjuk rasa mahasiswa kawasan Thamrin mendapat perhatian khusus dari Gautama Wiranegara.
Ketua Majelis Pertimbangan Organisasi Serikat Buruh Sejahtera Indonesia 1992 tersebut mengimbau aparat untuk mengedepankan pola pengamanan yang terukur serta proporsional.
ADVERTISEMENT
Petugas kepolisian dinilai perlu menerapkan prosedur pemeriksaan secara persuasif, terutama saat berhadapan dengan armada pelayanan medis.
Langkah pengecekan kendaraan disarankan tetap dibarengi penyampaian informasi yang jelas tanpa langsung menyudutkan warga.
“Jelaskan apa yang dicurigai dan mengapa pemeriksaan diperlukan. Jangan langsung memperlakukan orang seperti pelaku kejahatan. Kecurigaan boleh, tetapi jangan sampai cara bertindak membuat masyarakat merasa dizalimi,” kata Gautama kepada wartawan, Jumat, 21 Agustus 2026.
Izin pengamanan dan penertiban massa aksi memang sepenuhnya menjadi tanggung jawab aparat di lapangan.
Kendati demikian, penggunaan wewenang tersebut diharapkan tetap menghormati prinsip kemanusiaan serta harkat martabat warga.
“Ambulans yang menjalankan fungsi kemanusiaan seharusnya diperlakukan dengan penuh kehati-hatian. Jangan karena berada di sekitar lokasi aksi kemudian seluruhnya dianggap sebagai bagian dari ancaman,” kata Gautama.
Seluruh elemen massa seperti mahasiswa maupun kelompok buruh yang hadir membawa misi solidaritas hendaknya tidak dipandang sebagai potensi gangguan.
Komunikasi awal dianjurkan agar tidak memicu prasangka serta kerancuan saat menjalankan pengamanan.
“Jangan sampai aparat lebih cepat mencurigai daripada berkomunikasi. Jangan sampai solidaritas kemanusiaan dibaca sebagai ancaman keamanan,” ujarnya.
Persoalan ini bukan sebatas kewenangan memeriksa armada darurat di area demonstrasi semata.
Ia menyoroti tata cara penggunaan kekuatan instrumen negara sewaktu berinteraksi langsung dengan warga.
“Ini bukan soal aparat boleh atau tidak memeriksa ambulans, tetapi soal bagaimana kekuasaan negara digunakan terhadap rakyat,” kata dia.
Pola pengamanan yang berlebihan dinilai dapat merenggangkan hubungan kepercayaan antara masyarakat dengan pihak kepolisian.
Evaluasi menyeluruh terhadap kinerja personel di lapangan dipandang perlu guna mencegah munculnya kendala intimidasi.
“Aparat harus tegas terhadap ancaman, bukan tegas terhadap masyarakat yang sedang menunjukkan solidaritas,” kata dia.
Penataan ketertiban umum dinilai harus berjalan selaras dengan pemberian jaminan rasa aman bagi warga.
“Tetapi demokrasi juga membutuhkan rasa aman bagi warga,” pungkas Gautama.
Polda Metro Jaya sebelumnya mengamankan seorang pengemudi ambulans beserta satu mahasiswa di kawasan Jalan MH Thamrin pada Selasa, 18 Agustus 2026.
Penangkapan dilakukan setelah petugas menemukan sebilah golok di dalam unit ambulans serta pisau dari tangan mahasiswa.
“Dalam proses pelaksanaan aksi, ada temuan oleh Satgas Gakkum, ditemukan satu buah bilah pisau yang dibawa oleh oknum berinisial AM, ini masih didalami. Yang satu lagi satu buah golok yang dibawa oleh supir ambulans,” kata Budi kepada wartawan di Jalan MH Thamrin, Jakarta Pusat, Selasa malam.
Temuan senjata tajam tersebut sangat disayangkan mengingat imbauan larangan telah disampaikan sebelumnya.
“Kami juga sudah meminta dan mengucapkan terima kasih pada saat pemberitahuan aksi sudah diterima oleh Polres Metro Jakarta Pusat. Benda-benda ini tidak boleh berada di area penyampaian pendapat di muka umum,” tuturnya.
Senjata tajam jenis golok tersebut didapati petugas di area samping bangku kemudi saat kendaraan melintas.
“Terkait golok ditemukan pada saat ada ambulansmelintasi dicurigai digeledah ternyata ada (golok) di sebelah kursi dari pengemudi ambulans. Nah tujuannya apa membawa golok menggunakan ambulans,” jelasnya.
Petugas kepolisian di lapangan juga sempat memberikan bantuan evakuasi medis bagi peserta aksi yang mengalami pingsan.
“Yang bersangkutan juga dibawa menggunakan ambulans ke Rumah Sakit Budha Asih, alhamdulillah kondisinya juga sudah sadar,” tuturnya.
Aparat mengonfirmasi bahwa jalannya penyampaian aspirasi secara keseluruhan berlangsung aman. (*)
Editor: 91224 R-ID Elok