Repelita Tel Aviv - Di tengah gempuran perang multi-front yang melibatkan Iran, Gaza, dan Lebanon, Israel justru menghadapi ancaman terbesarnya yang berasal dari dalam negeri, bukan karena rudal atau serangan musuh, melainkan keretakan struktural pada tubuh Israel Defense Forces (IDF) yang mulai terlihat nyata.
Peringatan keras ini disampaikan langsung oleh Kepala Staf IDF, Letnan Jenderal Eyal Zamir, dalam sebuah rapat kabinet keamanan pada Selasa, 24 Maret 2026, yang kemudian bocor ke publik dan menjadi sorotan luas di berbagai media internasional.
ADVERTISEMENT
Dalam pertemuan tersebut, Zamir menyatakan bahwa militer Israel hampir mencapai titik kritis dan berada di ambang keruntuhan akibat konflik multi-front yang berkepanjangan, dengan pernyataan tegas bahwa ia mengibarkan sepuluh bendera merah kepada para menteri.
Ia menekankan perlunya undang-undang baru tentang wajib militer, reformasi kerangka pasukan cadangan, serta perpanjangan masa dinas sebagai langkah mendesak yang harus segera diambil pemerintah.
Peringatan ini menjadi isyarat paling jelas bahwa mesin perang Israel yang selama ini dikenal tangguh mulai kehabisan bahan bakar utamanya, yaitu sumber daya manusia, di saat IDF sedang terlibat dalam perang habis-habisan melawan Iran.
Perang antara Israel dan Iran telah memasuki pekan keempat sejak 28 Februari 2026, setelah serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran, Sayyid Ali Khamenei, dalam serangan pembuka yang memicu eskalasi besar-besaran.
Sejak itu, konflik telah meluas dan menarik seluruh kawasan Timur Tengah, mengganggu aliran energi global serta menerbarkan ketidakpastian ekonomi di pasar internasional.
Dalam konflik ini, IDF mengklaim telah mencapai keberhasilan signifikan dengan melaksanakan sekitar 400 gelombang serangan di Iran barat dan tengah yang menargetkan infrastruktur militer serta fasilitas produksi strategis musuh.
Juru bicara IDF, Brigadir Jenderal Effie Defrin, bahkan mengungkapkan bahwa Israel memiliki ribuan target ke depan dan rencana operasi setidaknya hingga tiga minggu ke depan melampaui liburan Paskah Yahudi.
Eyal Zamir sendiri dalam pernyataan video pada 21 Maret 2026 menyebut bahwa serangan Iran ke Diego Garcia membuktikan kemampuan Teheran mencapai ibu kota Eropa, namun ia juga menegaskan bahwa Israel telah berhasil melemahkan rezim Iran secara signifikan.
Namun di balik klaim keberhasilan militer tersebut, peringatan internal Zamir justru menggambarkan kondisi sebaliknya, yaitu militer yang kelelahan dan kekurangan personel di saat tuntutan operasional terus meningkat di berbagai front.
Dalam pertemuan kabinet yang dilaporkan oleh media lokal Israel, Zamir secara blak-blakan menggambarkan kondisi terkini pasukan cadangan yang menjadi tulang punggung pertahanan Israel, di mana para tentara cadangan harus menjalani rotasi penugasan sangat padat akibat operasi di Lebanon, Gaza, Suriah, Iran, dan Tepi Barat.
Akibatnya, kelelahan luar biasa melanda para prajurit sehingga Zamir dengan tegas menyatakan bahwa pasukan cadangan tidak akan mampu bertahan dalam keadaan dramatis ini, dan ia mengibarkan sepuluh bendera merah sebagai peringatan.
Puncak dari kekhawatiran itu adalah pernyataan yang paling mengkhawatirkan, yaitu Zamir memperingatkan bahwa tidak akan lama lagi IDF tidak lagi layak bahkan untuk menjalankan misi keamanan rutin jika tidak ada perubahan segera.
Peringatan ini langsung memicu gelombang kritik tajam dari oposisi, di mana Pemimpin Oposisi dan ketua partai Yesh Atid, Yair Lapid, dalam pernyataan televisi pada 26 Maret 2026 menuding pemerintahan Benjamin Netanyahu mengirim tentara ke medan perang multi-front tanpa strategi yang jelas.
Lapid menyatakan bahwa pemerintah mengirim tentara ke perang multi-front tanpa strategi, tanpa cara yang jelas, dan dengan jumlah tentara yang terlalu sedikit, sehingga IDF telah menjangkau melebihi batasnya dan pemerintah meninggalkan pasukan yang terluka di medan perang.
Ia juga menambahkan peringatan keras kepada publik Israel dengan mengatakan bahwa bangsa Israel menghadapi bencana keamanan lain yang harus diwaspadai bersama.
Apa yang dimaksud dengan sepuluh bendera merah oleh Zamir merujuk pada serangkaian indikator kritis yang semuanya bermuara pada satu masalah utama, yaitu kekurangan personel di tengah perang multi-front yang menuntut sumber daya manusia besar.
Dalam pertemuan tersebut, Zamir menguraikan tiga kebutuhan mendesak yang harus segera dipenuhi pemerintah, yaitu undang-undang wajib militer baru yang mengatur wajib militer bagi komunitas ultra-Ortodoks atau Haredi yang selama ini mendapat pengecualian, reformasi kerangka pasukan cadangan, serta perpanjangan masa dinas wajib hingga 36 bulan.
