Repelita Washington DC - Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali menunjukkan sikap plin-plan dengan kini merengek meminta Selat Hormuz segera dibuka, setelah sebelumnya sempat mengumumkan akan lepas tangan dan menarik pasukannya dari konflik melawan Iran.
Awalnya Trump memberi tenggat waktu 48 jam yang berakhir Senin (6/4/2026), lalu memperpanjangnya hingga Selasa (7/4/2026), dan mengancam akan menghancurkan infrastruktur sipil Teheran jika jalur pelayaran vital tersebut tidak dibuka.
ADVERTISEMENT
Namun di balik ancamannya, Trump terlihat seperti merengek karena ketidakmampuannya membuka Selat Hormuz secara paksa, sementara persediaan rudal pencegat AS dan sekutunya disebut semakin menipis.
Menanggapi sikap plin-plan dan ancaman Trump tersebut, Iran memberikan jawaban yang menohok dan tidak kenal kompromi.
Komandan Markas Besar Pusat Khatam-al Anbiya Iran, Jenderal Ali Abdollahi Aliabadi, dengan tegas menyatakan bahwa "Pintu neraka akan terbuka untuk kalian, jika infrastruktur Iran diserang," pada Sabtu malam (4/4/2026).
Sebagai balasan atas ancaman Trump, jenderal tersebut berjanji akan menghancurkan semua infrastruktur yang digunakan oleh militer AS di wilayah Timur Tengah.
Pejabat keamanan senior Iran itu juga mengatakan bahwa Teheran bergerak maju sesuai dengan rencana operasional yang tepat dan memperingatkan akan adanya kejutan besar bagi AS dan rezim Zionis Israel.
Ia juga menyebut bahwa daftar target serangan AS dan Israel terhadap Iran dinilai tidak tepat sasaran, sementara Iran justru bergerak persis sesuai rencana.
"Jelas, daftar target AS tidak tepat, tetapi Iran bergerak maju persis sesuai dengan rencana dan daftar targetnya," katanya menohok.
Jenderal Ali juga mengatakan bahwa operasi militer AS terhadap Iran telah gagal, terutama setelah Teheran berhasil menembak jatuh sejumlah pesawat Amerika.
“Itu tidak masuk akal. Kami memiliki kejutan besar untuk AS dan rezim Israel, hanya butuh sedikit waktu," tegasnya.
Ia menambahkan bahwa Iran telah belajar dengan baik dalam perang asimetris bagaimana melemahkan musuh, dan AS telah gagal dalam strategi perang cepat dan mudahnya terhadap Iran.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok