Repelita Washington - Di tengah gempuran udara yang masih terus mengguncang wilayah luas Iran, kabar mengejutkan datang dari kalangan militer Barat bahwa Amerika Serikat dan Israel dikabarkan tengah menyusun rencana operasi darat paling ambisius sekaligus paling berisiko dalam konflik modern.
Rencana tersebut adalah mengerahkan sekitar 12.000 pasukan khusus ke jantung wilayah Republik Islam Iran, sebuah misi yang oleh banyak pihak disebut sebagai misi gila atau upaya bunuh diri strategis yang langsung menuai peringatan keras dari para analis militer.
ADVERTISEMENT
Pasalnya, medan perang darat Iran bukanlah seperti Afganistan atau Irak karena negara dengan luas hampir 74 kali lipat wilayah Israel ini memiliki kedalaman pertahanan dan jumlah personel yang luar biasa besar.
Wacana pengerahan pasukan darat ini bukan isapan jempol belaka karena sejumlah media terkemuka mengutip sumber-sumber yang mengetahui langsung pembahasan di lingkaran dalam pemerintahan Amerika Serikat dan Israel.
Menurut laporan tersebut, setidaknya ada dua skenario utama yang sedang dikaji oleh kedua negara terkait operasi darat di wilayah Iran.
Skenario pertama adalah misi untuk merebut atau melumpuhkan fasilitas nuklir Iran secara langsung, yang akan menargetkan lokasi-lokasi seperti Natanz, Fordow, dan Isfahan.
Saat ini Teheran diperkirakan memiliki sekitar 450 kilogram uranium yang diperkaya hingga 60 persen, jumlah yang cukup untuk diproses lebih lanjut menjadi bahan baku setidaknya 10 bom nuklir.
Operasi ini bisa menjadi operasi Pasukan Khusus terbesar dalam sejarah, ujar mantan Komandan NATO, James Stavridis, kepada The Wall Street Journal seperti dikutip pada Kamis, 26 Maret 2026.
Misi semacam itu akan sangat kompleks karena lebih dari 1.000 personel bahkan mungkin diperlukan hanya untuk mengamankan satu fasilitas, di mana mereka harus menggali puing-puing, melucuti ranjau, dan membangun landasan udara darurat.
Semua itu harus dilakukan sambil bertahan dari serangan rudal dan drone Iran yang mengintai dari berbagai arah dengan sistem pertahanan yang terintegrasi.
Skenario kedua yang tidak kalah berisiko adalah upaya yang lebih luas untuk melumpuhkan kekuatan militer Iran dari dalam, yang melibatkan pengerahan pasukan khusus dalam jumlah besar.
Rencana ini bertujuan untuk menghancurkan komando, logistik, dan infrastruktur pertahanan udara Iran yang selama ini menjadi andalan dalam menghadapi serangan dari luar.
Data dari Global Firepower 2026 dan International Institute for Strategic Studies menunjukkan gambaran yang sangat menantang, di mana Republik Islam Iran saat ini menempati peringkat kekuatan militer keenam belas di dunia.
Dari segi jumlah personel, Iran memiliki keunggulan luar biasa dengan angkatan bersenjata yang terdiri dari sekitar 580.000 hingga 650.000 personel aktif, ditambah sekitar 200.000 personel cadangan terlatih.
Jumlah ini belum termasuk kekuatan Basij, milisi paramiliter sukarelawan yang setia kepada Korps Garda Revolusi Islam (IRGC), yang jumlahnya bisa mencapai jutaan orang dan sangat terdesentralisasi serta sulit dihancurkan.
Secara spesifik, kekuatan darat Iran memiliki lebih dari 1.500 tank tempur utama, sekitar 7.000 sistem artileri yang menjadikannya salah satu kekuatan artileri terpadat di kawasan, serta lebih dari 3.800 drone.
Drone-drone tersebut terdiri dari berbagai jenis termasuk drone kamikaze seperti Shahed-129 dan Arash-2 yang mampu menjangkau hingga 2.000 kilometer ke dalam wilayah musuh.
Sementara Israel unggul dalam teknologi dan kekuatan udara, perang darat adalah arena yang sangat berbeda karena ukuran geografis Iran yang luas memungkinkannya untuk melakukan perang gesekan.
Jenis perang gesekan atau war of attrition ini adalah sesuatu yang tidak mampu dilakukan oleh kekuatan ekspedisi seperti Amerika Serikat atau Israel dalam jangka panjang.
Saat ini, serangan udara masih berlangsung di wilayah luas Iran terkadang dengan intensitas tinggi, namun para analis melihat bahwa serangan udara saja tidak akan cukup untuk menundukkan Iran.
Dalam analisis yang dimuat Pars Today, Iran tengah menjalankan strategi yang disebut sebagai metal fatigue cascade atau kelelahan logam berantai yang tidak berfokus pada kemenangan instan.
Strategi ini justru mengarah pada pengikisan sistematis infrastruktur dan logistik musuh dengan cara menghancurkan pangkalan-pangkalan udara dan pusat logistik Amerika Serikat di kawasan Teluk.
Akibatnya, jet-jet tempur Amerika Serikat dan Israel kini harus terbang dari pangkalan yang lebih jauh seperti di Eropa Selatan, yang secara drastis menurunkan jumlah sorti dari 1.500 menjadi hanya 30 hingga 40 misi per hari.
Dengan medan yang demikian, mendaratkan 12.000 pasukan khusus akan menjadi mimpi buruk logistik karena mereka akan mendarat di wilayah yang dipenuhi rudal balistik canggih.
Rudal-rudal tersebut seperti Sejjil dengan jangkauan 2.500 kilometer dan Khorramshahr yang menurut laporan terbaru masih terus diluncurkan dalam berbagai gelombang Operasi Janji Sejati.
Iran sendiri telah berulang kali memperingatkan bahwa mereka tidak akan tinggal diam, dengan Korps Garda Revolusi Islam dalam pernyataan resminya menyatakan bahwa jika musuh menyerang maka harus dibalas setimpal.
Para pemimpin militer Teheran menegaskan bahwa setiap ancaman terhadap infrastruktur vital mereka akan dibalas setimpal, termasuk ancaman untuk menyerang pangkalan-pangkalan Amerika di seluruh kawasan hingga ke kepulauan di Teluk.
Dalam konteks ini, rencana invasi darat yang digadang-gadang oleh Washington dan Tel Aviv bukan hanya dilihat sebagai misi berisiko tinggi, tetapi juga sebagai tindakan yang berpotensi memicu perang regional total.
Seperti yang diingatkan oleh para analis yang dikutip oleh Britannica, Republik Islam memiliki keunggulan umum dalam ukuran dan jumlah yang bisa menjadi faktor penentu dalam konflik yang berkepanjangan.
Rencana untuk mengerahkan 12.000 pasukan khusus ke Republik Islam adalah bukti seberapa dalam keinginan Amerika Serikat dan Israel untuk melumpuhkan program nuklir serta rezim di Teheran.
Namun di balik ambisi itu terbentang realitas medan perang yang kejam, di mana para ahli militer sepakat bahwa perang darat melawan Iran secara luas dianggap hampir mustahil untuk dimenangkan.
Ukuran kekuatan militer Iran yang besar ditambah dengan strategi pertahanan maju dan kemampuan untuk menguras logistik lawan menciptakan peluang keberhasilan yang sangat tipis bagi kekuatan invasi.
Bagi pemerintahan Presiden Donald Trump yang telah mendeklarasikan Operation Epic Fury dengan tujuan melumpuhkan kemampuan nuklir Teheran, pilihan untuk menginvasi darat adalah taruhan besar.
Seperti yang diungkapkan seorang mantan pejabat Amerika Serikat kepada Semafor, selama masa pemerintahan Obama rencana serupa yang diajukan oleh Menteri Pertahanan Israel Ehud Barak disebut sebagai rencana yang gila.
Kini pertanyaan yang menggantung di udara adalah apakah kali ini ambisi akan mengalahkan logika, ataukah perang ini akan tetap berkutat di udara, meninggalkan Republik Islam sebagai benteng yang belum tersentuh oleh sepatu bot asing.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok
تقرير:
— تمرة • tmrrah (@tmrrah9) March 25, 2026
امريكا وإسرائيل يخططون لنشر ما يقارب من 12,000 جندي من القوات الخاصة في إيران 🇮🇷 فيما يراه الكثيرون مهمة ذات مخاطر عالية للغاية.
يُعتبر حرب برية ضد إيران مستحيلة الفوز بها تقريبًا على نطاق واسع بسبب حجم قواتها العسكرية وعمقها.
حجم قوة إيران العسكرية حوالي 650,000 جندي… pic.twitter.com/pMePpHwywF