Berita, Publika Repelita

Iran Pecah? IRGC Disebut Mulai Lucuti Kekuatan Mojtaba Khamenei

Repelita.net

29 April 2026 21:48 WIB • 1,257 view

Iran Pecah? IRGC Disebut Mulai Lucuti Kekuatan Mojtaba Khamenei
Foto: Istimewa

Repelita London - Struktur kekuasaan di Iran dikabarkan mulai retak setelah Korps Garda Revolusi Islam atau IRGC disebut-sebut secara perlahan melucuti otoritas yang dimiliki oleh Pemimpin Tertinggi baru, Mojtaba Khamenei, di tengah perang melawan Amerika Serikat dan Israel.

Berdasarkan laporan Reuters yang terbit pada Selasa, 28 April 2026, tatanan baru ini muncul menyusul tewasnya Ayatollah Ali Khamenei yang selama ini menjadi pemegang otoritas tunggal di Teheran, sementara putranya hanya berfungsi sebagai pemberi restu.

ADVERTISEMENT

Peralihan kekuasaan dari tangan ulama ke panglima perang ini semakin jelas setelah IRGC mengambil alih kendali penuh atas keputusan strategis negara, mulai dari operasi militer hingga jalannya negosiasi diplomatik.

Sejumlah sumber internal menyebutkan bahwa Mojtaba yang menderita luka parah akibat serangan udara di awal perang kini terisolasi dan tidak memiliki kekuatan untuk membatalkan keputusan yang telah dirumuskan oleh para jenderal.

"Warga Iran sangat lambat dalam merespons. Tampaknya tidak ada satu struktur komando pengambilan keputusan yang tunggal. Terkadang, mereka membutuhkan waktu 2 hingga 3 hari hanya untuk merespons," ujar seorang pejabat senior pemerintah Pakistan yang terlibat dalam mediasi damai antara Iran dan AS, dikutip pada Rabu, 29 April 2026.

Dominasi militer atas kekuasaan politik ini dipicu oleh situasi darurat perang yang memusatkan seluruh wewenang pada Dewan Keamanan Nasional Tertinggi yang kini dikuasai oleh para komandan IRGC.

Nama Ahmad Vahidi, seorang komandan senior Garda Revolusi, disebut-sebut sebagai sosok paling berpengaruh di Iran saat ini yang mengatur strategi tempur sekaligus menentukan arah kebijakan luar negeri.

Para analis menilai bahwa peran Mojtaba saat ini tidak lagi bersifat komando seperti ayahnya, melainkan hanya sebagai alat untuk menjaga konsensus institusional agar rezim tetap terlihat solid di mata dunia.

Secara bertahap, pengaruh para ulama dan lembaga keagamaan mulai tergerus oleh dominasi sektor keamanan yang memegang kendali atas sumber daya negara.

"Penting untuk dicatat bahwa kesepakatan-kesepakatan besar mungkin melewati dia, tetapi saya tidak bisa membayangkan dia berani membatalkan keputusan Dewan Keamanan Nasional. Bagaimana dia bisa menentang pihak-pihak yang menjalankan upaya perang?" kata analis Iran, Arash Azizi.

Di sisi lain, negosiasi dengan Washington masih terus menemui jalan buntu karena IRGC enggan terlihat lemah di meja diplomasi sementara AS bersikeras masalah nuklir harus dibahas sejak awal.

Mantan negosiator AS, Aaron David Miller, menyebut fenomena ini sebagai pergeseran fundamental dari kekuasaan ilahi para ulama menuju kekuasaan keras militer di Iran.

"Kita telah beralih dari kekuasaan ilahi ke kekuasaan keras. Dari pengaruh ulama ke pengaruh Korps Garda Revolusi. Inilah cara Iran diperintah sekarang," ujar Miller.

Hingga berita ini diturunkan, pihak Kementerian Luar Negeri Iran belum memberikan komentar resmi terkait laporan perpecahan struktur kekuasaan tersebut.(*)

Editor: 91224 R-ID Elok

TAGS: #

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Advertisement

Top Articles

Statistik Pengunjung