Berita, Nasional

Keluarga Serda Ahmad Muzammil Tuntut Keadilan, Dugaan Penganiayaan Senior di Mabes AU Disorot

Repelita.net

12 September 2026 21:43 WIB • 497 view

Keluarga Serda Ahmad Muzammil Tuntut Keadilan, Dugaan Penganiayaan Senior di Mabes AU Disorot
Foto: Istimewa

Repelita Jakarta - Pihak keluarga dari almarhum Serda Ahmad Muzammil Farisa yang merupakan seorang prajurit TNI Angkatan Udara berusia 22 tahun kini menuntut keadilan setelah mendapati kejanggalan besar di balik kematian anak mereka.

Awalnya, pihak keluarga di Kabupaten Magetan mendapatkan pemberitahuan bahwa pemuda tersebut gugur akibat mengalami insiden kecelakaan di jalan raya.

ADVERTISEMENT

Namun narasi tersebut mendadak berubah drastis setelah keluarga menerima informasi lain yang menyatakan bahwa sang prajurit muda meregang nyawa akibat dianiaya oleh empat orang seniornya di dalam mes markas besar.

Ayah kandung korban yang bernama Toni Eko Prasetyo menuturkan bahwa dirinya pertama kali dihubungi mengenai kabar duka tersebut pada hari Kamis tanggal 10 September tahun 2026 pagi.

Dalam komunikasi awal itu, pihak keluarga diberi tahu bahwa anak sulung dari tiga bersaudara tersebut meninggal dunia karena kecelakaan maut.

Berselang kemudian, Toni justru memperoleh informasi berbeda yang membeberkan adanya rentetan dugaan tindakan kekerasan fisik atau penganiayaan yang dialami putranya di dalam lingkungan asrama.

Berdasarkan keterangan yang berhasil dihimpun oleh pihak keluarga, aksi pengeroyokan tersebut diduga terjadi di dalam mes pada hari Rabu tanggal 9 September tahun 2026 sejak malam hari.

Saya terima informasi kejadiannya di mes jam 11 malam, ujar Toni Eko Prasetyo saat memberikan keterangan kepada awak media pada hari Sabtu tanggal 12 September tahun 2026.

Tindak kekerasan tersebut dilaporkan sempat mereda sejenak sebelum akhirnya kembali dilanjutkan oleh para senior korban pada waktu dini hari menjelang pagi hari.

Sempat berhenti lanjut jam 1 dini hari, penganiayaan oleh empat orang, tambahnya membeberkan kronologi yang ia terima dari berbagai sumber di lingkungan kedinasan.

Kecurigaan keluarga semakin menguat tatkala mereka melihat secara langsung kondisi fisik jenazah korban yang dipenuhi dengan tanda-tanda kekerasan sebelum dimakamkan.

Sang ayah menyebutkan bahwa pada bagian dagu almarhum terdapat bekas luka yang menyerupai akibat benturan benda tumpul.

Selain itu, ditemukan pula sejumlah luka lebam pada bagian dada korban yang diyakini merupakan bekas hantaran pukulan tangan kosong.

Lukanya di dagu ada benturan kemudian lebam di dada seperti bekas pukulan, ungkap Toni dengan nada penuh kepedihan.

Almarhum Serda Ahmad Muzammil sendiri tercatat merupakan seorang prajurit militer udara yang baru mengabdikan diri selama kurang lebih satu setengah tahun sebagai bintara psikologi di Markas Besar TNI AU.

Guna mengungkap tabir di balik kematian tidak wajar tersebut, jenazah almarhum sempat menjalani prosedur autopsi di Rumah Sakit Polri Kramatjati, Jakarta.

Kendati demikian, hingga saat ini pihak keluarga mengaku belum menerima laporan resmi secara tertulis mengenai hasil autopsi maupun pemeriksaan laboratorium forensik dari pihak berwenang.

Apabila dugaan tindak penganiayaan berat oleh para senior tersebut terbukti secara hukum, pihak keluarga mendesak agar para pelaku diproses secara transparan dan dijatuhi hukuman setimpal.

Keluarga berharap para terduga pelaku tidak hanya dihukum secara militer, tetapi juga dijatuhi sanksi pemecatan atau pemberhentian tidak dengan hormat dari dinas keprajuritan.

Dugaan penganiayaan senior ini juga dikuatkan oleh kesaksian rekan seangkatan korban serta sejumlah dokumentasi foto yang memperlihatkan kondisi luka di tubuh almarhum.

Menghadapi tragedi berdarah di lingkungan militer ini, sang ayah lantas memohon kepada jajaran pimpinan tertinggi negara untuk turun tangan memberikan perhatian serius.

Harapan kami, Pak Presiden Prabowo, Pak KSAU juga Panglima TNI bisa mengevaluasi lebih terkait kejadian ini, seru Toni dengan penuh haru.

Ia menilai peristiwa kelam ini sangat memprihatinkan lantaran lokasi kejadian berada di jantung kesatuan utama dan bukan di daerah terpencil di luar pulau Jawa.

Karena kejadiannya di Mabes AU, bukan di luar Jawa, tegas beliau menyuarakan kekecewaannya.

Di Mabes AU saja bisa kejadian seperti ini, saya sangat prihatin selaku orang tua kehilangan anak saya, pungkasnya menutup pernyataan.

Sebelumnya, kepulangan jenazah almarhum ke rumah duka yang terletak di Desa Jonggrang, Kecamatan Barat, Kabupaten Magetan, Jawa Timur, tiba pada hari Jumat tanggal 11 September tahun 2026 pukul 01.00 WIB.

Jenazah diantar menggunakan kendaraan ambulans milik kesatuan TNI Angkatan Udara sebelum akhirnya dikebumikan di tempat pemakaman umum desa setempat dalam suasana duka yang mendalam.(*)

Editor: 91224 R-ID Elok

TAGS: #

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Advertisement

Top Articles

Statistik Pengunjung