Repelita Teheran - Ketegangan antara Iran dengan Amerika Serikat dan Israel memasuki babak baru yang lebih berbahaya setelah Teheran secara resmi menyiapkan kekuatan terbaiknya menyusul eskalasi konflik yang perlahan bergerak memasuki fase kedua.
Bukan hanya satu atau dua unit saja, sejumlah pasukan elite dari dua cabang angkatan bersenjata utama Republik Islam Iran kini disatukan dalam sebuah rencana operasi gabungan yang komprehensif.
ADVERTISEMENT
Target dari rencana operasi gabungan ini jelas, yaitu memberikan pukulan telak kepada musuh, yakni Amerika Serikat dan Israel, yang mengonfirmasi bahwa Teheran tidak hanya bersiap untuk bertahan tetapi juga merancang skenario serangan balasan yang terstruktur dan mematikan.
Dalam rencana yang telah disusun, Pasukan Khusus Nohad dari Angkatan Darat Iran akan berpadu dengan Pasukan Khusus Saberin dari Korps Garda Revolusi Islam (IRGC), menciptakan kekuatan tempur yang dinilai sangat berpengalaman dalam perang asimetris dan gerilya.
Keseriusan langkah yang diambil Republik Islam ini juga muncul sebagai respons atas sinyal-sinyal keras dari Washington, di mana Pentagon diketahui tengah menyusun opsi-opsi untuk pukulan terakhir terhadap Iran.
Opsi-opsi yang disiapkan Pentagon tersebut mencakup kemungkinan invasi pulau-pulau strategis milik Iran hingga serangan terhadap fasilitas nuklir, dan kini bola panas tersebut bergulir balik ke kubu Amerika Serikat.
Fokus utama dari rencana operasi gabungan yang melibatkan dua unit elite ini adalah kemampuan untuk melancarkan pukulan cepat, kuat, dan menyakitkan terhadap kepentingan Amerika di kawasan.
Kata menyakitkan yang digunakan dalam pernyataan sumber militer Iran bukanlah sekadar retorika, melainkan indikasi nyata dari target-target strategis yang akan menjadi sasaran serangan balasan.
Pasukan Khusus Nohad, yang merupakan singkatan dari Pasukan Khusus Brigade Lintas Udara ke-65 Angkatan Darat Republik Islam, dikenal sebagai pasukan yang sangat terlatih untuk menghadapi ancaman modern di berbagai kondisi geografis.
Berdasarkan data yang ada, Brigade ke-65 ini memiliki spesialisasi dalam konfrontasi dengan kelompok teroris dan memantau pergerakan ancaman di kawasan Asia Barat dengan teknik dan taktik yang tepat.
Kolonel Holako Ahmadian selaku Komandan Brigade tersebut sebelumnya telah menekankan bahwa pasukannya dilatih mengikuti ancaman masa kini di berbagai wilayah iklim yang berbeda di negara itu.
Kehadiran Pasukan Khusus Nohad dalam rencana ini menunjukkan adanya strategi untuk operasi di medan berat dan kontra-terorisme skala besar yang menjadi keahlian utama mereka.
Di sisi lain, Pasukan Khusus Saberin merupakan unit elite dalam Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) yang jika Nohad adalah ujung tombak Angkatan Darat konvensional, maka Saberin adalah salah satu unit terbaik di seluruh angkatan bersenjata Teheran.
Unit Saberin adalah unit Takavar yang setara dengan Komando yang beranggotakan antara 6.000 hingga 8.000 orang, semuanya adalah relawan yang dipilih secara khusus dari unit-unit terbaik di IRGC.
Semboyan mereka diambil dari Alquran yang berbunyi bahwa jika ada 20 orang Saberin di antara mereka, mereka akan mengalahkan 200 orang, dan jika ada 100 orang Saberin, mereka akan mengalahkan 1.000 orang kafir.
Unit ini memiliki pengalaman tempur yang luas mulai dari operasi kontra-insurjensi di perbatasan Iran hingga intervensi langsung dalam perang saudara di Suriah dan Irak, menjadikan mereka pasukan yang sangat berpengalaman dalam operasi ekspedisi.
Yang membuat rencana ini berbeda dari sebelumnya adalah sifatnya yang gabungan, bukan hanya karena melibatkan dua kesatuan dari institusi yang berbeda tetapi juga karena kombinasi doktrin perang yang akan digunakan.
Informasi dari sumber militer Iran mengindikasikan bahwa dalam rencana ini, unit perang gerilya akan dipadukan dengan pasukan khusus untuk melancarkan serangan yang mengisyaratkan strategi dua lapis.
Strategi tersebut adalah pertama, menggunakan taktik gerilya untuk melemahkan dan menciptakan kekacauan di belakang garis musuh, kemudian diikuti dengan serangan cepat dan presisi dari pasukan khusus.
Sumber-sumber tersebut menyebutkan bahwa skenario yang sedang dievaluasi mencakup aksi-aksi seperti penculikan terhadap pejabat, personel militer, atau bahkan pengusaha Amerika yang diyakini terinspirasi oleh peristiwa serupa pada tahun 1980-an.
Cakupan geografis operasi ini juga diperkirakan akan meluas tidak hanya terbatas pada perbatasan Iran, tetapi dapat menyasar Irak khususnya Wilayah Kurdistan Irak hingga negara-negara Teluk seperti Bahrain, Uni Emirat Arab, dan bahkan Kuwait.
Jika skenario ini terjadi, maka konflik tidak lagi bersifat bilateral tetapi akan langsung mengganggu stabilitas kawasan Teluk yang menjadi jalur vital ekonomi dunia.
Penggabungan kekuatan Nohad dan Saberin ini tidak terjadi dalam ruang hampa karena dalam beberapa pekan terakhir ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat telah mencapai titik didih baru.
Di pihak Amerika, laporan mengungkapkan bahwa Pentagon sedang menyusun empat opsi besar untuk melancarkan pukulan terakhir jika negosiasi diplomatik menemui jalan buntu.
Keempat opsi tersebut meliputi invasi atau blokade Pulau Kharg yang menjadi pusat utama ekspor minyak Iran, invasi Pulau Larak yang membantu Iran mengendalikan Selat Hormuz, perebutan Pulau Abu Musa yang diklaim oleh Uni Emirat Arab, serta operasi darat di dalam Iran untuk mengamankan fasilitas pengayaan uranium.
Presiden Amerika Serikat Donald Trump sendiri, meski menyebut opsi pengerahan pasukan darat masih hipotetis, telah menyatakan kesiapannya untuk meningkatkan eskalasi jika pembicaraan dengan Iran tidak membuahkan hasil.
Skenario perang darat ini mendapat respons sengit dari Teheran, di mana seorang sumber keamanan tinggi Iran menyatakan bahwa pasukan keamanan Iran telah sepenuhnya siap.
Sumber tersebut secara blak-blakan menyebut bahwa setiap serangan darat atau serangan udara Amerika Serikat akan dilihat Iran sebagai peluang emas untuk membunuh atau menangkap pasukan musuh.
Pernyataan tersebut memperkuat analisis bahwa pengalaman tempur yang dikumpulkan Iran melalui proksi dan operasi langsung di negara-negara tetangga selama dua dekade terakhir kini telah matang dan siap dihadapkan pada kekuatan konvensional Amerika Serikat.
Istilah fase kedua perang yang muncul dalam berbagai laporan merujuk pada titik di mana konflik tidak lagi hanya berupa perang proksi atau serangan terbatas, tetapi telah beralih ke operasi skala penuh.
Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, dalam pernyataannya sebelumnya telah menegaskan bahwa Iran tidak gentar menghadapi tekanan militer Amerika Serikat dan menyatakan jika Amerika memilih skenario militer, Iran siap untuk berperang.
Pernyataan itu diperkuat dengan komentar terbaru bahwa Iran akan mengakhiri perang dengan caranya sendiri, menunjukkan tekad yang kuat untuk menentukan jalannya konflik.
Di lapangan, perang yang berlangsung sejak Juni 2025 telah menelan korban jiwa yang signifikan dengan pihak berwenang Iran melaporkan lebih dari 1.500 korban jiwa sementara Amerika Serikat mengonfirmasi setidaknya 13 personel militernya tewas.
Angka-angka korban jiwa ini menjadi latar belakang mengapa kedua pihak kini sama-sama menyiapkan pukulan yang menentukan dalam konflik yang terus bereskalasi.
Dengan disatukannya Pasukan Khusus Nohad dan Saberin dalam satu komando operasi, Iran telah mengirim sinyal yang tidak salah lagi bahwa mereka siap untuk membalas, dan pukulan balasan itu akan datang dari unit-unit terbaik yang mereka miliki.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok