Repelita Jakarta - Idulfitri yang populer di Indonesia dengan istilah lebaran merupakan momen untuk menandai selesainya ibadah puasa, di mana kata lebaran sendiri dalam bahasa lain bermakna selesai.
Tradisi lebaran di Indonesia identik dengan kegiatan silaturahmi antar saudara, teman, dan handai tolan yang membuat jalanan di berbagai daerah macet karena padatnya masyarakat yang bergerak serentak dari satu rumah ke rumah lainnya.
ADVERTISEMENT
Para perantau pun berbondong-bondong melakukan mudik agar dapat bersilaturahmi dengan keluarga di kampung halaman serta bertemu dengan teman-teman lama, dengan semangat yang mengesampingkan berapa pun harga dan ongkos yang harus dikeluarkan.
Bahkan tidak sedikit dari mereka yang harus mencari pinjaman uang untuk ongkos pulang kampung demi tidak melewatkan momentum mengharukan yang sangat dinanti-nantikan tersebut.
Di kalangan pejabat dan tokoh populer, tradisi open house atau membuka rumah untuk siapa pun yang ingin bersilaturahmi menjadi hal yang lumrah dilakukan tanpa mengenal status dan kelas sosial.
Presiden, menteri, gubernur, bupati, ketua umum partai, hingga para artis biasanya menggelar open house saat lebaran dan kerap menyiapkan amplop untuk masyarakat kelas bawah yang datang berkunjung.
Susilo Bambang Yudhoyono atau SBY, presiden keenam Republik Indonesia, juga memiliki tradisi open house yang pada kesempatan kali ini menjadi sorotan publik karena kehebohan yang muncul justru berasal dari internal partai Demokrat sendiri.
Pengamat politik dan pemerhati bangsa, Tony Rosyid, menyoroti bahwa kehebohan tersebut dipicu oleh kedatangan Anies Baswedan yang bersilaturahmi ke rumah SBY di momen lebaran, sebuah kunjungan yang sejatinya merupakan hal lumrah dan menjadi bagian dari tradisi masyarakat Indonesia.
Namun setelah Anies pulang dari kediaman SBY, panitia open house mengeluarkan pernyataan bahwa mereka tidak mengundang Anies dalam acara tersebut, sebuah pernyataan yang menimbulkan pertanyaan besar di tengah publik.
Pernyataan tersebut seolah menegaskan bahwa SBY tidak berkenan menerima kedatangan Anies meskipun di momentum lebaran yang seharusnya menjadi ruang untuk saling memaafkan dan mempererat tali silaturahmi.
Tony Rosyid menilai hal ini memicu spekulasi mengenai apakah SBY masih menyimpan rasa marah terhadap Anies dan enggan membukakan pintu maaf, mengingat lebaran adalah momen yang tepat untuk saling memaafkan.
Dalam perspektif politik yang disampaikan Tony, yang dimaksud dengan dosa di sini tidak berkaitan dengan moral dan agama, melainkan merujuk pada peristiwa menjelang Pemilu 2024 ketika Anies dan Agus Harimurti Yudhoyono atau AHY disiapkan untuk maju bersama.
Namun persiapan yang sudah berjalan setengah matang itu akhirnya bubar karena partai-partai pengusung Anies lebih menginginkan pasangan Anies dengan Muhaimin Iskandar, yang pada akhirnya pasangan tersebut kalah dalam kontestasi pemilu.
Menurut Tony Rosyid, peristiwa ini diduga menjadi dosa besar di mata SBY sehingga di momen lebaran sekalipun ia tidak membukakan pintu silaturahmi untuk Anies yang datang berkunjung.
Selain itu, faktor lain yang mungkin melatarbelakangi menurut pengamat politik ini adalah posisi Demokrat yang saat ini menjadi bagian dari koalisi pemerintahan Prabowo Subianto, sehingga kedatangan Anies dikhawatirkan menimbulkan asumsi rivalitas politik ke depan.
Tony Rosyid mengamati bahwa spekulasi publik semakin liar ketika pernyataan panitia open house yang memberi ketegasan bahwa Anies tidak diundang dimaknai sebagai sinyal bahwa Anies tidak dikehendaki oleh SBY untuk datang.
Kesan yang ditangkap publik dari pernyataan tersebut, lanjut Tony, adalah adanya upaya untuk mempermalukan Anies di depan publik dengan pesan yang tersirat bahwa seseorang yang tidak diundang seharusnya tidak perlu datang.
Tony Rosyid menyimpulkan bahwa ini menjadi bagian dari risiko kekalahan politik yang harus diterima oleh Anies dengan lapang dada, di mana pihak yang kalah kerap dianggap salah karena narasi kebenaran lazim didominasi oleh para pemenang.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok