Berita, Timur Tengah

Menlu Iran Tegaskan Tak Ada Negosiasi dengan AS, 13 Pangkalan Amerika Hancur Dihantam Rudal

Repelita.net

27 March 2026 05:42 WIB • 1,079 view

Menlu Iran Tegaskan Tak Ada Negosiasi dengan AS, 13 Pangkalan Amerika Hancur Dihantam Rudal
Foto: Istimewa

Repelita Teheran - Menteri Luar Negeri Iran, Seyed Abbas Araqchi, menegaskan dengan tegas keputusan negaranya untuk terus melanjutkan perlawanan terhadap Amerika Serikat dan sekutunya, Zionis Israel, seraya menyatakan bahwa hingga saat ini belum ada rencana untuk membuka pintu perundingan atau gencatan senjata.

Dalam pernyataannya yang dikutip pada Kamis, 26 Maret 2026, Araqchi menyatakan bahwa kebijakan Iran saat ini adalah melanjutkan perlawanan, dan belum ada negosiasi yang terjadi antara kedua belah pihak.

ADVERTISEMENT

Ia mengakui bahwa kontak diplomatik regional telah terjadi dengan banyak menteri luar negeri dari kawasan yang menghubungi Teheran, namun Araqchi menegaskan bahwa posisi Iran tetap berprinsip dan teguh tidak berubah.

Araqchi juga memastikan bahwa pihaknya menolak segala bentuk jaminan termasuk yang datang dari dunia internasional, karena Republik Islam lebih memilih untuk melakukan pembalasan terhadap agresi yang terjadi.

Menurutnya, jaminan internasional tidak dapat diandalkan seratus persen, terutama ketika merujuk pada upaya beberapa negara ketiga yang bertindak sebagai perantara dalam upaya mengakhiri agresi ilegal tersebut.

Melalui jaminan yang diciptakan sendiri oleh Iran, tidak akan ada yang berani lagi berperang melawan rakyat Iran, demikian tegas Araqchi dalam pernyataannya.

Iran telah melancarkan setidaknya 81 gelombang serangan balasan tanpa henti terhadap target-target Amerika dan Israel yang sensitif dan strategis di seluruh wilayah Timur Tengah, sebagai bentuk pembalasan yang konsisten.

Sikap ini sekaligus menegaskan bahwa musuh Iran harus mendapat pelajaran yang abadi agar tidak pernah lagi mempertimbangkan untuk melancarkan serangan lain di masa depan.

Araqchi menyatakan bahwa gencatan senjata tanpa jaminan hanyalah lingkaran setan yang hanya akan menyebabkan terulangnya perang, sehingga musuh harus mendapat pelajaran dan kerugian yang diderita rakyat Iran harus dikompensasi.

Mengenai pangkalan militer Amerika Serikat di kawasan, Araqchi mengatakan bahwa perkembangan terkini telah membuktikan bagaimana mengizinkan AS mendirikan pos terdepan di wilayah regional justru membahayakan keamanan negara tuan rumah.

Perang ini mengungkapkan banyak kebenaran, salah satunya adalah bahwa pangkalan AS tidak hanya gagal memberikan keamanan bagi negara tuan rumah, tetapi pada kenyataannya menjadi sumber ketidakamanan bagi mereka.

Araqchi merujuk pada berbagai kesempatan di mana Angkatan Bersenjata Iran telah membombardir pos-pos terdepan Amerika Serikat di negara-negara regional seperti Qatar, Bahrain, Kuwait, Arab Saudi, dan Yordania sebagai balasan atas agresi.

Jika negara-negara ini diserang, itu karena keberadaan pangkalan-pangkalan Amerika Serikat di wilayah mereka, sehingga pesan Iran kepada negara-negara di kawasan adalah agar mereka benar-benar menjauhkan diri dari agresi Amerika-Zionis terhadap tanah dan rakyat Iran.

