Berita, Ekonomi

Menkeu Purbaya Tepis Isu Krisis, Tegaskan Fundamental Ekonomi Indonesia Jauh Lebih Kuat Dibanding 1998: Saat Itu Rupiah Anjlok dari Rp2.000 ke Rp17 Ribu

Repelita.net

23 May 2026 15:15 WIB • 1,341 view

Menkeu Purbaya Tepis Isu Krisis, Tegaskan Fundamental Ekonomi Indonesia Jauh Lebih Kuat Dibanding 1998: Saat Itu Rupiah Anjlok dari Rp2.000 ke Rp17 Ribu
Foto: Istimewa

Repelita Jakarta - Otoritas bendahara negara memastikan bahwa jajaran pemerintah pusat sama sekali tidak mengkhawatirkan adanya potensi kembalinya guncangan finansial besar yang dapat melanda stabilitas pasar domestik dalam waktu dekat.

Penegasan tersebut disampaikan secara terbuka oleh Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa setelah dirinya rampung mengikuti agenda pembahasan internal bersama jajaran kabinet di area Kompleks Istana Kepresidenan Jakarta pada hari Jumat.

ADVERTISEMENT

Purbaya mengklaim bahwa fondasi fundamental dari sektor perekonomian domestik saat ini masih berada dalam fase yang sangat kokoh dan resilien terhadap gejolak.

Situasi riil yang dihadapi saat ini dinilai memiliki perbedaan struktur yang sangat kontras jika dibandingkan dengan memori kelam masa depresi finansial pada tahun 1998 silam, yang mana kala itu posisi nilai tukar rupiah merosot tajam hingga berlipat-lipat dari posisi awal.

"Tidak (kekhawatiran). Fundamental kita amat baik. Kalau dibandingkan 1998 kan waktu itu dari Rp2.000 melemah ke sekian, Rp17 ribu kan sekian kali lipat. Kalau sekarang kan (depresiasi) 4-5 persen kan sebetulnya jauh (dari 1998)," ujar Purbaya.

Menteri Keuangan menambahkan bahwa fluktuasi negasi yang terjadi pada pergerakan nilai tukar mata uang garuda akhir-akhir ini sejatinya lebih dominan dipicu oleh faktor sentimen psikologis pasar global dan bukan mencerminkan kondisi riil dari ketahanan ekonomi nasional.

Kendati demikian, dirinya tidak menampik bahwa sektor keuangan domestik memang sedang dihantam oleh rentetan sentimen negatif eksternal yang datang secara bertubi-tubi dari berbagai arah penilaan global.

Pihak otoritas mengidentifikasi tekanan tersebut bersumber dari evaluasi berkala Morgan Stanley Capital International (MSCI), rilis pembaruan dari sejumlah lembaga pemeringkat kredit internasional, hingga dinamika pergerakan konversi nilai mata uang asing.

"Kalau kita lihat sekarang kan serangan bertubi-tubi ke kita. MSCI, habis itu lembaga pemeringkat, habis itu pergerakan nilai tukar. Tapi kalau dari fundamental sih nggak ada masalah. Jadi, kita akan memperbaiki cara mungkin, kita mensosialisasikan keberhasilan kita ke publik," katanya.

Di samping itu, Purbaya membeberkan bahwa forum strategis di istana tersebut sengaja mengundang jajaran tokoh ekonomi senior serta para pakar yang memiliki rekam jejak panjang dalam menavigasi masa-masa krisis hebat terdahulu.

Kehadiran para mantan petinggi Bank Indonesia serta jajaran pimpinan masa lalu dari Kementerian PPN/Bappenas tersebut difokuskan untuk membedah memori kolektif serta strategi taktis penyelematan ekonomi terdahulu.

Langkah penyerapan aspirasi dan transfer pengetahuan dari para pendahulu ini dilakukan agar pemerintah memiliki komparasi data yang komprehensif sebagai basis formulasi kebijakan mitigasi risiko di masa mendatang.

"Sharing pengetahuan gimana waktu mengalami ada krisis 2007-2008 dan sebelum-sebelumnya. Itu saja kita pelajari, masukan dari mereka apa. Saya sudah catat, saya diperintahkan untuk mempelajari, ya kita pelajari," imbuh Purbaya.(*)

Editor: 91224 R-ID Elok

TAGS: #

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Advertisement

Top Articles

Statistik Pengunjung