Repelita New York - Pasar energi global kembali berguncang pada perdagangan Kamis (9/4/2026) setelah harga minyak mentah dunia berbalik menguat signifikan.
Lonjakan ini dipicu oleh pernyataan keras Teheran yang menuding Amerika Serikat telah mengkhianati kesepakatan gencatan senjata dua pekan yang baru saja disepakati bersama.
ADVERTISEMENT
Pada penutupan perdagangan Kamis pekan ini, harga minyak Brent untuk pengiriman Juni berhasil meroket 2,08 persen ke level 96,83 dolar AS per barel.
Tren serupa juga terjadi pada minyak West Texas Intermediate (WTI) pengiriman Mei yang melonjak 2,86 persen menjadi 97,27 dolar AS per barel.
Pergerakan harga yang tajam ini sekaligus menghapus harapan pasar akan stabilitas energi jangka panjang yang sempat muncul saat pengumuman de-eskalasi kemarin.
Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, secara resmi menyatakan bahwa Amerika Serikat telah mengkhianati elemen-elemen penting dalam proposal gencatan senjata 10 poin yang telah disepakati.
Menurut pihak Iran, serangan berkelanjutan Israel di wilayah Lebanon serta masuknya pesawat tak berawak ke ruang udara Iran menjadi bukti nyata rapuhnya komitmen Barat.
“Ketidakpercayaan historis yang mendalam yang kami miliki terhadap Amerika Serikat berasal dari pelanggaran berulang-ulang terhadap semua bentuk komitmen, sebuah pola yang sayangnya telah terulang kembali,” tegas Ghalibaf melalui pernyataan di media sosial resminya.
Selain masalah keamanan wilayah, Iran juga menyoroti penolakan hak Teheran untuk memperkaya uranium sebagai poin pelanggaran serius lainnya.
Di sisi lain, Wakil Presiden AS JD Vance menangkis tuduhan tersebut dengan menyatakan bahwa urusan Lebanon tidak termasuk dalam lingkup kesepakatan jalur aman Selat Hormuz.
Meskipun ada upaya pembukaan kembali Selat Hormuz, data dari Kpler menunjukkan lalu lintas kapal tanker hingga saat ini belum mengalami normalisasi.
Kelancaran distribusi minyak masih terhambat karena prosedur inspeksi yang sangat ketat dari pihak Angkatan Bersenjata Iran.
Sekitar 20 persen pasokan minyak global bergantung pada jalur sempit Selat Hormuz, sehingga gangguan kecil di sana dapat memicu lonjakan harga instan.
Muncul laporan bahwa Teheran berencana meminta pemilik kapal membayar tol dalam bentuk mata uang kripto untuk bisa melewati selat tersebut.
Serangan yang terjadi sejak Februari lalu juga telah merusak sebagian infrastruktur minyak, membuat kapasitas produksi tidak bisa kembali seratus persen dalam waktu singkat.
Para analis memperingatkan bahwa periode transisi gencatan senjata ini justru bisa menjadi tantangan baru bagi kilang minyak global.
Jika kilang menunda pembelian karena berharap harga akan turun lebih jauh, dunia justru terancam mengalami kelangkaan produk fisik di tengah ketidakpastian politik.
"Sekarang harga minyak di bawah 100 dolar AS per barel, kilang minyak harus menggunakan kesempatan ini untuk melakukan pembelian oportunistik. Namun, jika aliran fisik tetap terbatas, kelangkaan produk bisa memburuk," jelas Janiv Shah, Wakil Presiden Pasar Komoditas di Rystad Energy.
Sebagai konteks, pada perdagangan Rabu (8/4/2026), harga minyak sempat terjun bebas lebih dari 16 persen untuk WTI dan 13 persen untuk Brent.
Koreksi harian tersebut merupakan yang terbesar sejak era pandemi COVID-19 pada tahun 2020.
Namun penguatan pada hari Kamis ini membuktikan bahwa pasar tetap skeptis terhadap janji perdamaian antara Washington dan Teheran.
Selama kesepakatan Hormuz yang rapuh ini belum membuahkan hasil nyata dalam mobilitas kapal tanker, harga minyak dunia diprediksi akan terus berfluktuasi liar di atas level 95 dolar AS per barel.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok