Berita, Nasional

Koalisi Besar Tak Cukup? Survei SMRC Ungkap Penurunan Kepuasan Publik Terhadap Kinerja Presiden Prabowo Disebabkan Masalah Ekonomi

Repelita.net

24 September 2026 00:19 WIB • 150 view

Koalisi Besar Tak Cukup? Survei SMRC Ungkap Penurunan Kepuasan Publik Terhadap Kinerja Presiden Prabowo Disebabkan Masalah Ekonomi
Foto: Istimewa

Repelita Jakarta - Peneliti Saiful Mujani Research and Consulting Saidiman Ahmad membeberkan deretan faktor pemicu merosotnya tingkat kepuasan publik terhadap kinerja kepala negara.

Penyebab utama dari penurunan angka kepuasan tersebut erat kaitannya dengan pandangan masyarakat yang menilai situasi perekonomian nasional sedang mengalami kemerosotan.

ADVERTISEMENT

Analisis mendalam tersebut disampaikan oleh Saidiman Ahmad dalam rekaman wawancara yang disiarkan lewat kanal YouTube Menyala Media pada hari Rabu tanggal 23 September 2026.

Menurut hasil kajian statistik lembaganya, persepsi negatif warga terhadap sektor ekonomi memegang peranan paling besar terhadap pergerakan angka kepuasan publik.

“Penyebab utamanya adalah persepsi publik mengenai terutama keadaan ekonomi yang memburuk dalam periode yang sama,” kata Saidiman Ahmad dalam tayangan kanal YouTube Menyala Media, Rabu, 23 September 2026.

Selain faktor finansial rumah tangga, penilaian kritis masyarakat terhadap stabilitas politik serta kualitas penegakan hukum turut memberikan sumbangsih signifikan.

“Persepsi negatif juga muncul dari warga terhadap kondisi politik, juga kondisi penegakan hukum,” ujar Saidiman Ahmad melalui kanal YouTube Menyala Media pada Rabu, 23 September 2026.

Sorotan tajam turut diarahkan pada evaluasi publik terhadap dua program prioritas kabinet pemerintahan di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto.

Program Makan Bergizi Gratis serta Koperasi Desa atau Kelurahan Merah Putih dinilai belum mampu memuaskan ekspektasi masyarakat luas saat ini.

“Bahkan evaluasi negatif juga disampaikan oleh warga terhadap dua program utama pemerintahan Prabowo Subianto, Makan Bergizi Gratis dan Koperasi Desa atau Kelurahan Merah Putih,” kata Saidiman Ahmad dalam wawancara di kanal YouTube Menyala Media, Rabu, 23 September 2026.

Berdasarkan pengujian parameter statistik yang ketat, seluruh variabel penilaian tersebut terbukti memiliki korelasi yang kuat terhadap penurunan tingkat dukungan.

“Jadi berdasarkan ini kita melakukan uji statistik itu punya hubungan yang signifikan dengan approval rating yang turun,” ujar Saidiman Ahmad lewat kanal YouTube Menyala Media, Rabu, 23 September 2026.

Fluktuasi tingkat kepuasan publik tersebut dipastikan tidak muncul secara kebetulan, melainkan akumulasi dari penilaian warga terhadap realitas kehidupan sehari-hari.

“Jadi, persepsi warga itu mempengaruhi tingkat kepuasan publik terhadap kinerja Presiden Prabowo Subianto,” tutur Saidiman Ahmad dalam tayangan kanal YouTube Menyala Media, Rabu, 23 September 2026.

Berdasarkan data riset berkala yang dirilis oleh lembaga survei tersebut, tingkat kepuasan terhadap kepemimpinan nasional tercatat berada di angka lima puluh satu koma satu persen pada bulan Juli 2026.

Angka tersebut menunjukkan koreksi yang cukup tajam jika dibandingkan dengan catatan capaian pada bulan November tahun sebelumnya yang sempat menyentuh delapan puluh satu koma dua persen.

Sebaliknya, kelompok responden yang menyatakan kurang puas maupun tidak puas secara keseluruhan membengkak hingga mencapai angka empat puluh enam koma sembilan persen.

Metodologi pengumpulan data survei ini melibatkan ratusan responden sah berusia minimal tujuh belas tahun yang tersebar secara nasional menggunakan teknik penarikan sampel berlapis ganda.

Proses pengumpulan keterangan dilakukan melalui sambungan telepon serta kunjungan langsung dengan tingkat toleransi kesalahan berada di kisaran tiga koma tujuh persen.

Peneliti senior tersebut kemudian menarik garis perbandingan pola dukungan publik masa kini dengan tren kepemimpinan nasional pada awal era pemerintahan sebelumnya.

Pada masa awal kepemimpinan Presiden ketujuh Joko Widodo, grafik dukungan masyarakat justru merangkak naik secara perlahan dari angka yang relatif rendah.

“Kalau kita melihat misalnya di era Pak Jokowi, elektabilitas Pak Jokowi waktu itu kan mulai dari rendah di awal pemerintahan sampai di tahun kedua itu mengalami kenaikan,” jelas Saidiman Ahmad di kanal YouTube Menyala Media, Rabu, 23 September 2026.

Kondisi tersebut menunjukkan perbedaan pola yang cukup kontras dengan dinamika politik yang tengah dihadapi oleh kepala negara saat ini.

“Agak berbeda dengan Pak Prabowo sekarang yang awalnya agak tinggi juga, dukungan partainya sangat besar,” ujar Saidiman Ahmad dalam kanal YouTube Menyala Media, Rabu, 23 September 2026.

Kekuatan koalisi partai politik di parlemen yang mendominasi tingkat elite ternyata tidak otomatis berbanding lurus dengan persepsi positif di akar rumput.

“Prabowo justru sebaliknya mengalami penurunan di tengah dukungan partai politik yang sangat besar,” kata Saidiman Ahmad melalui kanal YouTube Menyala Media pada Rabu, 23 September 2026.

Penyelarasan kepentingan di lingkaran elite politik pusat dinilai gagal menjadi cerminan utuh dari aspirasi maupun kegelisahan yang dirasakan oleh rakyat kecil.

“Prabowo dengan aspirasi dari tingkat bawah. Jadi elite-elitnya mendukung Pak Prabowo ini tampaknya tidak merupakan representasi dari pandangan umum masyarakat kita sekarang,” ujar Saidiman Ahmad dalam tayangan kanal YouTube Menyala Media, Rabu, 23 September 2026.

Menurunnya angka kepuasan terhadap program Makan Bergizi Gratis terlihat jelas dari perbandingan data survei antar-periode peninjauan.

Tingkat kepuasan masyarakat terhadap program pembagian makanan bergizi tersebut merosot drastis dari angka enam puluh dua koma lima persen menjadi tiga puluh tiga koma delapan persen.

Sementara itu, kelompok warga yang menyampaikan ketidakpuasan terhadap pelaksanaan program andalan tersebut melonjak naik hingga mencapai angka enam puluh satu koma enam persen.

Kondisi tersebut menjadi catatan penting bagi para pengambil kebijakan mengingat program prioritas seharusnya berfungsi mendongkrak popularitas pemerintahan.

“Karena ini program unggulan, idealnya program ini yang kemudian bisa menaikkan popularitasnya, tapi ternyata ini dipersepsi sangat negatif sekarang,” pungkas Saidiman Ahmad dalam wawancara di kanal YouTube Menyala Media, Rabu, 23 September 2026. (*)

Editor: 91224 R-ID Elok


TAGS: #

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Advertisement

Top Articles

Statistik Pengunjung