Repelita New York - Mediator internasional memberikan peringatan keras kepada Iran bahwa dua hari ke depan adalah kesempatan terakhir untuk mencapai kesepakatan gencatan senjata dengan Amerika Serikat dan Israel.
Namun hingga saat ini, Teheran tetap pada pendiriannya dan menolak memberikan konsesi apapun terkait dua kartu truf utama, yakni Selat Hormuz dan program pengayaan uranium.
ADVERTISEMENT
Di tengah ancaman serangan besar-besaran AS-Israel terhadap infrastruktur sipil Republik Islam, negosiasi di belakang layar terus berjalan dengan suhu yang memanas.
AS mengusulkan gencatan senjata selama 45 hari sebagai langkah pertama menuju pengakhiran perang secara permanen di kawasan.
Namun Iran memasang harga mati dengan tidak bersedia menyerahkan dua isu paling krusial hanya sebagai imbalan jeda sementara.
Bagi Teheran, membuka Selat Hormuz untuk musuh dan melepas aset uranium adalah urusan yang hanya bisa dinegosiasikan dalam kesepakatan final, bukan sekadar gencatan senjata.
Menurut laporan Axios yang dikutip media internasional pada 5 hingga 6 April 2026, mediator dari Pakistan, Mesir, dan Turki sedang berupaya keras menjembatani perbedaan antara Washington dan Teheran.
Usulan yang dibahas adalah kesepakatan dua tahap, dengan tahap pertama berupa gencatan senjata selama 45 hari.
Jeda ini akan digunakan untuk merundingkan pengakhiran perang secara permanen, dan jika diperlukan masa gencatan senjata dapat diperpanjang.
Tahap kedua adalah pengakhiran permanen perang di mana mediator berharap kedua belah pihak dapat mencapai kesepakatan tentang pembukaan penuh Selat Hormuz dan solusi atas stok uranium pengayaan tinggi Republik Islam.
Masalahnya, Teheran menolak memberikan konsesi apa pun di tahap pertama karena menganggap dua isu tersebut sebagai alat tawar utama yang tidak bisa diserahkan hanya dengan imbalan gencatan senjata 45 hari.
Sejak perang meletus pada 28 Februari 2026, Teheran mengambil kendali penuh atas jalur perairan strategis Selat Hormuz yang menjadi garis depan pertahanan.
Mereka menutup selat tersebut untuk kapal-kapal AS, Israel, dan negara mana pun yang membantu agresi terhadap Republik Islam, sementara memberikan pengecualian untuk negara-negara tertentu seperti Irak.
Angkatan Laut Pengawal Revolusi Iran pada Minggu (5/4/2026) memastikan bahwa situasi di Selat Hormuz tidak akan pernah kembali seperti sebelum perang, terutama bagi AS dan Israel.
Dalam pertemuan virtual pada hari yang sama, wakil menteri luar negeri Republik Islam dan Oman menekankan peran eksklusif kedua negara sebagai negara pantai di Selat Hormuz.
Mereka berkomitmen menjaga stabilitas kawasan namun dengan tegas mengesampingkan peran destabilisasi AS dan rezim Israel.
Isu kedua yang tak kalah pelik adalah program pengayaan uranium Teheran yang terus menunjukkan peningkatan signifikan.
Data terbaru dari Badan Energi Atom Internasional (IAEA) menunjukkan bahwa Iran terus meningkatkan stok uranium pengayaan tingginya.
Hingga pertengahan Mei, Teheran diperkirakan memiliki 408,6 kg uranium yang diperkaya hingga 60 persen, meningkat 133,8 kg sejak laporan terakhir pada Februari.
Secara keseluruhan, total uranium yang diperkaya Iran diperkirakan mencapai 9.247,6 kg atau melebihi 45 kali batas yang diizinkan dalam Kesepakatan Nuklir 2015 (JCPOA).
IAEA menyatakan keprihatinan serius atas produksi dan akumulasi uranium pengayaan tinggi oleh Teheran sebagai satu-satunya negara non-nuklir yang memproduksi material semacam itu.
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi kembali menegaskan bahwa Iran menganggap senjata nuklir sebagai hal yang tidak dapat diterima.
Namun aksi nyata di lapangan menunjukkan bahwa Teheran menggunakan kemampuan pengayaannya sebagai alat tekanan diplomatik yang sangat kuat.
Para mediator saat ini sedang menjajaki langkah-langkah membangun kepercayaan yang dapat diambil Teheran terkait stok uraniumnya, seperti pengeluaran uranium dari negara atau pengencerannya.
Namun Republik Islam belum menunjukkan kesediaan untuk mengambil langkah tersebut di tahap awal gencatan senjata.
Presiden AS Donald Trump telah memberi Iran tenggat waktu hingga Selasa malam (7/4/2026) pukul 20.00 waktu setempat, merupakan perpanjangan 20 jam dari tenggat sebelumnya.
Dalam wawancara dengan Axios, Trump mengatakan ada peluang bagus terkait akhir dari konflik tersebut, namun jika mereka tidak setuju ia akan meledakkan semuanya di sana.
Dua sumber yang mengetahui masalah tersebut mengatakan rencana operasional untuk kampanye pemboman besar-besaran AS-Israel terhadap fasilitas energi Iran sudah siap.
Para mediator menyampaikan pesan yang sama kepada Iran bahwa tidak ada waktu untuk taktik negosiasi lebih lanjut.
Mereka khawatir bahwa jika Iran membalas serangan AS-Israel terhadap infrastruktur energinya, maka fasilitas minyak dan air di negara-negara Teluk juga akan rusak parah.
Para pejabat Iran telah menjelaskan kepada para mediator bahwa mereka tidak ingin terjebak dalam situasi seperti Gaza atau Lebanon.
Maksudnya, mereka tidak mau menerima gencatan senjata hanya di atas kertas tanpa kepastian mengarah pada pengakhiran perang secara permanen.
Iran ingin jaminan bahwa gencatan senjata 45 hari benar-benar akan mengarah pada pengakhiran perang secara permanen, bukan sekadar jeda taktis bagi musuh untuk mengatur napas.
Sumber-sumber yang mengetahui jalannya negosiasi mengatakan peluang untuk mencapai kesepakatan dalam 48 jam ke depan sangat tipis.
Namun ini adalah satu-satunya kesempatan untuk menghindari eskalasi dramatis yang akan melibatkan serangan besar-besaran terhadap infrastruktur sipil Iran.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok
🚨BREAKING | AXIOS: IRAN REFUSES TO MAKE CONCESSIONS ON THE STRAIT OF HORMUZ AND URANIUM IN EXCHANGE FOR A 45-DAY CEASEFIRE
— The Middle East (@A_M_R_M1) April 6, 2026
▪︎ THE SECOND PHASE OF THE CEASEFIRE PROPOSAL IS A PERMANENT END TO THE WAR
▪︎ MEDIATORS ARE WORKING ON CONFIDENCE-BUILDING MEASURES REGARDING IRAN’S…