Berita, Nasional

Kocok Ulang Kabinet Dinilai Pangkas Pengaruh Politik Solo, Posisi Gibran Makin Terdesak di Tengah Sidang MK

Repelita.net

06 October 2026 00:16 WIB • 123 view

Kocok Ulang Kabinet Dinilai Pangkas Pengaruh Politik Solo, Posisi Gibran Makin Terdesak di Tengah Sidang MK
Foto: Istimewa

Repelita Jakarta - Dinamika politik tanah air pasca kocok ulang jajaran kabinet pada tanggal 1 Oktober 2026 dinilai menjadi sinyal kuat runtuhnya cengkeraman kekuasaan lama di dalam birokrasi pemerintahan.

Analisis mengenai peta konstelasi ini disampaikan oleh Mardigu Wowiek melalui unggahan video di kanal YouTube Bossman Mardigu.

ADVERTISEMENT

Dalam tayangan tersebut, pencopotan Listyo Sigit Prabowo dan Pratikno dari posisi strategis kabinet dipandang sebagai langkah taktis Presiden Prabowo Subianto untuk melucuti pengaruh politik Solo.

Mantan Kapolri kini digeser menjadi Kepala Staf Kepresidenan sedangkan mantan Menko ditampung sebagai Ketua Dewan Pertimbangan Presiden yang dinilai mirip tempat buangan politik zaman dahulu.

Dampak dari pergeseran dua pilar utama ini membuat posisi Gibran Rakabuming Raka di ranah eksekutif menjadi sangat riskan karena kehilangan jaringan penopang utama.

Situasi tersebut diperparah oleh jalannya sidang pembuktian syarat pendidikan dan keabsahan ijazah Gibran di Mahkamah Konstitusi yang dinilai semakin menyudutkan posisinya.

Kesaksian dari Atase Pendidikan KBRI Australia bersama saksi ahli membeberkan bahwa dokumen UTS Insearch Australia milik Gibran ternyata sekedar certificate of attendance.

Dokumen tersebut murni hanya berupa sertifikat kehadiran dan bukan sertifikat kelulusan yang setara dengan jenjang SMA atau surat tanda tamat belajar.

Temuan ini memicu cercaan serta pertanyaan tajam dari majelis hakim serta perwakilan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah selama proses persidangan berlangsung.

Pihak Mahkamah Konstitusi kini mulai menusuk langsung pada pemenuhan syarat material keaslian dokumen dan menolak hanya bersandar pada urusan formalitas semata.

Apalagi otoritas KBRI di Singapura dan Australia secara kompak menyebutkan bahwa mereka tidak menemukan bukti fisik maupun edisi digital dari ijazah Gibran.

Kombinasi antara hilangnya pengaruh loyalis lama di istana dan terbongkarnya cacat material pendaftaran memberikan ruang bebas bagi hakim MK tanpa bayang-bayang intimidasi.

Kondisi keamanan nasional sendiri saat ini telah dikendalikan penuh oleh Presiden Prabowo guna mengantisipasi segala potensi gejolak sosial pasca putusan dibacakan.

Merespons kemungkinan putusan diskualifikasi tersebut, jaringan loyalis lama diduga mulai melancarkan operasi perang asimetris untuk merusak kredibilitas institusi peradilan.

Barisan relawan serta influencer partisan mulai dikonsolidasikan guna meniupkan narasi bahwa persidangan di MK merupakan operasi politik untuk menjatuhkan wakil presiden.

Langkah pertahanan lain juga disiapkan di parlemen dengan menggalang loyalis di fraksi partai politik guna membangun blokade interupsi demi menjegal proses pemakzulan.

Sadar akan posisi tawar yang semakin tergerus, diplomasi pintu belakang ke Istana dikabarkan mulai dijajaki oleh pihak Solo sebagai langkah kompromi terakhir.

Pihak Solo disinyalir bersedia melunakkan perlawanan politik dan merelakan jabatan wakil presiden dengan syarat adanya jaminan proteksi hukum serta keamanan bisnis keluarga.

Langkah kepepet ini terpaksa diambil lantaran mereka tidak lagi memiliki kendali atas komando kepolisian maupun birokrasi pemerintahan karena pintu istana telah dikunci rapat.

Kini momentum berharga sepenuhnya berada di tangan Presiden Prabowo untuk membuktikan kepada masyarakat luas bahwa dirinya merupakan pemimpin yang benar-benar berdaulat (*)

Editor: 91224 R-ID Elok

TAGS: #

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Advertisement

Top Articles

Statistik Pengunjung