Menteri luar negeri Iran itu juga menyesalkan beberapa negara regional yang sebelumnya menyatakan tidak akan membiarkan tanah mereka digunakan untuk melawan Republik Islam, namun kemudian mengingkari janji mereka.

Menurut Araqchi, dunia telah menyaksikan Angkatan Bersenjata Iran menembakkan ratusan rudal balistik dan hipersonik serta drone serang terhadap objek-objek Amerika Serikat dan Israel.

Ia menilai bahwa Amerika Serikat dan sekutunya gagal mencapai beberapa tujuan, termasuk upaya memecah belah negara Iran, mengamankan kemenangan cepat, dan melemahkan kohesi domestik di dalam negeri Iran.

Pembalasan Republik Islam telah tercatat sebagai momen emas dalam sejarahnya, dengan negara tersebut berhasil mencegah dua agresor bersenjata nuklir mencapai tujuan yang mereka targetkan.

Kemenangan telak dari pembalasan itu, tambah Araqchi, terlihat dari pernyataan para agresor yang kini membicarakan perundingan dengan Republik Islam Iran, meskipun pada awalnya mereka mendesak Teheran untuk menyerah tanpa syarat.

Fakta bahwa mereka sekarang berbicara tentang negosiasi itu sendiri merupakan pengakuan kekalahan, karena sebelumnya merekalah yang berbicara tentang penyerahan tanpa syarat kepada Iran.

Mengenai Selat Hormuz yang telah ditutup Iran bagi Amerika Serikat dan kaki tangannya sejak dimulainya agresi akhir bulan lalu, Araqchi mengatakan jalur air strategis itu tetap terbuka bagi negara-negara sahabat.

Untuk beberapa negara yang diidentifikasi sebagai teman, Iran mengizinkan jalur melalui Selat Hormuz, yaitu China, Rusia, India, Irak, dan Pakistan, sementara tidak ada alasan bagi Iran untuk mengizinkan musuh-musuhnya melewati jalur tersebut.

Dalam perkembangan terkini yang mengguncang kawasan Timur Tengah, The New York Times mengonfirmasi bahwa 13 pangkalan militer Amerika Serikat di wilayah tersebut telah hancur dan kini kosong.

Konfirmasi ini menjadi bukti nyata betapa dahsyatnya serangan balasan yang dilancarkan Iran terhadap aset-aset militer Washington yang selama ini dianggap sebagai benteng pertahanan tak tertembus.

Bukan hanya hancur, laporan tersebut mengungkapkan bahwa banyak dari pangkalan ini berada dalam kondisi hampir tidak layak huni dengan kerusakan parah terjadi di berbagai fasilitas strategis.

Dari 13 pangkalan yang terdampak, perhatian utama tertuju pada fasilitas militer Amerika Serikat di Kuwait yang disebut-sebut mengalami kerusakan paling parah.

The New York Times melaporkan bahwa instalasi militer di Kuwait, termasuk Camp Arifjan yang merupakan markas depan United States Army Central atau ARCENT, terkena hantaman paling keras yang tidak hanya merusak infrastruktur tetapi juga melumpuhkan pusat logistik utama Amerika Serikat.

Camp Arifjan dikenal sebagai hub utama untuk penyimpanan perlengkapan, kendaraan, dan logistik yang digunakan untuk mendukung operasi militer di Irak dan Suriah, sehingga dengan hancurnya fasilitas ini jalur pasokan vital Amerika mengalami gangguan signifikan.

Selain Camp Arifjan, pangkalan udara Ali Al Salem di Kuwait yang dijuluki The Rock juga tidak luput dari sasaran, padahal pangkalan ini merupakan rumah bagi Sayap Ekspedisi Udara ke-386 AS yang berperan sebagai gerbang utama untuk menyalurkan kekuatan tempur dan logistik udara di kawasan tersebut.(*)

Editor: 91224 R-ID Elok

TAGS: #

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Advertisement

Top Articles

Statistik Pengunjung