Berita, Timur Tengah

Gagal Total! Rusia Ledek Cara AS Negosiasi dengan Iran

Repelita.net

28 April 2026 09:58 WIB • 961 view

Gagal Total! Rusia Ledek Cara AS Negosiasi dengan Iran
Foto: Istimewa

Repelita Moskow - Rusia akhirnya angkat bicara menanggapi kebuntuan negosiasi antara Amerika Serikat dan Iran, dengan melontarkan kritik pedas terhadap metode diplomasi ala Washington.

Mikhail Ulyanov, utusan tetap Rusia untuk organisasi internasional di Wina, dengan tegas menyebut pendekatan keras yang selama ini diterapkan AS telah gagal total.

ADVERTISEMENT

Menurut Ulyanov, Amerika Serikat sudah terlalu terbiasa bermain api dengan mengandalkan senjata ultimatum serta ancaman kekuatan militer.

Gagal Total! Rusia Ledek Cara AS Negosiasi dengan Iran: "Pemerasan Tidak akan Pernah Berhasil!"

"Amerika Serikat sudah terbiasa menjalankan negosiasi dari posisi kuat, dengan ancaman penggunaan kekuatan militer atau pengetatan sanksi," tulis Ulyanov di akun X miliknya pada Senin, 27 April 2026.

Ia menambahkan bahwa metode seperti itu jelas-jelas tidak akan pernah berhasil ketika berhadapan dengan Iran yang sudah terbukti tangguh.

"Pemerasan, ultimatum, dan tenggat waktu sepihak tidak akan pernah membuahkan hasil," tegas diplomat Rusia tersebut menyoroti kegagalan demi kegagalan Washington.

Pernyataan keras ini muncul di tengah situasi yang semakin rumit, di mana perang yang dipicu AS dan Israel sejak 28 Februari lalu belum menunjukkan tanda-tanda mereda.

Dunia sempat berharap pada Pakistan yang ditunjuk sebagai mediator, namun harapan itu pupus setelah Donald Trump membatalkan perjalanan utusan khususnya ke Islamabad.

Dengan arogan, Trump menyebut Amerika memegang kendali penuh dan Iran hanya bisa menunggu panggilan telepon darinya.

"Tidak ada yang tahu siapa yang memegang kendali di Iran, termasuk mereka sendiri. Kami memegang semua kartu!" tulis Trump di Truth Social.

Namun realitas di lapangan berkata lain, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi justru meninggalkan Pakistan dan terbang ke Moskow untuk bertemu Vladimir Putin.

Keputusan Teheran mengabaikan Islamabad dan memilih Rusia sebagai mitra strategis menjadi tamparan keras bagi supremasi AS di kawasan.

Kremlin pun seolah mengirim pesan terselubung kepada Washington agar segera menghentikan gaya diplomasi ala koboi yang sudah usang.

"Sudah saatnya Amerika Serikat meninggalkan pendekatan yang menyerupai pemerasan," demikian bunyi draf pernyataan Ulyanov yang beredar luas.

Di tengah semua itu, peringatan Iran mengalir deras, termasuk larangan bagi AS untuk mengatur kedaulatan Selat Malaka yang merupakan milik Indonesia.

Ali Akbar Velayati, penasihat pemimpin tertinggi Iran, menegaskan bahwa keamanan Hormuz dan Malaka adalah urusan kekuatan regional, bukan kekuatan asing.

Seperti diketahui, militer AS saat ini tengah gencar mencegat kapal-kapal tanker Iran di perairan Asia, bahkan hingga menyita sejumlah kapal kargo.

Sebagai balasan, Iran memperketat cengkeraman di Selat Hormuz dengan menutup jalur dan memungut pajak dari kapal yang melintas, mengancam pasokan minyak dunia.

Presiden Iran Masoud Pezeshkian pun angkat bicara, menegaskan bahwa negosiasi harus adil dan negaranya tidak akan mundur meskipun diancam akan dihancurkan.

"Kami hanya menginginkan hak-hak kami. Jika seseorang tidak membela diri, mereka akan mati," kata Pezeshkian menandaskan sikap tegas Teheran.(*)

Editor: 91224 R-ID Elok

TAGS: #

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Advertisement

Top Articles

Statistik Pengunjung