Times of Israel melaporkan bahwa militer Israel saat ini mengalami kekurangan sekitar 12.000 tentara di tengah tuntutan operasional yang terus meningkat, di mana IDF justru dituntut untuk mengamankan perbatasan utara dengan Lebanon, mempertahankan posisi di Jalur Gaza, menjaga stabilitas di Tepi Barat, dan terus melancarkan serangan ke Iran.
Juru bicara IDF secara terbuka mengakui bahwa militer membutuhkan lebih banyak prajurit tempur, terutama di Lebanon selatan di mana Israel sedang membentuk zona pertahanan maju melawan milisi Hizbullah yang didukung Iran.
Salah satu bendera merah yang paling krusial adalah persoalan wajib militer bagi komunitas ultra-Ortodoks, di mana sejak berdirinya negara Israel pada 1948, pria yang mencurahkan hidupnya untuk mempelajari teks suci Yahudi diberi pengecualian dari wajib militer.
Namun di tengah krisis personel seperti sekarang, aturan ini menjadi sumber ketegangan politik luar biasa karena Mahkamah Agung Israel pada tahun 2024 telah memutuskan bahwa tidak ada dasar hukum untuk pengecualian tersebut.
Perdana Menteri Benjamin Netanyahu, yang bergantung pada dukungan partai-partai ultra-Ortodoks untuk mempertahankan kekuasaannya, terus menggunakan berbagai taktik untuk menunda penerapan undang-undang wajib militer bagi kelompok tersebut.
Menurut laporan, sekitar 60 persen warga Israel mendukung kelanjutan perang melawan Iran dan 67 persen mendukung operasi tempur melawan Hizbullah di Lebanon, namun dukungan publik ini tidak serta merta mengubah kebuntuan politik di dalam negeri.
Yair Lapid menyerukan tindakan tegas agar pemerintah berhenti menjadi pengecut, segera menghentikan semua pendanaan bagi para penghindar wajib militer dari kalangan Haredi, mengirim polisi militer untuk mengejar para pembangkang, dan merekrut mereka tanpa ragu-ragu.
Mantan Perdana Menteri Naftali Bennett juga mengkritik kebijakan ini dengan menyebut bahwa mereka telah membangun negara ultra-Ortodoks di dalam Israel, sementara pemimpin partai Demokrat, Yair Golan, menuduh koalisi Netanyahu meninggalkan keamanan Israel.
Tokoh partai tengah-kanan dan mantan kepala staf, Gadi Eisenkot, menyatakan di platform media sosial bahwa menerapkan undang-undang wajib militer untuk semua adalah perintah saat ini, ini adalah perintah hati nurani yang akan mengembalikan Israel ke jalan yang lurus.
Tekanan luar biasa pada sumber daya manusia IDF ini merupakan akumulasi dari lebih dari dua tahun konflik intensitas tinggi yang dimulai sejak serangan 7 Oktober 2023, yang kini telah melebar menjadi perang langsung melawan Iran di berbagai front.
Di front utara, ketegangan dengan Hizbullah terus memanas karena kelompok yang didukung Iran itu mulai meluncurkan roket ke Israel pada 2 Maret 2026 untuk membalas kematian Sayyid Ali Khamenei, dengan pemimpin Hizbullah menyatakan bahwa negosiasi dengan Israel sama saja dengan menyerah.
Menurut laporan, Hizbullah meluncurkan lebih dari 80 serangan terhadap Israel pada 25 Maret saja, yang merupakan jumlah harian terbesar dalam perang saat ini, sementara di Gaza meskipun gencatan senjata resmi berlaku, ketegangan masih tinggi.
Di Tepi Barat, kekerasan pemukim meningkat dan menambah beban operasional pasukan Israel, bahkan di kawasan Teluk dampak perang mulai terasa dengan Arab Saudi mengklaim telah mencegat setidaknya 18 drone, sementara Uni Emirat Arab dan Bahrain melaporkan serangan dari Iran.
Di tengah semua ini, Netanyahu dilaporkan telah memerintahkan percepatan serangan udara terhadap Iran selama 48 jam karena khawatir Presiden Amerika Serikat Donald Trump akan menghentikan perang lebih cepat dari yang diinginkan Israel.
Menurut laporan media internasional, Netanyahu memerintahkan akselerasi kampanye udara setelah pemerintahannya memperoleh salinan rencana 15 poin Amerika Serikat untuk mengakhiri perang, karena Israel khawatir rencana tersebut tidak secara memadai mengatasi program nuklir dan kemampuan rudal balistik Iran.
Keputusan untuk mengakhiri perang sepenuhnya berada di tangan Trump, yang membuat Netanyahu memiliki pengaruh terbatas atas kesimpulannya, sementara Trump sendiri dalam pernyataan terbarunya mengatakan bahwa Iran ingin membuat kesepakatan untuk mengakhiri perang.
Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, membantah klaim tersebut dengan menegaskan bahwa Iran akan mengakhiri perang dengan caranya sendiri, dengan cara yang tidak akan terulang lagi di masa depan.
Peringatan yang disampaikan Eyal Zamir bukan sekadar drama politik internal, melainkan pengakuan dari pucuk pimpinan militer tertinggi Israel bahwa negara tersebut menghadapi krisis eksistensial yang berasal dari dalam tubuh pertahanannya sendiri.
Tanpa perubahan segera, terutama dalam merekrut kaum Haredi dan memperpanjang masa dinas, struktur pertahanan yang selama ini menjadi kebanggaan Israel terancam roboh karena Zamir memperingatkan bahwa dengan laju seperti ini, IDF tidak akan siap untuk misi rutinnya dalam waktu dekat.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok
@grok what's all about the IDF please emphasize.
— Engr oyibo donatus (@DonyiboOyibo) March 26, 2026