Berita, Timur Tengah

Ketua Parlemen Iran Sindir AS: Operation Trust Me Bro Gagal

Repelita.net

07 May 2026 19:10 WIB • 3,443 view

Ketua Parlemen Iran Sindir AS: Operation Trust Me Bro Gagal
Foto: Istimewa

Repelita Teheran - Ketua Parlemen Iran, Mohammad Baqer Qalibaf, melontarkan sindiran tajam kepada Amerika Serikat menanggapi beredarnya laporan tentang kemungkinan kesepakatan antara Teheran dan Washington.

Qalibaf menilai kabar mengenai adanya pengaturan baru untuk mengakhiri ketegangan di Selat Hormuz hanyalah berita bohong belaka yang sengaja disebarkan.

ADVERTISEMENT

Ia menyebut bahwa informasi tersebut merupakan bagian dari operasi psikologis yang dilancarkan AS setelah kegagalan besar militernya di kawasan Teluk baru-baru ini.

“Operation Trust Me Bro gagal. Sekarang kembali ke rutinitas dengan Operation Fauxios,” tulis Qalibaf melalui akun X pribadinya pada Kamis (7/5/2026), seperti dilansir kantor berita Tasnim.

Pernyataan sinis sang ketua parlemen itu secara jelas merujuk pada laporan media asal AS, Axios, yang mengabarkan adanya potensi kesepakatan baru antara Iran dan Amerika Serikat.

Komentar keras dari pejabat tinggi Iran ini muncul di tengah memanasnya ketegangan antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel yang terus berlangsung dalam beberapa bulan terakhir.

Sebagaimana diketahui, pada 28 Februari lalu, AS bersama sekutunya Israel melancarkan serangan militer ke wilayah Iran.

Dalam insiden berdarah tersebut, Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei beserta sejumlah perwira militer senior negara itu dilaporkan tewas menjadi korban.

Sebagai aksi pembalasan, Angkatan Bersenjata Iran kemudian meluncurkan gelombang serangan rudal dan drone selama berminggu-minggu terhadap pos-pos militer Amerika dan Israel.

Iran bahkan mengklaim telah melakukan sekitar 100 serangan balasan selama kurun waktu 40 hari dan menyebabkan kerusakan yang sangat signifikan di pihak lawan.

Konflik berkepanjangan ini akhirnya berdampak langsung pada kelancaran jalur pelayaran internasional di Selat Hormuz, yang merupakan urat nadi perdagangan minyak dunia.

Iran sempat menutup total Selat Hormuz bagi kapal-kapal milik negara-negara yang dianggap musuh beserta sekutu-sekutunya.

Tidak berhenti di situ, Teheran kemudian memberlakukan aturan tambahan yang mewajibkan setiap kapal untuk memperoleh izin resmi dari otoritas Iran sebelum melintasi selat tersebut.

Langkah tegas itu diambil sebagai respons setelah Washington menyatakan akan melanjutkan kebijakan blokade terhadap kapal dan pelabuhan milik Iran.

Sebagai buntutnya, Iran menegaskan tidak akan pernah kembali ke meja perundingan sebelum blokade ilegal tersebut dicabut sepenuhnya.

Di tengah situasi genting ini, Presiden AS Donald Trump pada Rabu (6/5/2026) mengumumkan penghentian sementara operasi “Project Freedom”.

Operasi tersebut sebelumnya dirancang Washington untuk membuka kembali akses pelayaran di Selat Hormuz dengan pengawalan militer ketat.

Trump juga sempat memprediksi bahwa perang di Iran akan segera berakhir dalam waktu dekat.

Prediksi itu disampaikannya di tengah upaya keras Washington untuk mencapai kesepakatan guna mengakhiri kebuntuan.

Dua isu utama yang menjadi pokok pembahasan adalah status Selat Hormuz serta program nuklir Teheran yang selama ini menjadi sumber ketegangan.(*)

Editor: 91224 R-ID Elok

TAGS: #

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Advertisement

Top Articles

Statistik Pengunjung