Repelita Jakarta - Gejolak geopolitik di kawasan Timur Tengah kian memanas setelah Teheran secara resmi mengajukan tujuh syarat ketat kepada Washington.
Persyaratan mutlak tersebut harus dipenuhi terlebih dahulu jika pihak barat menginginkan jalur pelayaran internasional di perairan strategis tersebut kembali normal.
ADVERTISEMENT
Keputusan final terkait penutupan total jalur energi dunia itu disampaikan langsung oleh seorang pejabat tinggi yang mengerti betul dinamika internal pemerintah setempat.
“Selat Hormuz akan tetap ditutup sampai tujuh syarat yang telah disetujui pejabat tinggi Iran tersebut dipenuhi,” ungkap sumber internal tersebut pada hari Minggu tanggal 13 September 2026.
Di tengah jalan buntu diplomasi global, Kementerian Luar Negeri Iran dijadwalkan melangsungkan perundingan terbatas di Kesultanan Oman pada hari Senin esok.
Agenda pertemuan yang turut melibatkan delegasi Irak serta sejumlah negara kawasan Teluk Persia itu berfokus pada pembahasan skema koridor pelayaran aman.
Kendati demikian, draf kesepakatan awal antara Teheran dan Oman sama sekali belum menyinggung opsi pencabutan blokade penuh atas jalur perairan vital tersebut.
Mekanisme yang berhasil disepakati baru sebatas pemetaan jalur darurat serta sinkronisasi teknis pengaturan lalu lintas kapal komersial yang melintas.
Kebijakan drastis menutup jalur pelayaran internasional ini merupakan buntut panjang dari agresi militer gabungan yang dilancarkan pihak barat dan sekutunya awal tahun ini.
Tepat pada tanggal 28 Februari silam, serangkaian serangan udara menghantam berbagai fasilitas strategis di wilayah kedaulatan Iran dan langsung dibalas telak.
Walaupun sempat meneken nota kesepahaman penghentian pertempuran pada pertengahan Juni, ikrar perdamaian tersebut hanya bertahan dalam hitungan pekan.
Konflik bersenjata kembali berkobar tanpa ada kejelasan arah penyelesaian damai yang komprehensif bagi stabilitas kawasan internasional.
Lumpuhnya aktivitas perkapalan di jalur choke point minyak dunia ini memicu kepanikan luar biasa bagi perekonomian global yang sangat bergantung pada pasokan energi.
Lonjakan harga komoditas minyak mentah dan gas alam cair meroket tajam di pasaran internasional akibat terputusnya rantai pasok utama dunia. (*)
Editor: 91224 R-ID Elok