Berita, Nasional

Mardigu Wowiek Bedah Jaringan Penyadapan Presiden Prabowo, Dorong Eks Kapolri Listyo Sigit Jadi Justice Collaborator

Repelita.net

08 November 2026 16:36 WIB • 57 view

Mardigu Wowiek Bedah Jaringan Penyadapan Presiden Prabowo, Dorong Eks Kapolri Listyo Sigit Jadi Justice Collaborator
Foto: Istimewa

Repelita Jakarta - Skandal dugaan penyadapan ilegal terhadap Presiden Prabowo Subianto yang menyeret mantan Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo kembali dikupas secara mendalam dari sudut pandang intelijen dan geopolitik.

Ulasan tajam mengenai jaringan serta aktor intelektual di balik operasi spionase domestik tersebut dipaparkan oleh Mardigu Wowiek dalam diskusi eksklusif bersama Mas Deni dari komunitas Ngaji Roso.

ADVERTISEMENT

Tayangan siaran langsung bertajuk BOSSMAN LIVE BAHAS PENYADAPAN LISTYO SIGIT KE PRABOWO SIAPA DALANG JARINGANNYA EXCLUSIVE ZOOM itu dirilis melalui kanal YouTube B MEDIA by Bossman Mardigu pada November 2026.

Dalam paparannya, Mardigu membeberkan bahwa operasi penyadapan ilegal yang berlangsung sejak 2025 hingga 2026 itu membajak server negara dan memanfaatkan perangkat canggih bernama Pegasus senilai Rp1,1 triliun buatan Israel.

Alat yang seharusnya digunakan untuk menindak kejahatan pidana serta ancaman keamanan nasional tersebut justru diselundupkan ke rumah pribadi sejumlah perwira tinggi untuk memata-matai presiden, menteri, ketua umum partai politik, hingga mantan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.

Mardigu menyoroti kejanggalan daftar target penyadapan yang menyasar lingkar dalam istana dan tokoh nasional, sementara nama Joko Widodo, Gibran Rakabuming Raka, serta anggota PSI justru tidak ikut disadap.

"Berarti ini untuk mencari data untuk tujuan politik untuk tujuan kekuasaan," ujar Mardigu Wowiek menilai motif di balik penyalahgunaan fasilitas negara tersebut.

Ia menjelaskan bahwa terungkapnya skandal ini bermula ketika unit khusus Mabes Polri mendeteksi pancaran radar ilegal dari kediaman Irjen Pol Ahrie Sonta Nasution yang kemudian digerebek dan dibawa ke Mako Brimob.

Operasi penindakan serentak juga menyasar kediaman Irjen Pol Slamet Uliandi dan Brigjen Pol Eko Hadi Santoso hingga menyeret sekitar sebelas nama perwira tinggi Polri, termasuk jajaran komisaris jenderal dan jenderal bintang dua.

Mardigu mengungkapkan adanya pembangkangan dari para perwira menengah yang bertugas sebagai operator lapangan ketika menerima perintah untuk memusnahkan seluruh catatan log server serta barang bukti digital.

Para perwira muda tersebut memilih menyelamatkan bukti otentik dan melaporkannya kepada pimpinan baru karena menolak menjadi tumbal demi melindungi kepentingan kelompok tertentu.

Terkait sosok dalang di balik operasi tersebut, Mardigu menegaskan bahwa seorang mantan Kapolri tidak mungkin bertindak sendirian tanpa perintah atasan serta menilai modus pengumpulan data itu bertujuan menjadi alat tekan politik.

"Enggak mungkin seorang operator seperti Pak Listyo adalah ujung tombaknya dia tidak ke mana-mana dia bilang enggak ini buat saya karena saya mau kudeta," kata Mardigu Wowiek menyarankan agar Listyo bersedia menjadi justice collaborator.

Ia pun mendorong Presiden Prabowo Subianto untuk memanfaatkan momentum terbongkarnya kasus ini guna membersihkan jajaran pemerintahan dan aparat dari jaringan yang selama ini menghambat kinerja negara.

Selain membedah kasus penyadapan, Mardigu juga mengingatkan masyarakat agar mewaspadai potensi krisis global, serangan siber, serta gangguan pasokan listrik dengan menyiapkan cadangan uang tunai, logam mulia perak, dan obat-obatan herbal tradisional di rumah. (*)

Editor: 91224 R-ID Elok

TAGS: #

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Advertisement

Top Articles

Statistik Pengunjung