Repelita Jakarta - Iran disebut tidak akan sepenuhnya percaya pada gencatan senjata dengan Amerika Serikat dan bersiap menghadapi kemungkinan kecurangan di balik kesepakatan tersebut.
"Iya, karena kalau kita lihat dalam sejarahnya Amerika Serikat bukanlah pihak yang bisa dipegang betul komitmennya di Timur Tengah dalam memastikan perdamaian. Apalagi di eranya Trump," kata Pengamat Timur Tengah Pizaro Gozali Idrus dikutip dari kanal YouTube tvOne pada Rabu (8/4/2026).
ADVERTISEMENT
Menurut Gozali, Presiden AS Donald Trump kerap berubah pikiran dan dikelilingi tokoh-tokoh konservatif yang gandrung akan perang, seperti Menteri Pertahanan Pete Hegseth.
Jika gencatan senjata ini dilanggar oleh Amerika, Gozali meyakini Iran akan melakukan pembalasan yang jauh lebih besar daripada sebelumnya.
"Ini akan menjadi the long war, perang yang sangat panjang yang bukan tidak mungkin, negosiasi berkali-kali dilakukan itu akan kemudian ditolak mentah-mentah oleh Iran," katanya.
Pengalaman buruk selama negosiasi sebelumnya menjadi alasan utama mengapa Iran kini sangat berhati-hati dan memiliki rasa trauma yang besar terhadap Amerika.
"Dan sekarang Iran pasti sangat berhati-hati, jangan-jangan ini tipuan ketiga dilakukan oleh Amerika Serikat kepada mereka. Ada rasa trauma yang sangat besar dalam diri orang-orang Iran. Mereka tidak bisa mempercayai Amerika," ucapnya.
Meski demikian, Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran telah menerima gencatan senjata selama dua minggu dan akan bernegosiasi dengan AS di Pakistan mulai Jumat (10/4/2026).(*)
Editor: 91224 R-ID Elok