Repelita Teheran - Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) mengumumkan bahwa mereka telah melancarkan serangan rudal terhadap pangkalan militer Amerika Serikat dan berhasil mengusir paksa kapal amfibi AS dari perairan regional.
Dilansir dari kanal berita Tasnim News, serangan rudal IRGC menargetkan sejumlah aset penting militer Amerika Serikat dan Zionis Israel, termasuk pangkalan komando, fasilitas operasional, serta logistik industri militer.
ADVERTISEMENT
IRGC mengklaim bahwa unit Angkatan Laut dan Angkatan Udara mereka telah melakukan serangkaian operasi gabungan dalam gelombang ke-98 Operasi Janji Sejati 4.
Sasaran operasi ini meliputi pangkalan komando, fasilitas operasional, logistik, dan infrastruktur industri militer AS serta rezim Zionis.
Pada fase pertama operasi, pasukan angkatan laut IRGC mengklaim secara tepat menargetkan kapal kargo Israel bernama SDN7 dengan rudal jelajah hingga menyebabkan kapal tersebut terbakar hebat.
IRGC juga mencatat serangan di utara dan selatan Tel Aviv, pusat-pusat strategis di Haifa, perusahaan kimia dan pabrik-pabrik di Be'er Sheva, serta lokasi pasukan militer Israel di Petah Tikva.
"Karena sistem pertahanan udara canggih rezim Zionis tidak mampu mencegat rudal-rudal tersebut," bunyi keterangan dalam kanal berita tersebut dikutip pada Selasa (7/4/2026).
Lebih lanjut, IRGC menyatakan bahwa kapal serbu amfibi militer Amerika LHA-7 yang membawa lebih dari 5.000 marinir serta helikopter juga terkena serangan rudal Iran yang cepat.
Serangan ini memaksa kapal perang besar tersebut mundur jauh ke Samudra Hindia bagian selatan.
"Di bagian lain dari operasi ofensif, pusat produksi drone gabungan UEA dan rezim Zionis bersama dengan sejumlah pesawat yang ditempatkan di Pangkalan Udara Ali Al-Salem menjadi sasaran tepat oleh drone dan rudal," kata IRGC.
Pernyataan tersebut memperjelas bahwa operasi ofensif Angkatan Bersenjata Republik Islam dan kelompok-kelompok perlawanan di kawasan terhadap target musuh akan terus berlanjut.
Lalu lintas di Selat Hormuz dan aktivitas di perairan Teluk Persia saat ini dipantau ketat oleh angkatan laut IRGC.
"Setiap pergerakan kecil oleh pihak musuh akan menghadapi tanggapan tegas dari angkatan militer Iran," tegas pernyataan resmi IRGC.
Republik Islam secara tegas menolak tawaran gencatan senjata dalam konflik melawan Amerika Serikat dan Israel, dengan keputusan itu disampaikan melalui Pakistan sebagai mediator.
Kantor berita pemerintah Iran, Irna, pada Senin (4/4/2026) melaporkan bahwa Teheran telah mengirimkan respons atas proposal AS yang dituangkan dalam sepuluh poin.
Kepala Misi Diplomatik Iran di Kairo, Mojtaba Ferdosipour, menegaskan bahwa gencatan senjata sementara tidak cukup untuk mengakhiri konflik yang telah berlangsung lebih dari satu bulan.
Selain menolak gencatan senjata, Teheran juga mengajukan tuntutan berupa penghentian konflik di kawasan, penyusunan protokol keamanan pelayaran di Selat Hormuz, rekonstruksi, serta pencabutan sanksi.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok