Repelita Teheran - Kejutan besar Iran terhadap Israel dan Amerika Serikat terus berlanjut, bahkan mereka terus menggempur sejumlah wilayah Zionis Israel dan aset vital AS di Timur Tengah.
Menurut laporan Tasnim News, seorang pejabat keamanan senior Iran menggarisbawahi bahwa Teheran bergerak maju berdasarkan rencana dan daftar target yang telah disusun.
ADVERTISEMENT
Ia juga menyatakan bahwa Republik Islam berjanji akan memberikan kejutan besar bagi agresor AS-Israel di tengah eskalasi konflik yang terus memanas.
Pejabat tersebut menyebut bahwa serangan atau target yang dipilih AS dan Israel terhadap Iran dinilai tidak tepat sasaran.
"Jelas, daftar target AS tidak tepat, tetapi Iran bergerak maju persis sesuai dengan rencana dan daftar targetnya," katanya kepada media.
Lebih lanjut ia juga menyebut operasi militer AS terhadap Iran telah gagal, terutama setelah Teheran berhasil menembak jatuh sejumlah pesawat Amerika.
Menurutnya, Presiden Donald Trump telah menggunakan media untuk menutupi kelemahan AS di medan perang dan menampilkan target-target seperti jembatan di antara target-target AS.
“Itu tidak masuk akal. Kami memiliki kejutan besar untuk AS dan rezim Israel, hanya butuh sedikit waktu. Tentu saja, tindakan mereka di Iran selatan dapat mengubah keadaan menjadi menguntungkan kita,” tegasnya.
Ia menambahkan bahwa Iran telah belajar dengan baik dalam perang asimetris bagaimana cara melemahkan musuh secara perlahan namun pasti.
“Dan bahkan hari ini, AS telah gagal dalam strategi perang cepat dan mudahnya terhadap Iran,” ujar pejabat tersebut.
Sementara itu, Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) mengumumkan gelombang serangan skala besar baru yang menargetkan titik-titik berkumpul militer AS, sistem rudal Patriot, dan aset terkait Israel di seluruh Asia Barat.
Serangan ini merupakan bagian dari fase ke-95 Operasi True Promise 4 yang telah dilakukan pada Sabtu (4/4/2026).
Menurut pernyataan resmi IRGC, operasi ini dilakukan di wilayah luas yang meliputi Asia Barat dan wilayah Palestina yang diduduki dengan menggunakan rudal Haj Qassem, Khaybar-shekan, dan Qadr.
Di antara target yang berhasil dihantam adalah baterai artileri roket HIMARS milik AS yang ditempatkan di Pulau Bubiyan di Kuwait.
Selanjutnya, sistem rudal Patriot AS di Bahrain utara serta lokasi berkumpulnya operator sistem rudal buatan AS juga menjadi sasaran.
Fasilitas yang menampung komandan senior dan instruktur militer AS di Uni Emirat Arab turut dihantam dalam serangan tersebut.
Pernyataan IRGC juga menyebutkan bahwa fasilitas milik perusahaan teknologi kecerdasan buatan Amerika, Oracle Corporation, di UEA menjadi sasaran selama gelombang serangan berlangsung.
Selain itu, sebuah kapal komersial yang diidentifikasi sebagai MCS Ishika yang dilaporkan dimiliki oleh rezim Israel dan berlayar di bawah bendera negara ketiga turut dihantam.
Kapal tersebut dihantam oleh proyektil kuat dari pasukan angkatan laut IRGC saat sedang berlabuh di Pelabuhan Khalifa bin Salman di Bahrain.
IRGC selanjutnya mengumumkan bahwa beberapa lokasi di Tel Aviv, Bnei Brak, Petah Tikva, Ramat Gan, dan Kiryat Shmona menjadi sasaran serangan terus-menerus menggunakan rudal Qadr multi-hulu ledak.
Menurut laporan Fars News Agency pada Senin (6/4/2026), pejabat tinggi Iran itu menegaskan bahwa pihaknya sedang mempersiapkan langkah baru yang belum pernah dilakukan sebelumnya.
"Kami mempunyai kejutan besar bagi Amerika dan Rezim Zionis, ini hanya memerlukan waktu," bunyi laporan tersebut mengutip pernyataan pejabat Iran.
Pejabat yang sama juga menyebut pernyataan AS tentang kemungkinan menargetkan infrastruktur Iran sebagai sesuatu yang konyol dan tidak masuk akal.
“Kami telah belajar dengan baik bagaimana melemahkan musuh dalam peperangan asimetris,” tegas pejabat tersebut menunjukkan keyakinan Iran.
Sebelumnya, Iran juga dilaporkan telah menyerang fasilitas minyak milik perusahaan Inggris di Erbil, Irak, serta pangkalan militer Inggris di Siprus.
Fasilitas minyak utama milik perusahaan Inggris Castrol yang berlokasi di Erbil dilaporkan terbakar hebat setelah dihantam serangan drone Iran pada awal April 2026.
Pada akhir Maret 2026, pangkalan militer AS di Suriah juga menjadi sasaran serangan drone dan roket yang diduga berasal dari kelompok yang didukung Teheran.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok