Repelita Teheran - Janji yang disampaikan Amerika Serikat dan Israel bahwa operasi militer mereka tidak menargetkan area sipil kini mulai dipertanyakan secara serius setelah data terbaru dari Iran mengungkap angka kehancuran infrastruktur sipil yang mencengangkan.
Bulan Sabit Merah Iran merilis laporan komprehensif mengenai kerusakan fasilitas sipil sejak perang dimulai pada 28 Februari 2026, dengan angka yang berbicara sendiri mengenai skala kehancuran yang terjadi di berbagai wilayah Iran.
ADVERTISEMENT
Berdasarkan laporan tersebut, sebanyak 87.294 unit sipil tercatat rusak atau hancur total akibat serangan udara gabungan yang dilancarkan oleh Amerika Serikat dan Israel selama konflik berlangsung.
Di balik setiap unit yang hancur, terdapat keluarga yang kehilangan tempat tinggal, anak-anak yang kehilangan akses terhadap sekolah, serta pasien yang kehilangan kesempatan untuk mendapatkan layanan kesehatan yang layak.
Ketua Bulan Sabit Merah Iran, Pirhossein Kolivand, secara tegas menyebut tindakan ini sebagai kejahatan perang berdasarkan ketentuan yang diatur dalam Konvensi Jenewa.
Pernyataan tersebut dirilis di tengah eskalasi konflik yang telah memasuki pekan keempat dan terus meluas ke berbagai wilayah Iran, bahkan hingga ke Provinsi Razavi Khorasan yang sebelumnya relatif aman dari serangan.
Data yang dirilis Kolivand pada Rabu, 25 Maret 2026, merinci secara rinci kerusakan yang terjadi di berbagai sektor sipil dengan klasifikasi yang jelas dan terperinci.
Di sektor perumahan dan komersial, total 87.294 unit sipil terdampak secara keseluruhan, yang terdiri dari 66.261 unit hunian di berbagai provinsi serta 20.127 unit komersial berupa toko dan tempat usaha.
Khusus di Provinsi Teheran saja, tercatat sebanyak 26.926 unit hunian dan komersial yang mengalami kerusakan akibat serangan yang terus berlangsung.
Di sektor kesehatan, sebanyak 289 pusat kesehatan, perawatan, dan gawat darurat dilaporkan rusak, dengan beberapa rumah sakit seperti Rumah Sakit Gandhi dan Rumah Sakit Andishmak mengalami kerusakan parah hingga tidak dapat beroperasi lagi.
Di sektor pendidikan, data menunjukkan bahwa sebanyak 600 sekolah hancur atau mengalami kerusakan berat akibat serangan udara yang menyasar berbagai wilayah di Iran.
Sementara itu, fasilitas kemanusiaan juga tidak luput dari serangan dengan 17 pusat Bulan Sabit Merah yang dilaporkan rusak akibat serangan selama konflik berlangsung.
Di sektor kendaraan operasional dan penyelamat, sebanyak 48 kendaraan operasional berupa truk penyelamat dan derek hancur, sementara 46 ambulans milik Bulan Sabit Merah dan unit darurat juga mengalami kerusakan.
Tiga helikopter penyelamat yang merupakan aset penting bagi operasi kemanusiaan Bulan Sabit Merah dan unit darurat juga dilaporkan hancur total dalam serangan tersebut.
Jika dibandingkan dengan laporan pada pekan pertama konflik yang mencatat sekitar 7.943 unit rumah dan 32 pusat kesehatan rusak, angka kerusakan pada pekan keempat ini menunjukkan lonjakan yang sangat drastis.
Memasuki pekan kedua, angka kerusakan telah melonjak menjadi 46.370 unit sipil, dengan 39.000 di antaranya merupakan unit hunian yang terdampak serangan.
Direktur Urusan Internasional Bulan Sabit Merah Iran, Razieh Alishavandi, menyampaikan bahwa serangan terus berlangsung tanpa henti meskipun target-target yang diserang jelas-jelas merupakan fasilitas sipil yang seharusnya dilindungi dalam konflik bersenjata.
Alishavandi menegaskan bahwa dalam konflik bersenjata, warga sipil seperti anak-anak, pelajar, dan orang tua, serta target-target sipil termasuk unit hunian dan sekolah, seharusnya tidak menjadi sasaran serangan.
Memasuki pekan ketiga, Juru Bicara Pemerintah Iran Fatemeh Mohajerani melaporkan bahwa 42.914 fasilitas sipil telah rusak dengan 223 wanita tewas, dan data terbaru kini menunjukkan angka yang hampir dua kali lipat dari laporan sebelumnya.
Di balik kehancuran infrastruktur yang masif, jumlah korban jiwa terus bertambah dengan lembaga pemantau hak asasi Iran, HRANA, mencatat hingga 25 Maret 2026 setidaknya 1.464 warga sipil telah tewas.
Dari jumlah tersebut, sedikitnya 217 anak di bawah umur menjadi korban, sementara lebih dari 300 anak-anak tewas dalam berbagai serangan yang dilancarkan selama konflik.
Sebanyak 226 wanita juga tercatat tewas dalam serangan tersebut, bersama dengan 206 siswa dan guru yang menjadi korban akibat serangan terhadap fasilitas pendidikan.
Di sektor kesehatan, 16 petugas kesehatan gugur saat bertugas, sementara pada pekan pertama konflik saja, laporan UNICEF menyebutkan bahwa sekitar 30 persen dari total korban jiwa adalah anak-anak.
Serangan terhadap sebuah sekolah dasar di kota selatan Minab pada 28 Februari disebut-sebut menewaskan sedikitnya 165 siswa dan staf sekolah yang berusia antara 7 hingga 12 tahun dalam satu insiden tragis.
Kolivand menegaskan bahwa pihaknya terus mendokumentasikan bukti-bukti pelanggaran hukum humaniter internasional yang dilakukan Amerika Serikat dan Israel untuk dikirimkan ke organisasi-organisasi internasional.
Bulan Sabit Merah Iran juga menyatakan kesiapannya untuk menerima bantuan kemanusiaan internasional, terutama obat-obatan untuk pasien kanker dan mereka yang menderita penyakit langka yang saat ini sulit didapatkan di dalam negeri.
Konflik meletus pada 28 Februari 2026 ketika Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan udara gabungan ke Teheran dan beberapa kota besar lainnya yang menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran, Sayyid Ali Khamenei, serta sejumlah komandan militer senior.
Iran merespons dengan gelombang serangan rudal dan drone yang menargetkan Israel serta aset-aset Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah, termasuk di Yordania, Irak, dan negara-negara Teluk.
Konflik dengan cepat meluas menjadi krisis regional yang mengganggu aliran energi global dan menerbarkan ketidakpastian di pasar internasional hingga hari ke-26 perang dengan serangan yang telah mencapai 13 provinsi di Iran.
Menteri Pertahanan Israel mengklaim bahwa lebih dari 15.000 bom telah dijatuhkan di Iran, angka yang empat kali lipat dari total bom yang digunakan dalam konflik sebelumnya selama 12 hari.
Ketika perang dimulai, Amerika Serikat dan Israel berulang kali menyatakan bahwa operasi mereka ditargetkan secara presisi dan tidak menyasar area sipil, namun data dari Bulan Sabit Merah Iran menunjukkan gambaran yang sangat berbeda.
Dengan 66.261 rumah hancur, 289 pusat kesehatan rusak, 600 sekolah luluh lantak, serta 46 ambulans dan 3 helikopter penyelamat yang tak lagi berfungsi, pertanyaan mengenai justifikasi serangan terhadap fasilitas sipil dalam hukum perang kini mengemuka di forum-forum internasional.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok