Repelita [Teheran] - Pasukan militer Iran dilaporkan telah melancarkan serangan terhadap sebuah kapal tanker minyak milik Qatar pada Sabtu, 9 Mei 2026 malam karena dianggap melanggar aturan blokade di wilayah Selat Hormuz.
Insiden tersebut memicu kebakaran pada beberapa bagian kapal, namun otoritas terkait memastikan bahwa api telah berhasil dikendalikan dan tidak ada korban jiwa yang jatuh akibat peristiwa tersebut.
ADVERTISEMENT
Sempat menjadi misteri, identitas pelaku penyerangan akhirnya terungkap setelah Juru Bicara militer Iran, Mohammad Akraminia, secara resmi memberikan pernyataan yang mengakui keterlibatan pihaknya dalam aksi tersebut.
Kapal tanker bernama Al Kharaitiyat tersebut sedang dalam misi membawa minyak dari fasilitas Ras Laffan di Qatar menuju Pakistan, yang menjadi ekspor minyak perdana negara itu sejak konflik pecah pada Februari lalu.
Sebelum berlayar, kapal ini sempat memuat bahan bakar di Ras Laffan, sebuah lokasi strategis yang sebelumnya juga pernah menjadi sasaran serangan militer Iran pada medio Maret tahun ini.
Dalam rute perjalanannya menuju Pakistan, Al Kharaitiyat dijadwalkan akan melakukan persinggahan di wilayah Oman, meskipun muncul beberapa spekulasi yang menyebutkan rencana transit di pelabuhan milik Iran.
Ketegangan di jalur perairan tersebut merupakan buntut dari keputusan Teheran yang kembali menutup Selat Hormuz secara ketat sejak akhir Februari sebagai reaksi atas tewasnya Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei.
Meski sempat ada pelonggaran jalur pada pertengahan April sebagai bagian dari rencana gencatan senjata, Iran memutuskan untuk menutup kembali akses tersebut karena merasa AS masih melakukan blokade pelabuhan militer mereka.
Upaya perdamaian melalui proposal yang dikirimkan lewat Pakistan pada akhir April pun belum membuahkan hasil lantaran Presiden Donald Trump menuntut penghentian total program nuklir sebagai syarat utama kerja sama.
Situasi semakin kompleks karena Amerika Serikat kini turut melakukan blokade di Selat Hormuz, yang secara praktis membuat jalur laut paling vital di dunia tersebut berada di bawah kendali dua kekuatan militer yang berseteru.
Presiden Donald Trump sendiri sempat mengumumkan rencana operasi Project Freedom melalui unggahannya di media sosial Truth Social pada 3 Mei 2026 untuk mengawal pelayaran bebas kapal-kapal internasional di kawasan tersebut.
Langkah operasi militer tersebut sempat tertunda karena Trump meyakini adanya progres dalam negosiasi damai, namun ia menegaskan akan meluncurkan operasi Project Freedom Plus jika proses diplomasi kembali menemui jalan buntu.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok